Aku Masih Ingat, Sahabat

Aku masih ingat, bagaimana kau merajuk karena
candaanku. Dan kau bilang aku harus menjadi sahabatmu. Baru kau tak marah lagi.
Aku masih ingat, bagaimana kau memohon untuk pertama
kalinya agar aku singgah di rumahmu. Sebab, banyak tugasmu terbengkalai waktu
itu, dan kau minta aku membantumu.

Aku masih ingat, bagaimana perasaanmu saat ku
gandeng tanganmu ketika kita berjalan beriringan. Katamu, bukan main senangnya.
Aku masih ingat, bagaimana kau menarik tanganku
ketika aku sedang dijahili saat ulang tahunku. Katamu, aku harus pergi. Padahal
saat itu aku hanya ingin menyelesaikan masalahku. Lucu, ternyata aku hanya
sedang dikerjai oleh teman-temanku. Dan kau pun terkena getahnya.
Aku masih ingat, ketika kau punya panggilan baru
untukku. ‘Tupai’. Entah apa sebabnya. Katamu aku “kecil-kecil cerdik”. Padahal
itu kan julukkan untuk kancil. Ah peduli apa, toh aku tetap senang.
Aku masih ingat, ketika dulu kau slalu memintaku
untuk terus di sampingmu. Untuk terus bersamamu. Bahkan kau bilang, kau hanya
punya aku. Katanya, kau bahagia sebab ku mau menjadi sahabatmu.
Namun..
Aku juga masih ingat, ketika liburan kita tak
seindah liburan sebelumnya. Tiba-tiba saja kau susah dihubungi. Apa kau tahu
saat itu aku sedih?
Aku juga masih ingat, ketika seseorang menyuruh kita
untuk menjauh. Sampai sekarang aku tak mengerti mengapa. Apa salahku. Kau
sempat bilang, aku tak perlu takut. Sebab kau janji kau akan terus bersamaku.
Dan kini aku ingat, bagaimana caramu berubah.
Tiba-tiba saja kau labil. Mudah diatur, padahal ku tahu kau orang yang sangat
keras kepala. Kau tiba-tiba saja menjadi penakut. Asal kau tahu begitu miris
hatiku melihatmu saat ini. Aku tak masalah, jika kau berubah semakin membaik.
Dan aku akan sangat berterima kasih pada seseorang. Tapi.. Sudahlah. Kau bilang
biarlah waktu yang menjawab. Buatku waktu tak kan menjawab, sebelum kau
menjawabnya sendiri. Waktu itu tergantung dirimu jua!
Ya. Aku masih ingat itu semua. Sampai saat ini
aku belum menemukanmu kembali. Rasanya kau bukan kau. Kau berubah menjadi orang
lain.
Maafkan aku yang ternyata tak bisa menuruti titahmu
untuk terus berpura-pura membencimu. Mereka bilang, kenapa aku harus takut. Dan
kenapa kau tak bisa tegas dan jujur? Hei, kau sudah berpengalaman menjadi
pemimpin bukan. Dan mereka suka cara kepemimpinanmu yang tegas!
Kalaupun kau ada waktu membaca tulisan ini. Sekali
lagi aku hanya ingin bilang MAAF.
Ku harap kau mengerti, mengapa aku begitu keras
kepala. Ingin sekali rasanya berontak membantumu. Membantumu untuk kembali
seperti sedia kala. Sampai kapanpun, aku tak bisa mengerti mengapa aku harus
membencimu. Kalau kau bilang kau ingin balas jasa kepadanya, bukan begini
caranya. Sudah ku ingatkan, yang ada kau hanya akan menyakiti hatinya.
*Sepotong cinta untuk seseorang yang sampai kapanpun
akan ku panggil ia sahabat. 

*Untuk seseorang, aku harap kau bisa memberinya
kebahagiaan yang nyata. Agar kau mendapat perhatian dan kejujuran yang utuh
darinya.

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, Bookish,

2 comments to “Aku Masih Ingat, Sahabat”

You can leave a reply or Trackback this post.
  1. sapti nurul hidayati - Oktober 23, 2016 Balas

    Jadi penasaran apa yang terjadi sesungguhnya..he3..tapi biasanya persahabatan dua orang perempuan agak "beda" kalau ga mau.dibilang merenggang ketika berkeluarga..apalagi kl dlm perkawinan yang dijalani ada beberapa kendala yang msh harus diatasi..krn bg perempuan menikah itu benar2 bisa mengubah semuanya. Tp apapun itu, semoga sahabat mbak delina baik2 saja…

    • adedelina - Oktober 23, 2016 Balas

      Hehehe. Aamiin, makasih Mbak 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.