Kesukaan saya menulis mungkin karena didikan orang tua juga. Dari kecil orang tua saya suka sekali membelikan buku. Hingga akhirnya kesukaan membaca itu pun mengalir begitu saja. Dan kini menghasilkan saya yang sangat suka baca buku dan menulis. 
Orang tua saya mungkin bukan tergolong kalangan atas. Makanya buku-buku yang dibelikan pun kebanyakan hanya buku bekas. Tak apa, Ade kecil juga tak mengerti. Yang ia tahu buku itu masih bagus. Layak sekali untuk dibaca. Bahkan cerita-ceritanya pun seru. 
via Pixabay
Saya tidak tahu pasti mereka mendapatkan buku-buku itu dari mana. Karena saya hanya menerima dan membacanya tanpa pernah mempertanyakannya. 
Tapi suatu kali saya pernah diajak ke sebuah tempat. Aduh lupa namanya. Kwitang di Senen mungkin? Ah entahlah. Yang jelas waktu itu saya minta buku paket sekolah pada ayah ibu. Bukan dibelikan di sekolah, ayah ibu justru mengajak saya ke tempat perbelanjaan buku-buku murah. Ya, di sanalah saya mendapatkannya. Bahagia rasanya. Karena bisa mendapatkan harga yang jauh lebih murah daripada yang dijual di sekolah. 

Buku bekas, kenapa tidak? 

Makanya hingga kini saya masih suka tergiur dengan harga buku yang lebih murah. Bahkan saya tidak pernah mempedulikan apakah itu baru atau bekas. Selama masih layak dibaca, kenapa tidak? 
Saya pernah disuruh suami untuk beli buku yang judulnya 60 Second Manajemen Stres. Karena sudah lama sekali, buku itu sudah jarang dijual. Alhasil saya cari-cari di toko online. Dan ketemulah di sebuah marketplace. Ternyata bukunya bekas. Tak apa. Toh kondisinya masih bagus. Alhamdulillah dapat juga. Dan sekarang bukunya masih tersimpan rapi di rumah.

Beberapa kali saya juga diberikan buku oleh teman-teman. Kadang lewat giveaway, kadang juga diberi secara cuma-cuma. Walaupun kondisinya sudah tidak baru, Alhamdulillah masih layak sekali untuk dibaca.

Ya, bagi saya esensi sebuah buku tidak dinilai dari baru atau bekasnya. Selama itu buku asli, buku itu akan terus berharga sepanjang perjalanannya. 

Buku bajakan? BIG NO

Yang justru lebih menyedihkan adalah jika itu buku baru tapi bajakan. Ya, saya pernah terjebak pada harga murah.

Ceritanya saya kepingin beli sebuah buku. Tapi terbentur harga yang cukup mahal bagi saya saat itu. Alhasil saat saya menemukannya secara online dan harganya jauh dari harga buku aslinya, tanpa pikir panjang saya langsung tergiur.

Begitu sampai di rumah, saya mulai curiga, kenapa sampulnya seperti pudar dan tidak timbul layaknya buku biasa? Benar saja, pas dibuka isinya, tinta tulisannya sangat pudar bahkan beberapa nyaris tak terbaca. Dan setelah dibaca, kertasnya mudah robek. Sampulnya pun nyaris robek. Ah dua kali saya tertipu seperti itu. Sungguh jahatnya si pembuat buku bajakan. Semoga ia diampuni, hiks.

Ternyata, saya belum tahu bahwa jika buku apalagi buku baru terbit dan dijual jauh dari harga normal, kita harus waspada. Sebab bisa jadi itu buku bajakan. Alias buku yang dibuat tanpa izin. Cetakkannya pun menggunakan cetakan murah, hiks.

So, jika ditanyakan apa saya suka buku bekas? YA, selama itu BUKAN buku bajakan. Warna kuning, terlipat, ada sedikit coretan, tidak mengurangi esensi sebuah buku. Karena yang lebih penting adalah buku itu masih bisa dibaca dan bermanfaat sepanjang hayat. 
Kalau teman-teman bagaimana? Apa pendapatmu tentang buku bekas?

16 thoughts on “Buku Bekas, Kenapa Tidak?”

  1. Buku bekas banyak yg kujual mbak, dalam kondisi masih bagus, karena mesti ada space utk buku baru. Kalau utk beli, asalkan bener2 langka dan kuinginkan, ya beli aja. Eh, udah hari ke7 ternyata, saya belum nulis apa2.

  2. Samaaaaaaa ^o^.. Akupun ga prnh nasalah ama buku bekas asal bukan bajakan dan masih lengkap halamannya.. Lah skr ini aku berburunya buku bekas mba :D. Nyari novel zaman anak2 kayak STOP, novel agatha cristi, komik dragon ball, topeng kaca.. Mau nyari yg baru udh ga nemu hahahaha.. Malah buku bekas itu yg bikin aku suka, krn wangi kertasnya yg khas :D. Itu kenapa sanpe skr aku ttp lbh suka buku real, drpd buku online..

  3. Saya menjadi kutu buku karena buku bekas
    di daerah saya tidak ada namanya toku buku baru dan gramedia dulu
    yang ada hanya toku buku bekas
    jadi setiap sepulang sekolah selalu mampir hanya untuk baca baca, kalau di lihat menarik saya beli untuk lanjut membacanya di rumah
    selain dari beli saya juga rajin membaca di perpustakaan, selain gratis juga kan
    dan kebiasaan itu terjadi sampe sekarang
    walaupun sekarang sudah bisa membeli buku di gramedia, tapi kadang ada buku lama yg saya cari itu tidak ada di gramedia, alhasil tetep mencari di tempat buku bekas
    selama masih bisa di baca dan bermanfaat kenapa tidak
    jgan hanya di lihat dari sampulnya saja kan tapi lebih ke isinya hehe

  4. Saya lebih suka dengan buku bekas, apalagi buku pelajaran. karena biasanya terdapat cactatan-catatan kecil dari pemilik lama terhadap buku itu. ntah itu salah ketik, atau jawaban kunci soal, ha ha.

    lain cerita kalau soal novel, menurut saya lebih baik beli bekas. dari deretan novel yang di punya, belum pernah minat baca ulang novel tersebut. sehabis baca, jadi semacam tidak terpakai, mending beli bekas saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *