Rasanya cukup mengerikan di era media sosial ini. Jika tak pandai jaga sikap, maka bersiaplah untuk diserbu netizen. Apalagi jika kesalahan kita tergolong ‘berat’ maka bukan tidak mungkin kita juga dibully.

Ini karena saya habis baca postingan Mak Witri tentang Bully, Budaya atau Tradisi? Alih-alih terpikir menceritakan pengalaman pernah dibully, saya justru kepikiran hal lain. Apalagi saat beberapa hari lalu membaca beberapa postingan di facebook dan blog seseorang yang juga tidak jauh dari tentang bully. Intinya, menurut mereka – yang bisa saya tangkap, seburuk apapun kesalahan orang lain, akan lebih baik jika kita tidak membullynya. Tapi fokus bagaimana memperbaiki diri saja. Toh si pelaku kesalahan sudah cukup dewasa untuk tahu apa kesalahannya. Dan pasti sudah lelah menerima bully-an sana-sini.

Kenapa kita dibully?

Benar sih, ada baiknya kita tidak membully mereka. Karena membully hanya akan menambah berat beban mereka. Tapi di sisi lain, netizen bersikap seperti itu lantaran perbuatan si pelaku kesalahan sendiri. Katakanlah dia melakukan atau memposting sesuatu di media sosial yang melanggar norma masyarakat atau bahkan agama ataupun berlaku SARA, maka bisa dipastikan netizen akan bersikap reaktif. Kita pun pasti sudah paham bagaimana perilaku netizen. Segalanya dengan cepat menjadi viral bila sesuatu itu memang dirasa ‘luar biasa’. Kasarnya, siapa suruh melakukan itu. Sudah jelas-jelas media sosial dilihat orang banyak. 
Sebelum saya dijudge, hehe. Jadi begini, dalam hidup ada yang namanya konsekuensi. Apapun tindakan kita, sudah pasti memiliki konsekuensi. Maka soal bully, bisa jadi hal itu adalah konsekuensi atas tindakan kesalahan yang kita lakukan. Dengan kata lain, lihat dulu mengapa kita bisa dibully. Apa alasan mereka membully. Kalau memang mereka melihat kita sudah melanggar norma masyarakat atau agama tadi, maka kitalah yang seharusnya mulai introspeksi. Tapi kalau kita tidak merasa melanggar, barulah kita bisa protes. Sayangnya, soal merasa ini kadang menjadi bias. Ada orang yang memang tidak merasa, jadi harus menerima konsekuensi dulu barulah tahu bahwa tindakannya sudah melanggar.

Nah yang salah adalah ketika si pembully lupa bahwa dia juga manusia yang PASTI pernah melakukan kesalahan. Dan kebanyakan hanya membully, menghakimi tanpa mau memberi atau tahu solusinya apa. Maka wajar jika yang dibully merasa telah dihakimi dan dicemarkan nama baiknya.

Semua ada di tangan kita

Berat ya. Intinya sih, kita harus tahu bahwa di era media sosial ini kita harus berhati-hati atas apapun yang kita posting. Kalau memang tidak mau mencari masalah, ya jadilah orang yang biasa-biasa saja dalam artian tidak melanggar norma.

Kedua, saat kita menemukan orang yang kita tahu dia sudah berbuat salah, daripada membully lebih baik ingatkan secara personal. Jangan mengingatkan di status atau komentar. Karena ya sama saja akan membuat malu orang yang berbuat salah tadi.

Intinya lebih bijak saja. Kita tahu media sosial beresiko, maka bagaimana caranya kita meminimalisir resiko buruk, semua itu ada di tangan kita. Sama halnya dengan dunia nyata, semua tindakan pun pasti ada konsekuensinya 🙂

16 thoughts on “Kenapa Kita Dibully?”

  1. Akhir akhir ini saya malah mikir, "Jangan ngomong anti-bullying kalau masih ketawa liat orang kepleset, jatuh atau tak sengaja terbentur". Buat saya salah satu mental bully melekat sejak kecil ya mulai dari bibit itu, ditambah merasa lucu ketika melihat tontonan Tom & Jerry.

  2. Orang jaman dulu bilang hukum karma.
    Jaman sekarang istilahnya :
    Lu jual gua beli.
    Ada sebab dan akibat.

    Yg miris itu dibully bukan karena kesalahannya.
    Misal anak kuper bin minder di sekolah.
    Atau emak kikuk yg suka saltum…
    Nah itu yg kasian.

  3. Iya ya mba, intinya mah bersikap bijak saat dibully maupun terbesit keinginan untuk mengingatkan orang.. Semoga kita senantiasa dituntun untuk bersikap yang baik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *