Tempo hari, saya pernah menulis tentang Mentor Kehidupan. Tapi saat beberapa hari lalu kemudian saya membaca tulisan seseorang di sebuah media, saya jadi tergelitik untuk ikut bersuara. Maksud tulisannya kurang lebih mengatakan, bahwa sebaiknya kita tidak perlu percaya pada orang-orang yang berprofesi sebagai motivator. Karena motivator-motivator itu hanyalah profesi yang mengambil keuntungan. Atau garis besarnya, sesungguhnya motivator terbesar adalah diri kita sendiri.

Kesombongan adalah bentuk dari ketidak rendah hatian menerima perbedaan

Motivator terbesar memang ada dari dalam diri sendiri. Tapi tidak serta merta menjadikan kita manusia yang sombong dengan meremehkan atau bahkan menghina orang-orang yang baru termotivasi karena kata-kata atau tindakan orang lain.
https://pixabay.com/id/titik-embun-matahari-pagi-cermin-1373998/
Sering hati manusia berbicara, tapi tidak sedikit yang keras kepala dengan dirinya sendiri. Maka itu sebabnya, ada orang-orang yang karena dipengaruhi oleh seseorang atau suatu kejadian, membuatnya justru berubah menjadi lebih baik yang padahal kata-kata itu sudah sering ia dengar.

Manusia tidak pernah sama

Sayangnya sering kita lupa. Bahwa perilaku dan kebiasaan manusia itu berbeda-beda. Barangkali kita bisa termotivasi karena diri sendiri. Tapi ada manusia di luar sana, yang baru termotivasi saat ia ‘dikerasi’ oleh orang lain atau suatu kejadian. Saya contohnya. Berapa banyak kalimat yang sudah terngiang-ngiang dalam diri saya namun saya abaikan. Berapa banyak tindakan yang salah akibat kecerobohan saya sendiri. Dan saat kemudian ada yang mendampingi saya. Yang memotivasi saya walaupun hanya dengan kata-katanya, entah kenapa saya justru merasa lebih termotivasi untuk – harus – berubah. 
Ya, saya memang pernah menulis bahwa itu merupakan suatu bentuk penyesalan. Karena ternyata apa yang dikatakan orang lain, sama persis dengan kalimat yang sudah terngiang di dalam diri saya. Tapi ketika justru orang lain yang mengatakannya, barulah saya percaya. Bahwa ternyata diri saya benar. 

Motivator dari luar yang berpengaruh pada diri kita

Maka itu sebabnya. Profesi trainer, psikolog, perencana keuangan, motivator, atau pun mentor-mentor bisnis atau suatu profesi masih ada. Bahkan seorang guru dan ustadz pun yang tujuannya mengajar dan berdakwah, sesungguhnya kehadiran mereka juga untuk memotivasi. Hingga seorang penulis bukan tidak mungkin kehadirannya bisa memotivasi.

Barangkali sudah menjadi tugas mereka untuk memotivasi para awam seperti kita untuk segera bertindak. Agar kita tidak lagi mengabaikan kata-kata yang sebenarnya sudah muncul dari dalam diri tadi. Karena terkadang, kita lebih percaya orang lain. Terlebih orang yang kita rasa lebih baik, lebih bijak, lebih berpengalaman. Hingga akhirnya kita dengan mudahnya terpengaruh. Barulah motivasi yang timbul dari dalam menjadi lebih kuat. Untuk kemudian kita baru bertindak sesuai kata-kata yang sudah dilontarkan oleh para motivator tadi.

Ironi memang. Kita justru lebih percaya pada kata-kata orang lain dibanding diri sendiri. Tapi mungkin itu sebabnya kita diciptakan sebagai makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Agar pada akhirnya, kita bisa lebih mempercayai diri. Mulai ‘menurut’ pada diri sendiri. Hingga kita tidak lagi mengabaikan kalimat kebaikan-kebaikan yang sesungguhnya sudah tercipta dalam diri kita.

14 thoughts on “Mengapa Seorang Motivator Masih Ada?”

  1. Meski kita tahu apa yg sebaiknya kita lakukan, tapi kadang kita malas memulai. Untuk itulah kita juga butuh motivasi dari orang lain. 🙂

  2. iya, motivator itu memang diperlukan karena buat memacu semangat. Tapi kadang orang sering tanpa sadar menginginkan kesempurnaan dalam diri motivator itu padaha kan menurutku sih ya dia tetap manusia biasa sih.. pasti ada salahnya juga. Dan jika sang motivator salah, jangan kesalahannya yang diikuti tapi kebenaran yang disampaikan saja yang harus diingat

  3. Aku perasaan pernah baca tentang ini tapi lupa dimana, yang jelas dari yang pernah aku baca juga kita mesti butuh motivator karena mesti terus direminder gtu. Jadi memang perlu ada profesi itu…duh jadi penasaran pgn buka lagi ada penjelasan yang make sensenya. xixixi

  4. Nah kalau maslaah ini mungkin pemaparan saya begini mba, tergantung bagaimana kita menyingkapi, bahkan cara mendapatkan motivasi terbaik versi saya itu adalah dengan membaca buku, journal atau yang lain. Contoh saya pernah membaca buku karangan dale carnigie buku yang menurut saya berbicara lengkap mengenai kepemimpinan. Banyak motivasi didalamnya. Lain lagi dengan fenomena kita sekarang. Motivator kita baru2 ini dalam pusaran badai, prihal anak. Terbukti menjadi Motivstor tak selamanya mampu diimplementasikan apa yang telah diucapkan tapi jika disiapin dengan bijaksana maka kita dapat hikmahnya hehe. Slaam kenal mba ya maaf terlalu panjang, saya memang orang yang suka diskusi.

    1. Yap beda orang, beda cara ya. Membaca juga bisa memotivasi. Tapi perkara motivator yang tidak melakukan apa yang dikatakannya, nah ini dikembalikan lagi pada orangnya hehe. Krn hanya dia dan Tuhan yang tahu di balik layarnya 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *