Sekarang siapa sih yang tidak kenal istilah BAPER a.k.a bawa perasaan. Entah munculnya dari mana kata ini. Tapi semakin ke sini saya malah merasa gara-gara kata baper, jadi banyak yang meremehkan urusan perasaan orang lain. Padahal, setiap orang ya memang punya perasaan. Terlepas dari saya sebagai penulis wanita yang (katanya) memang dominan memakai perasaan, tapi toh laki-laki pun juga punya perasaan kan? Intinya ya semua punya perasaan, karena punya hati.

http://contohcara.com/arti-singkatan-baper/

Sensitifitas setiap orang berbeda

Terlebih di media sosial. Kata ini sering digunakan sebagai bahan candaan. Entah dari satu status atau postingan di blog misalnya. Lalu ada komentar yang sedikit sensitif. Bagaimana ya, saya juga pernah sih menulis soal baper di sini. Tapi saya mikir ulang. Saat kita mencandai orang “ih baper ih baper.” Nah apakah orang itu tidak tersinggung? Apakah yang bercanda itu tahu bahwa bisa saja orang yang ‘diejek’ baper itu memang orang yang cukup sensitif? 
So, poinnya adalah: ternyata kita tidak bisa meremehkan sikap atau komentar sensitif dari orang lain. Dengan kata lain, janganlah buru-buru menjudge bahwa dia baper. Kaku banget. Mainannya perasaan. Dikit-dikit pakai perasaan. Ya itu tadi, karena sensitifitas setiap orang itu berbeda. Bisa jadi apa yang menurut kita biasa saja, bagi orang lain itu tidak. Bisa saja apa yang menurut kita lucu, bagi orang lain itu menyakitkan. Bisa saja apa yang menurut kita pantas, bagi orang lain itu menyinggung.


Menjaga perasaan orang lain

Mungkin ini sebabnya ada salah satu hadits yang berkata: 

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq β€˜alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47) – Sumber: https://muslimah.or.id/5118-bicara-baik-atau-diam.html

Karena lagi-lagi, kita tidak tahu isi hati manusia yang terkandung perasaan di dalamnya. Dengan kata lain, ya kalau memang kita tidak bisa berkata baik, daripada menyinggung orang lain ya lebih baik kita diam.

Menjaga perasaan diri sendiri

Pada akhirnya kembali juga ke diri kita sendiri. Daripada mengatur orang lain dan kita tahu hal itu bukan hal yang mudah, maka lebih baik mengatur pikiran sendiri. Tidak buru-buru berpikir negatif saat orang bicara. Tidak berpikir negatif saat membaca status orang lain. Agar pikiran negatif itu tidak merasuk ke hati yang ujung-ujungnya jadi terbawa perasaan.
Halah, mudah sih ya ngomong. Karena saya sendiri kadang masih suka sebal saat diledek atau dibilang baper. Tapi ya mau bagaimana lagi. Well, saat kita tahu bahwa hal itu tidak enak, ya tinggal kita sendiri yang – supaya ke depannya untuk tidak sembarang bicara pada orang lain untuk menjaga perasaan mereka πŸ™‚

So, please stop say “baper”! -____-

18 thoughts on “Please Stop Say “Baper”!”

  1. Setuju mba Ade.. Sensitivitas orang itu beda2, nggak bisa dipaksakan sama levelnya dan sama topiknya dengan kita.

    Sama. Saya selama ini selalu risih sama orang yang ngatain orang lain baper. Kadang suka pengen iseng komen di bawahnya, "ecie cie yang baper ngatain orang baper". Hihi, tapi untungnya nggak sih. Anggap aja khilaf, cuma ya itu, risih aja bacanya.

  2. Iya suka sebel gue kalo diledek baper, padahal emang kadang mereka yang mulutnya keterlaluan. Tapi gue sendiri juga harus belajar jaga ucapan, takutnya ada orang yang baper juga kalo gue salah ngomong :s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *