Saya kecewa. Lebih tepatnya kecewa pada diri saya sendiri. Sibuk hingga tidak sempat menulis. Padahal, niat saya ngeblog ini adalah kuat dengan motto one month min. one post. Tapi melihat postingan bulan kemarin hanya tiga buah entah mengapa rasanya miris sekali. Kerjaan yang menumpuk, tugas kuliah yang mengharuskan saya begadang hingga malam hari karena sudah mepet deadline. Ah, mungkin itu hanya alibi. Abaikan. Bukankah segalanya dilihat dari niat? Kalau niatnya saja sudah lemah, bagaimana pelaksanaannya? Lancar tidak, yang ada malah tidak terlaksana. Benar memang, segalanya harus dilihat berdasar prioritas. Lho, berarti blog tidak termasuk prioritasmu De? Harusnya tidak begitu. Lalu hening.


Jika akhir tahun identik dengan resolusi, maka ada baiknya sebelum itu kita sejenak merefleksi diri. Apa-apa yang sudah kita lakukan, apa saja kesalahan yang harus diperbaiki dan kebaikan yang patut dipertahankan. Terkait blog, saya sendiri sering bilang, bahwa saya kagum dengan segala tulisan yang sudah saya torehkan. Kok bisa sih saya menulis itu? Yah, begitulah ekspresi seringnya. PD banget yah? Tapi kalau harus memilih tulisan mana yang menurut saya paling berkesan mungkin tulisan So, Please…. Februari lalu.

Aneh, benar-benar aneh. Kenapa juga harus tulisan ini yang mendapat komentar terbanyak sepanjang sejarah blog ini? Padahal kalau saya baca-baca lagi, postingan itu rasanya ‘kurang ajar’. Apa-apaan seperti mengkritik blog orang lain. Padahal siapa juga saya? Blogger profesional? Oh jauh. Penulis handal? Ah apalagi ini, jangan ditanya jauhnya pakai sekali dan banget. Tapi ah sudah terlanjur terposting apa boleh buat.

Tulisan itu saya buat saat sedang getol-getolnya blogwalking. Karena jalan-jalan itulah, saya menemukan beberapa blog yang aduhai sekali mengganggunya untuk saya. Tanpa pikir panjang, senang sekali akhirnya saya dapat inspirasi menulis. Tulisannya sendiri saya buat di kantor. Seperti biasanya, setelah menulis saya share di tiga komunitas, Kumpulan Emak Blogger, BlogCamp dan Warung Blogger. Eh tanpa diduga, WB tiba-tiba mention saya dan bilang tulisan itu seru. Oh God, kok saya mendadak malu? Bagaimana ini kalau ada blogger yang saya sebutkan di salah satu alasannya? Dan benar saja ada salah satu blogger yang memasang musik di blognya, aduhaaai nah lhooo?

Hari-hari berikutnya, saya masih harus menyetujui beberapa komentar. Alamaak, tidak menyangka sekali komentarnya banyak. Lebih malunya saya malah jadi tempat pertanyaan, “Blogku gimana? Berat ga? Bagus ga?” dan sebagainya. Duh, Mbak, Mas, saya nulis ini cuma iseng kok :))

Tulisan ini benar-benar subjektif sekali. Hanya dilihat dari mata saya. Maka dari itu, di So Please 2 (ya ampun belum puas ternyata) saya bilang, terserah, siapapun boleh setuju dan tidak. Lagi-lagi yang namanya subjektif, jadi tidak perlu diambil hati (menurut saya lho ya).

Dari tulisan ini saya belajar kehati-hatian. Hati-hati ketika kita memilih ruang publik untuk menunjukkan ekspresi kita. Sebab di zaman yang semakin canggih ini seringkali banyak kesalahan penafsiran. Mungkin sudah cukup sampai So Please 2, dan rasanya memang tidak perlu lagi saya menjabarkan apa-apa yang tidak saya suka. Biarlah itu semua menjadi urusan masing-masing penikmat blog. Bukankah apa yang kita suka, orang lain belum tentu suka? Begitu juga sebaliknya.

Semoga 2015 saya tetap bisa istiqomah ngeblog. Tanpa alibi, tanpa mencibir.

β€œPostingan ini diikut sertakan dalam lomba tengok-tengok blog sendiri berhadiah, yang diselenggarakan oleh blog The Ordinary Trainer”

21 thoughts on “Sudah Benarkah Niat Ngeblog Saya?”

  1. sekarang..sudah tahu kan gimana rasanya kalau blog kita sendiri yang dikoreksi? hihi. tapi saya senang kamu bikin ajang GA seperti kemarin. setidaknya sebagai koreksi diri, karena saya juga pernah begitu.

    so please…
    jangan sampai lupa dengan niat ngeblognya yaaa^^ dan lbh rajin sharing n BW

  2. Kalau saya sudah bener. Untuk menuliskan sesuatu yang terlintas di otak saya sama menuliskan momen-momen tak terlupakan. Untuk lainnya semisal bisnis hanya sampingan semata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *