Kalau boleh dibilang, saya tergolong orang yang tidak cukup komunikatif secara langsung. Mungkin itu sebabnya saya lebih suka berbicara dengan bahasa tulisan. Karena tidak jarang saat bicara saya tidak bisa mengontrol emosi. Alhasil maksud yang tadinya ingin saya sampaikan, jadi meleber kemana-mana dan tidak tersampaikan dengan baik >_< Mungkin ini sebabnya juga saya lebih sering menjadi pendengar.
https://pixabay.com/id/dewasa-komunikasi-lucu-wajah-18086/

Karena saya lebih sering jadi pendengar ini, makanya saya selalu jadi tempat penampungan curahan hati teman-teman sejak masih sekolah. Bahkan sampai saat ini pun masih menerima beberapa curhatan. Lantaran curhatan-curhatan itulah barangkali saya bisa mengambil beberapa kesimpulan selama saya menjadi pendengar mereka. 

Saya belajar bersyukur.

Seringkali orang curhat karena sedang bermasalah. Entah dengan dirinya sendiri atau orang yang berkaitan dengan hidupnya. Hingga cerita itu bisa sampai di telinga saya barangkali untuk membuat saya sadar. Bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki masalah.

Cukup sering saat saya sedang mengeluh, tiba-tiba saja saya mendapat curhatan tentang masalah yang lebih rumit daripada masalah pribadi saya. Mungkin ini juga bentuk peringatan dari Allah, agar saya hendaknya selalu melihat ke bawah dan tidak cepat mengeluh. Karena masalah saya ternyata tidaklah seberat orang lain.

Saya belajar rasa empati.

Bukan satu dua kali sepertinya saya ikut merasakan apa yang sahabat saya rasakan saat bercerita. Entah perasaan itu dari mana. Tapi barangkali inilah yang dinamakan rasa empati. Setiap kali mereka bercerita tentang kesedihannya, saya selalu merasa diri saya ada di dalam masalah mereka. Setiap kali mereka bercerita tentang kebahagiaannya, saya selalu masuk ke dalam kebahagiaan itu. 

Saya belajar berhati-hati dalam bersikap.

Biasanya ini lebih karena – saat teman-teman mengeluhkan masalah sikap orang lain padanya. Saya jadi ingin lebih berhati-hati dalam bersikap. Semisal, ada teman yang sedih atau marah karena merasa disakiti oleh orang lain, itu artinya saya tidak boleh menyakiti orang lain. Ada yang dikhianati, itu artinya saya tidak boleh mengkhianati orang lain. Jika suatu saat niat jahat saya melanda, maka saya belajar mengingat masalah teman-teman saya.


Saya belajar untuk bijaksana.

Hal terberat saat menjadi tempat curhat adalah saat diminta memberi solusi. Sederhana saja saat saya pernah mengalami masalah yang sama, mungkin saya bisa memberi solusi apa yang pernah saya lakukan saat dulu mendapat masalah. Tapi yang sulit adalah ketika saya belum pernah mendapat masalah itu. Alhasil, biasanya saya selalu memposisikan diri sebagai si teman yang sedang mendapat masalah. Saya berusaha untuk memberi jawaban sebijak mungkin. Mungkin saja hal ini berguna saat saya sendiri mendapat masalah serupa. Dengan kata lain, solusi itu menjadi pengingat bagi saya sendiri.

Saya belajar menjadi pendengar yang baik.

Saya selalu ingat nasihat seorang bijak, bahwa seringkali orang hanya butuh didengarkan. Saat ia ada masalah, yang menjadi kebutuhannya adalah orang yang mau mendengarkan keluhannya. Pun begitu halnya saat orang bahagia, orang butuh tempat untuk yang mau mendengarkan cerita kebahagiaannya. Di sini saya belajar untuk menahan diri untuk tidak bicara selagi dia memang tidak meminta saya untuk bicara atau bahkan memberikan solusi.

Sampai sini, saya bersyukur bisa menjadi seorang pendengar. Karena ternyata, banyak hal yang bisa saya pelajari dari setiap cerita yang masuk. Terlepas dari apakah saya bisa memberi solusi atau solusi yang saya berikan berguna atau tidak, bagi saya yang terpenting teman-teman sudah mendapatkan seseorang yang mau mendengarkan segala ceritanya. Karena saya selalu percaya, bahwa didengarkan adalah kebutuhan setiap manusia. Karena didengarkan pula seseorang akan merasa dihargai keberadaannya 🙂

8 thoughts on “Saya Belajar dari Menjadi Seorang Pendengar”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *