Ada seorang wirausahawan, yang ceritanya dia membuat sebuah aplikasi. Niatnya sih mungkin untuk memudahkan orang lain. Tapi ternyata ada pelanggannya yang tidak mengerti cara memakai aplikasi tersebut. Alih-alih si wirausahawan membenahi aplikasinya, dia justru malah menyebut pelanggannya dengan kata GAPTEK. Bahkan dia mengartikan bahwa GAPTEK = MALAS.
Kisah di atas itu kisah nyata. Wong dia posting sendiri statusnya begitu. Dia nulis di facebooknya secara terang-terangan tentang ada pelanggannya yang GAPTEK. Suami malah ketawa sendiri sih baca statusnya 😂
Kalau dipikir, ya emang lucu juga sih. Saya jadi ingat drama Jepang, Rich Man Poor Woman yang belum lama ini saya tonton. Jadi ceritanya Hyuga Tohru, si tokoh utama sedang membuat aplikasi. Ketika dia menyuruh Makoto, anak buahnya mencoba, ternyata Makoto tidak bisa. Dan Hyuga akhirnya mengerti, kalau orang biasa aka tidak pintar saja tidak mengerti, berarti harus ada yang dibenahi cara penggunaan aplikasinya. Tentu saja supaya orang biasa pun bisa mengerti. Dengan kata lain, supaya aplikasi tersebut mudah untuk digunakan semua orang.
Begitulah yang seharusnya dilakukan wirausahawan yang bilang pelanggannya GAPTEK tadi. Sebab SALAH BESAR kalau dia menganggap pelanggannya gaptek. Karena seharusnya yang harus dibenahi bukan pelanggan tersebut, tapi aplikasinya yang mungkin sulit dipahami.

Belajar menjadi gelas kosong 

via Pixabay
Mungkin hikmahnya di sini kita harus belajar untuk TIDAK merasa bahwa diri menjadi yang paling pintar dan paling tahu. Karena ketika kita menganggap diri sudah paling tahu, maka kita tidak akan bisa menerima masukkan. Bahkan bisa-bisa kita akan menganggap orang lain itu bodoh. Padahal bukan orang lain yang harus disalahkan, tapi cara kitalah yang seharusnya dibenahi.

Sama seperti kita belajar menjadi gelas kosong. Gelas yang kosong ibarat kita merasa diri bodoh (belum tahu), dengan begitu maka akan mudah untuk diisi apa saja, mudah diberi masukkan. Tapi ketika gelas kita sudah terisi atau penuh, maka ketika diisi isinya akan jadi tumpah-tumpah.  Kita akan sulit menerima masukkan dari orang lain.
Dalam kehidupan Belajar Menjadi Gelas Kosong memang harus kita terapkan dimana dan kapanpun. Khususnya:
  • Saat kita bertanya atau meminta saran/nasihat.
Kalau kita lagi nanya sesuatu atau minta saran/nasihat dari orang lain, ya harusnya kita dengarkan penjelasan orang tersebut sampai tuntas. Kalau perlu ikuti saran dan nasihatnya. Jangan menyanggah apapun dengan teori kita. Lha wong kita lagi nanya dan minta saran, kok malah ngeyel sendiri. Aneh. Tau gitu nggak usah nanya aja. Ya kan, malah ngeselin kalo dieyelin 😂

  • Saat minta pendapat, maka terima apa saja pendapatnya. Bukan disanggah. 
“Eh bentar lagi gue kan ngelahirin nih. Menurut lu, kereta bayi itu penting nggak sih? 
“Nggak terlalu sih. Kan bisa digendong aja. Atau bisa minta gantian sama bapaknya.”
“Tapi kan pegel kalo digendong terus. Mending pake kereta bayilah. Si bayi jadi bisa ditaro.”
“Ya udah terserah. Kalo mau pake ya pake aja. Ngapain tadi lu nanya.”
Lucu ya kalau ada kejadian di atas. Mungkin kita juga pernah mengalami 😁 Kita nanya pendapat, tapi ketika orang yang dimintai pendapat menjawab, kita malah merasa pendapat sendiri paling benar. Yah atuh gitu ngapain mintaaa. Da gagal paham jadinya 😂

  • Saat belajar, maka jangan sok tahu. 
Ini yang sering disampaikan orang-orang bijak. Setinggi apapun kita merasa diri pintar, tapi saat kita mau mencari ilmu, membaca buku, kosongkanlah diri kita. Supaya kata-kata atau masukkan dari  buku, pemateri, mentor, atau guru kita mudah diterima. Dengan begitu, ilmu akan lebih cepat masuk.

Semakin kita banyak menuntut ilmu, kita akan merasa diri semakin bodoh. Semakin bodoh, kita akan haus terus dengan ilmu. – Unknown

  • Saat kita membuat atau menjual produk, maka jangan menganggap orang SAMA pintarnya dengan kita. 
Nah ini yang saya cerita di awal tadi. Kalau misal kita membuat atau menjual produk, ya JANGAN menganggap semua orang bisa mengerti. Tapi justru tempatkan posisi kita sebaliknya. Kita anggap TIDAK semua orang mengerti. Maka dengan begitu, kita bisa bijak menerima masukkan orang lain. Atau kita bisa membuat atau menjual produk yang sederhana. Yang mudah digunakan. Karena ingat sekali lagi, bahwa tidak semua orang bisa mengerti sebagaimana kita mengerti.
Belajar menjadi gelas kosong sepertinya tidak sulit ya. Kita hanya perlu merasa rendah (kosong). Agar lebih bisa menerima ilmu, dan menerima masukkan dari luar. Sehingga tidak ada lagi yang harus tumpah dan jadi sia-sia 😊

22 thoughts on “Belajar Menjadi Gelas Kosong”

  1. Bikin aplikasi disesuaikan dengan end user emang penting, mb ade. Karena yang nantinya make kan mereka. Hehe. Kayak gojek itu udah gampang dipakainya baik sama emak2 gaptek sekalipun.
    Kalau kata mb nilam baba rafi, pengenalan produk itu yang paling makan waktu karena ga semua orang ngerti. Hehe

  2. Baca kata kereta bayi, jadi pengn beli. Abis ini lairan nih. Doakan lancar yah..
    Kalau selalu merasa paling pintar akan rugi sendiri karena gak mau belajar lagi

  3. Kalau merasa diri paling pandai, kapan kita belajar? Padahal ilmu manusia itu ibarat setetes air di lautan. Ngemeng-ngemeng soal gaptek, akulah yang termasuk hehehe… Untung aku tidak belajar kepada sang wirausahawan, bisa-bisa aku dijuluki ratu gaptek de…

  4. Kok jadi pengen ketawa ya atas perbuatan si pembuat aplikasi, hahahaha…

    Kadang, malah sering ding, mengosongkan gelas itu sulit sekali. Makanya banyak orang yang suka ngomong tapi tidak suka mendengarkan.

    Salam kenal dari Jogja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *