Tuesday, 26 August 2014

Buku Anak dan Bimbingan Orang Tua

Kalau dulu bukan karena kakak yang hobi baca tabloid/majalah dan orang tua yang dengan sengaja membelikan saya buku, mungkin sampai saat ini saya bisa-bisa jadi anak malang yang tidak suka baca. Dulu, orang tua senang sekali membelikan saya majalah dan buku-buku anak. Mulai dari buku majalah bergambar, kumpulan cerpen hingga novel. Namun sayang, saya yang saat itu masih SD, juga sudah hobi sekali baca cerita-cerita remaja dari majalah kakak. Maka tak heran kalau sejak itu saya sudah mengenal istilah pacaran. Orang tua jarang memperhatikan. Hanya tahu bahwa saya suka membaca. Padahal, harusnya untuk usia segitu, saya belum pantas membaca cerita-cerita seperti itu. 

Baru-baru ini santer kabar pula tentang salah satu buku yang memuat konten yang dirasa tak pantas apalagi untuk dibaca anak-anak. Sebenarnya kalau melihat detail, di sampul buku sudah jelas tertera tulisan Untuk Remaja. Bimbingan Orang Tua. Tapi yah, terkadang masyarakat kita suka cepat menyimpulkan tanpa melihat dengan jelas dulu. Meski begitu, untuk budaya kita konten tersebut memang kurang pantas. Untung saja beberapa hari lalu pihak penerbit sudah menariknya dari peredaran.

Mungkin ini jadi anjuran juga untuk para orang tua agar selektif memilih apa yang pantas dan tidak pantas untuk anak. Sangat disayangkan jika anak, dewasa sebelum waktunya. Apalagi anak sekarang bisa dibilang jauh lebih kritis, bimbingan orang tua tentu diperlukan.

Di luar itu, kalau melihat kondisi buku-buku anak saat ini, bisa dibilang sudah sangat bervariasi. Gambar-gambar dan isi yang lebih berwarna. Tentu hal ini akan membantu meningkatkan minat baca anak. Apalagi di tengah kecanggihan teknologi saat ini. Tak jarang, bukupun dibalut dengan hard cover. Yang mungkin disayangkan, justru dengan sampul seperti ini, harga yang ditawarkan akan lebih mahal. Meski begitu, untuk anak, sampul ini memang cocok agar tak mudah rusak.

Jika dibandingkan negara lain, mungkin minat baca negara kita masih terbilang rendah. Namun optimisme tetap tak boleh luntur, selama masih banyak yang berminat menjadi penulis terutama penulis buku anak. Dan bimbingan orang tua untuk tetap terus menanamkan minat baca buku pada anak.

8 comments:

  1. Eh, pengalaman masa kecil kita sama Mak, ortu suka belikan majalah anak waktu kecilnya kami dulu ^_^

    -----
    bit.ly/VPzE5v

    ReplyDelete
  2. Bener sekali ini.. anak itu senantiasa perlu mendapatkan bimbingan. Bimbingan dari orang tuanya. Bagaimana pun, anak itu tergantung, pada ortu. Terutama peran ibu.

    Sip, artikel di atas ini perlu mendapatkan perhatian bagi para org tua. Atau calon orang tua.

    ReplyDelete
  3. Memang sebaiknya peran orangtua lebih ketat untuk mengawasi buku bacaan anaknya. Jgn sampai terjadi anak2 kita membaca buku yg kontennya belum boleh untuk mereka...

    ReplyDelete
  4. Bener banget nih. Negara Indonesia niat membacanya masih kurang. Tapi, ya itu deh. Semangat kita sebagai WNI nggak boleh luntur untuk terus membangun NKRI menjadi lebih baik lagi :)

    ReplyDelete

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...