Wednesday, 12 November 2014

Mereka Bukan Keinginan Kita

Tidak akan bisa menjadikan mereka keinginan kita. Sama halnya kita yang tak bisa menjadi keinginan mereka.

Mungkin kalian akan sedikit bingung dengan kalimat di atas. Bukan. Saya bukan ingin membuat ‘label’ kata-kata seperti biasa yang saya lakukan. Memang kemarin-marin entah kenapa banyak ide berkelebat dalam otak saya tentang cara menyampaikan sebuah makna tanpa harus terang-terangan memberitahunya. Tapi kali ini hanya sebuah – meminjam istilah Azhar Nurun Ala tentang – kontemplasi pikiran saya tentang subjektifnya sebuah tulisan. Oh dalam tulisanpun kita tidak bisa menyenangkan semua orang.

Benarlah jika penulis bijak bilang bahwa tugas penulis sudah selesai ketika ia selesai menulis, sisanya terserah pembaca. Jeleknya, saya pernah berpikir bahwa setiap penulis harus menjelaskan apa yang ditulisnya agar pembaca tidak salah mengartikan. Tapi dalam beberapa tulisan tidak bisa seperti itu. bahkan pernah saya temukan penulis yang benar-benar menyerahkan hasil tulisannya pada pembaca. Terserah mau bilang bagus atau tidak. Terserah mau diartikan seperti apa.

Benar-benar subjektif. Kita sebagai penulis tidak bisa memaksakan bahwa semua orang harus menyukai tulisan kita. Mungkin si A suka tapi si B tidak. Mungkin C bilang tulisan ini bagus, tapi si D bilang itu biasa saja. Kita tidak akan bisa membuat semua ‘setuju’ dengan tulisan kita. Toh mereka bukan ingin kita, kitapun bukan ingin mereka. Coba saja kita balikkan pada diri sendiri, bahwa kita dituntut harus menyukai si A padahal hati kita bilang si A biasa saja, nothing special. Enak? Tentu tidak. Lagi-lagi mungkin yang bisa kita lakukan hanyalah menuruti dan melakukannya sesuai kata hati, ah  hati tak pernah bohong bukan. Dan satu, totalitas. Kita akan dapat totalitas itu kalau kita melibatkan hati sepenuhnya.

Maka begitu halnya dengan buku. Dari sini saya sadar, oh saya tahu mengapa buku yang saya bilang bagus belum tentu bagus menurut orang. Dan buku yang dielu-elukan orang bisa saja tak semenarik yang saya kira. Karena memang pada dasarnya manusia memiliki rasanya masing-masing.

Sebenarnya ini bukan saja terkait dengan tulisan, tapi bahwa dalam segala aspekpun sama. Seperti yang pernah saya tulis di sini. Hidup ini memang bukan tentang mereka. Bagus, buruk ya hanya diri kita sendiri. Kebaikan dan keburukan orang lain, bisa jadi itu adalah kumpulan perilaku kita selama ini. Lagi pula sudah Tuhan jelaskan, bahwa apa-apa yang menimpa kita ya karena diri kita sendiri.


Lalu untuk apa sering kita khawatir, takut kalau orang tidak menyukai kita. Selama yang kita lakukan baik dan tak menyalahi aturan bukankah ada Tuhan Maha Menjaga? Dan satu hal yang sadari, mungkin kehidupan ini memang subyektif. Sebab memang kita hidup dan mati masing-masing kan :)

2 comments:

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...