Friday, 2 September 2016

What's on 23 Years Old?

Sejak dulu, mungkin tepatnya setelah usia 17 tahun. Setiap kali saya ditanya usia, saya jarang menjawab "baru 19 tahun" atau "baru 23 tahun". Pasti saya akan jawab "Sudah 23 tahun." Ya, saya jarang menjawab dengan kata 'baru'. Alasannya, supaya saya sadar diri bahwa usia saya semakin tua. Jatah hidup pun berkurang. Maka dengan kata 'sudah' membuat saya lebih berhati-hati lagi dalam bersikap. Saya sudah umur segini lho, masa kelakuan masih gitu aja. Saya sudah umur segini lho, bukan waktunya lagi saya main-main. Kecuali jika saya dibilang umurnya lebih tua, baru saya menjawab dengan kata 'baru'. Eh tapi jarang juga sih, yang ada saya dianggap anak kecil terus karena badan saya kecil kali ye -_-

Nah sekarang saya sudah 23 tahun. Apa saja sih yang sudah saya lakukan dan sudah saya capai. Aduh, setiap bicara usia pasti pikiran saya langsung melanglang buana menjadi perenungan diri. Mbak Diah, paling bisa deh bikin temanya tentang usia >.< Yap. Marilah kita review satu-satu.
pict from https://pixabay.com/id/jam-waktu-wajah-kuning-64265/
edit Canva by me

Saya tidak lagi memasang tanggal lahir di media sosial

Ih ini sih penting nggak penting ya untuk diinfoin haha. Dulu saya memasang tanggal lahir saya di media sosial Facebook. Tahu sendiri kan Facebook, kalau ada yang ulang tahun muncul tuh notifikasinya di beranda bahwa ada teman kita yang sedang berulang tahun. Nah saya senang. Karena saya dapat ucapan selamat dari banyak orang :v 

Tapi sekarang saya justru malas memasang tanggal lahir. Sebab kebalikannya, saya jadi malas juga meladeni puluhan notifikasi yang memberikan ucapan selamat :v Sebenarnya sih, yang bikin malas karena ada rasa sedih juga. Di satu sisi saya dapat ucapan selamat dari banyak orang. Bahkan dari orang yang tidak saya kenal di dunia nyata sekalipun. Di sisi lain, orang-orang terdekat saya malah tidak ada yang memberikan selamat -_- huhu syedih, syedih, syedih. Makanya, dengan tidak memasang itu, saya jadi tahu. Seberapa banyak sih orang-orang terdekat yang benar-benar mengingat tanggal lahir saya. Tanpa dikasih tahu Facebook lagi tentunya.


Penting tidak sih ucapan selamat?

Jujur, sampai sekarang saya masih senang kok kalau ada yang mengucapkan selamat setiap hari ulang tahun saya. Di luar dari beberapa keyakinan bahwa mengucapkan selamat ulang tahun tidak perlu, saya merasa dihargai saja. Saya merasa diingat, ketika mereka mengingat tanggal lahir saya. Yes, sesederhana itu. Apalagi keluarga dan teman-teman saya sudah jauh sekarang. Secara saya sudah di Surabaya. Jadi kalau ada dari mereka yang sengaja BBM, WhatsApp ataupun SMS untuk sekedar mengucapkan selamat ulang tahun, ya saya merasa masih ada harganya di mata mereka :') Hehe meskipun ini tidak bisa jadi patokan bahwa kalau teman saya tidak mengucapkan selamat, berarti lupa pada saya ya.

Sekarang, rasa ingin diingat tanggal lahir itu sudah mulai berkurang. Kalau masih diingat ya syukur, tidak ya tidak jadi masalah. Karena semakin dewasa kok rasanya, ya tidak begitu penting dapat ucapan selamat, yang penting do'anya saja *eh. Makanya, saya lebih senang jika dapat ucapan yang disertai do'a. Menurut saya ini lebih tulus saja hehe. Kalaupun mereka tidak ingat, bagi saya ya no problemlah. Toh, seperti yang tadi saya bilang, mengucapkan selamat ulang tahun tidak bisa jadi patokan orang-orang lupa pada saya. Jadi memang lebih santai saja. Sebelumnya kan, masih ada rasa sedih kalau sepi dari ucapan selamat hehe.

Renungan apa ya?

Cita-cita saya sejak kecil jadi penulis. Yes, karena saya memang suka baca. Barangkali saat ini sudah tercapai, saya jadi blogger. Tulisan saya dibaca banyak orang. Biarlah saya belum melahirkan satu buku tunggal pun. Yang penting orang-orang bisa menikmati tulisan saya dan merasakan manfaatnya. Rasa terima kasih merekalah yang membuat saya semangat untuk tetap menulis :')


Yang kedua, barangkali saya mesti banyak-banyak merenungi soal ibadah yang sepertinya semakin ke sini kok semakin berkurang semangatnya >_< Saya tidak mau menyalahkan anak ah, karena setiap aspek kehidupan, saya sadar bahwa semua adalah tentang diri sendiri. Karena hidup ini tentang apa sih kalau bukan buat ibadah :')
http://tifanyputrisahara.blogspot.co.id/2015/08/qs-az-zariyat-ayat-56.html
Apalagi sekarang saya sudah punya anak. Kalau suami pernah bilang, jadi ibu itu justru harus lebih banyak do'anya, ibadahnya. Mungkin untuk bekal anak juga ya :)

Selain itu, dari segi penampilan, saya harus lebih rajin merawat diri nih. Seperti kata Mbak Diah di tulisannya. Banyak makan makanan yang bergizi, menulis, membaca, mempelajari hal-hal baru, menghargai orang lain supaya saya juga dihargai, dan sering-sering membaca Al-Qur'an :') 

Terakhir, yang pasti saya mau jadi orang biasa-biasa saja, maksudnya tidak neko-neko dengan bertingkah aneh-aneh supaya jadi terkenal, tidak. Saya mau tetap seperti ini saja. Tetap menulis, tetap menebar manfaat bagi orang lain. Karena tulisan inilah yang barangkali bisa jadi penolong saya di akhirat kelak :')

Do'a saya, semoga saya, kita semua, kehadirannya selalu bermanfaat bagi orang banyak. Dan dipanggil-Nya dengan cara yang khusnul khatimah. Aamiin :')

16 comments:

  1. aaamiin, aaamiiin, aaamiiin.

    paling tertampar itu ketika tahu bahwa orang besar zaman dulu itu di usia muda sudah begini dan begitu sementara saya masih nol.

    Zaid bin Tsabit misalnya, di usia belasan sudah menguasai banyak bahasa. Lalu di usia muda sudah jadi juru tulis Rasulullah dan menuliskannya ke dalam bahasa asing!

    Masya Alloh. Belum ada google translate lhoh ya.

    Juga para pahlawan negeri sendiri. Di usia awal dua puluhan sudah jadi intelijen negara.

    Hiii...merinding karena takjub dengarnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masya Allah ^o^ Apalah kita dibanding mereka ya. Orang-orang dulu memang sepertinya lebih produktif ya

      Delete
  2. Sama mba.. aku pun ingin jd org yg biasa2 aja.. yg introspeksi diri ketika ulang tahun tiba. Dan ga mau terkenal krn hal yg aneh2.. sesimpel itu tp ternyata ga mudah ya hehehe

    ReplyDelete
  3. wah cita2 kita sama mbak ade, saya juga pingin jadi penulis dan maka dari itu saya ngeblog. yuk kita nulis buku mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whua kalo nulis buku saya belum bisa nentuin satu tema Mbak. Kalo blog kan lebih random hihi :v

      Delete
  4. Me too, Mba Ade, pengin biasa-biasa aja tapi tetap mengoptimalkan apa yang ada. Setidaknya semoga saja, dengan label 'biasa aja' bisa menebar manfaat ya mba. Ditunggu bukunya terbit :D...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh jangan ah Mbak >.< Saya tidak mau menjanjikan >_<

      Delete
  5. aamiin... semoga berkah selalu umurnya.
    Ya Allah, ternyata jauh lebih muda dari saya :)

    ReplyDelete
  6. aamiin... semoga tambah umur tambah bahagia..berkah
    duh... jadi sungkan manggil mak... lah tuiran kita..he2

    ReplyDelete
  7. dulu ketika masih kecil sampai remaja, saya senang kalau ultah. tapi sekarang... setiap ultah saya justru syedih... karena waktu saya utk nabung buat di 'sana' semakin mepet waktunya. kadang saya suka mbatin sendiri: duh... jangan ultah dulu deh.... hihihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hiks iya, kalau ultah sebenarnya jatah hidup menjadi berkurang ya Mbak :'(

      Delete

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...