Yang pertama terbesit dalam benak saya saat mendengar kata #CintaiHidup adalah bersyukur. Ya. Menurut saya, bagaimana orang bisa mencintai hidupnya jika ia tak bersyukur. Hmm bersyukur. Satu kata, simple. Apa kita sudah menjalankannya? Aah, ngga usahlah jauh-jauh ke kita. Diri sendiri dulu aja. Saya dulu deh. Masya Allah kalo diliat-liat, ternyata saya masih banyak mengeluhnya dibanding bersyukur. 
Memang. Adaaa saja yang membuat kita bisa mengeluh. Padahal sebenarnya kalau ditinjau dalem-dalem sedalem sumur, *ceileeh* apa enaknya sih mengeluh? Coba bandingkan ketika denger temen aja, denger temen ngomong “Aduh” sama denger temen ngucap “Alhamdulillah,” ademan mana? Kayaknya ademan yang kedua ya. Saya mikir kalo punya temen yang sehari-harinya ngucap “Aduh” waduh *upzh* yang ada makin ruwet saya. Itu baru kalo denger temen. Sekarang coba kita yang ngucap aduh. Apa dengan aduh lantas pikiran jadi lega? Pikiran jadi plong tak ada beban? Masalah kita terselesaikan? *Silahkan ditelaah sendiri dah hehe* Beda hal nya ketika setiap hari kita coba ucap “Alhamdulillah.” Wuih apapun kejadiannya kalo ngucap “Alhamdulillah” beuh rasakan sendiri sensasinya. Hati bener-bener lega, yang tadinya keluhan jadi kesyukuran, pikiran pun plong alhasil tercapailah solusi.
Seperti sekarang, banjir dimana-mana. Hujan awet banget. Nah jadi sasaran empuk deh buat ngeluh. “Udahan dong ujannya, banjir nih.” “Aah ujan mulu.” “Repot nih kalo ujan.” Dan keluhan-keluhan lainnya. Sama kayak saya di rumah. Kamar saya sempat bocor, lalu ibu bilang, “Beruntung masih bocor aja, liat tuh yang pada banjir.” Astagfirullah, iya ya. Yang lain pada kebanjiran, saya disini masih bisa tidur nyenyak tanpa harus mikirin mau ngungsi kemana. Maka bukan dengan aduh kamar saya jadi nggak bocor, tapi dengan bergerak buat nadangin itu bocor. Trus ngucap “Alhamdulillah, masih bocor aja.” Lagi pula, bukankah hujan sejatinya berkah?
Demikian pula dengan konteks kehidupan yang lain. Kalau kita saja bisa menemukan alasan untuk mengeluh, maka sama hal nya dengan bersyukur. Selalu ada yang bisa kita syukuri. Salah satunya indra kita yang masih berfungsi dengan baik. Mata, telinga, tangan, kaki. Berapa banyak yang ingin sekali melihat dunia yang luas, mendengar dengan normal tanpa harus menggunakan bahasa isyarat, yang ingin menulis dengan tangannya yang sempurna bukan dengan satu tangan atau bahkan dengan kaki, yang ingin berjalan dengan dua kaki sempurna bukan dengan tongkat atau terseok-seok? Mari kita belajar bersyukur, #CintaiHidup kita. Tapi juga bukan berarti mencintai dengan berlebihan, cintai sewajarnya. 
β€œHiduplah sesukamu, tapi engkau pasti mati. Berbuatlah sekehendakmu, tapi engkau akan dimintai pertanggungjawaban. Cintailah siapapun yang kau dambakan kecuali Allah, tapi kau pasti kan berpisah darinya.”

Apapun langkah hidup kita, kelak di yaumil akhir semuanya akan dihisab dan dimintai pertanggungjawaban. Semoga dengan syukur, bisa memperingan langkah kita menjawab pertanyaanNya dan menuju jannahNya. Yuk kita sama-sama #CintaiHidup, perbanyak syukur πŸ™‚

9 thoughts on “#CintaiHidup, Perbanyak Syukur”

  1. Memaknai Hidup amatlah berarti, namun lebih dari sekedar hidup, maka harus bermakna dan oleh karena itulah hidup akan berarti jika kita bisa berbagi dengan yang lain. Itulah prinsip menysukuri nikmatnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *