“Ibu-ibu dulu punya banyak anak fine-fine aja, masih bisa ngelakuin banyak hal. Ibu-ibu sekarang, baru punya dua anak aja udah minta me time-me time.”

“Ibu-ibu dulu kayaknya ga banyak ngeluh, ibu-ibu sekarang capek sedikit, ngeluh, ngadu di media sosial.”

pict: http://www.memobee.com/perbedaan-cara-bergosip-pria-dan-wanita-729-myreview.html, edit by me
Pernah dengar komentar-komentar seperti itu? Saya yakin pasti pembaca sudah tidak asing dengan dua kalimat di atas. Tapi apa benar kejadiannya seperti itu?
Sebelumnya, saya pun berpikiran sama. Iya ya, ibu-ibu dulu kayaknya nggak gampang ngeluh tuh, kok sekarang kayaknya ibu-ibu banyak yang ngeluh?
Tapi setelah membaca status seorang teman di facebook, yang kurang lebih mengatakan, “yakin ibu-ibu dulu nggak pernah ngeluh? Dulu kan belum zamannya media sosial. Mana tahu kalau bisa saja diam-diam ibu kita punya keluhan yang sama. Barangkali ibu-ibu kita juga ingin me time karena lelah dengan urusan rumah tangga. Ya bedanya karena dulu belum zamannya media sosial, jadi nggak ter-ekspose.”
See? Thats point! Ya, akhirnya saya berpikir ulang. Benar. Beda dulu, beda sekarang. Dulu, belum zamannya media sosial. Jangankan media sosial, kehadiran handphone saja barangkali masih menjadi hal yang ‘wah’. Kalaupun ada internet, kegunaannya pun bukan seperti sekarang. Sekarang, semua lebih bebas. Terbuka. Apapun bisa disampaikan lewat media sosial hingga perasaan atau curahan hati. Tapi dulu? Yang ada bisa jadi orang tua kita belum mengerti soal internet. Lalu mau mengeluh kemana? Bisa jadi hanya orang-orang terdekat saja yang tahu.
Hmm… dari sini mungkin hikmah yang bisa diambil adalah, sampai kapan pun menghakimi itu tetap salah. Terlebih kita tidak pernah tahu kejadiannya seperti apa. Barangkali yang terlihat memang seperti itu, tapi apa kita pernah tahu dengan kejadian yang sebenarnya? Lagi pula membanding-bandingkan zaman saya rasa adalah sebuah kesalahan besar. Ini semua jelas karena peradaban yang lebih maju. Sehingga teknologi pun jauh lebih modern. Manusia lebih berpikiran terbuka dan media kebebasan mengeluarkan pendapat juga kian marak sekarang.
Jadi barangkali, bijaknya, bukan dengan membandingkan. Namun tumbuh dari kita pribadi. Sejauh mana kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan memanfaatkan teknologi yang dalam hal ini media sosial menjadi sesuatu yang lebih bijaksana ๐Ÿ™‚

24 thoughts on “Dulu VS Sekarang”

  1. sering banget mendengar dua kalimat pertama itu Mbak ๐Ÿ™‚
    intinya jangan mudah men"judge" orang yah Mbak, karena kita tidak bisa tahu apa sesungguhnya yang ada didalam hati orang lain..

  2. Setujuuu banget nih, beda dulu beda sekarang. Orang-orang emang hukumnya wajib banget untuk lebih bijak lagi dalam menanggapi dunia socmed ๐Ÿ˜€

    Hallo, salam kenal ya!

  3. kalau aku melihat ibuku dulu, waktu aku masih kecil suka duduk bareng sama tetangga, ngobrol dans aling mengerjakan hal-hal yang mereka suka. Kalau sekarang aku melihat ibu-ibu yang umurnya sama dengan ibuku dulu, saya lah contohnya, males untuk ngobrol dengan tetangga. Jadi ya, lebih suka berselancar di dunia maya. Emang lebih enak dulu keknya ๐Ÿ™‚

  4. Mamaku ITU anak ke bungsu dari 13 sodara. Dan aku udh shocked sndiri ngebayanginnya mbak, gmn nenekku dulu bisa ngurusin semua anaknya -_-. GA kebayang secapek apa :D. Aku pribadi kalo disuruh milih kerja kantoran ato jaga anak, lbh milih kantoran ๐Ÿ˜€ Beruntung msh ADA baby sitter yg bantuin.ibu2 jaman dulu mana pake kan.salut lah…

  5. intinya mah kalau suka ngeluh itu gak baik, mau di sosmed atau di dunia nyata…. tp menurutku mengeluh di sosmed efeknya jadi lebih banyak, karena audiencenya banyak,bentuknya tulisan yg mana setiap org punya interpretasi berbeda2. kalau mau ngeluh2an mah enaknya sama pasangan. dijamin lbh aman.. hihihiii paling kena timpuk kalau keseringan ngeluh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *