“Karena idealisme akan membuat kita menderita dan egois. Egois pandangan dan mengecilkan sesuatu yang tidak disuka.”

Dua kalimat yang mungkin tidak pernah saya lupakan. Yang keluar dari dosen saya di saat dulu masa-masa galau karena soal passion. 
via Pixabay
Dulu saya pengen banget jadi penulis. Tapi apa daya, jalan hidup saat itu malah memilih saya ke jalan yang sama sekali tidak pernah saya minati. Akuntansi, pemrograman komputer, oh sungguh menyiksa saya rasanya. 
Tapi dosen saya kemudian bilang, “De, ilmu itu baik semua. Kita pun harus coba menyukai hal yang tidak disukai, karena kadang yang tidak kita sukai membuat kita bahagia.”
Yang tidak kita sukai membuat kita bahagia. Bahagia dari mana? Pikir saya. Karena saya juga nggak punya pilihan saat itu. Saya merasa jalan menuju keinginan saya jauh sekali. Bahkan sempat terpikir, apa bisa? 

Ada hikmah dibalik setiap jalan yang sudah kita pilih

Tapi mungkin saya belum sadar saat itu. Lebih tepatnya belum menyadari bahwa saya masih bisa menulis. Sampai kemudian Allah menunjukkan saya jalan untuk ikut komunitas menulis dan terjun ke dunia blog. Di sinilah saya menyadari bahwa jalan hidup saya saat itu memang sudah sepantasnya. Mungkin Allah memberikan lika-liku seperti dulu untuk memberi saya sebuah hikmah. 
Nyatanya benar, karena sekolah, kuliah, dan kerja yang jauh dari passion itulah sekarang saya bisa ada di dunia menulis seperti sekarang. Di sela-sela waktu itu, saya tetap bisa menulis tanpa mengesampingkan tugas utama saya sebagai pelajar dan karyawan. Mungkin memang tidak secara langsung berhubungan dengan pelajaran dan pekerjaan dulu, tapi setidaknya sekarang saya jadi bisa tersenyum melihat masa lalu saya. 

Terkadang idealis itu tidak enak

Menjadi orang yang idealis terkadang memang tidak enak. Kita jadi tidak fleksibel menjalani hidup. Merasa bahwa hidup hanya punya satu jalan. Padahal sedang ada hikmah yang direncanakanNya untuk memberi pelajaran pada kita. Entah apapun itu. 
Benarlah apa kata tulisan saya dulu yang juga terinspirasi dari kalimat dosen saya tadi,  

Saya idealis, karena saya belum bisa membuka mata atas apa yang sudah saya capai saat ini, meskipun jauh dari keinginan saya. Saya idealis, karena saya lupa bersyukur, bahwa dibalik pencapaian saat ini ada nilai-nilai yang salah satunya bisa mengangkat derajat. Saya idealis, karena sampai saat ini hati saya belum bisa berdamai dengan keadaan.

https://www.sohibunnisa.com/2013/12/kesadaran.html

Ya, berdamai. Kita hanya butuh berdamai dengan keadaan. Apapun jalan yang kita pilih, sudah seharusnya kita terima konsekuensinya. Sebab hanya dengan penerimaan maka hati kita bisa lebih damai. 
Terima kasih, Pak. Terima kasih atas nasihat tentang idealis yang akan selalu saya tanam dalam diri saya 😊

19 thoughts on “Tentang Idealis”

  1. saya juga gak terlalu suka akuntansi, tapi alm. ayah saya ingin saya kuliah akuntansi. akhirnya saya ambil jurusan akuntansi dan skrg kerja di bag keu 🙂 Yah… saya nikmatin aja 🙂

  2. Aku dan suami yang sama-sama lulusan broadcasting ini punya beberapa temen yang memang idealis, ya ga mau kerja di luar dunia TV atau harus mesti bikin Production House sendiri. Rata rata yang idealis itu yang emang punya modal lebih dan full support dari lingkungannya sih. Beda sama aku dan suami yang udah punya keluarga kecil sendiri, nggak bisa seidealis itulah ya, bisa dapet pekerjaan yang sesuai sama kemampuan kita aja udah alhamdulillah banget. Hihii. MAkaci sharingnya ya Adeee <3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *