Terkadang saya geli sendiri. Semenjak postingan Jodoh Tak Terduga yang saya tulis Agustus lalu, dan tulisan tersebut menjadi populer, jadi banyak sekali curhatan yang masuk pada saya. Dan mendadak membuat saya seolah menjadi konsultan perjodohan. Sebenarnya ada rasa bangga dan senang karena setidaknya tulisan itu bermanfaat. Tapi rasanya, apalah saya, yang punya niat hanya berbagi cerita awalnya, lantas menjadi tempat bertanya soal jodoh. Oke, begini, bukan saya risih, saya hanya slalu berdo’a semoga tidak timbul perasaan pada diri seolah-olah sayalah paling pintar. Saya tahu segalanya. Jadi jika ada yang bertanya pada saya dan tidak mendapat solusi, maka maafkan. Saya hanya bisa berbagi apa yang dulu saya rasakan juga apa yang saya lakukan.

Sebenarnya saya juga sudah menulis di postingan Untukmu yang Masih Berharap Hadirnya Jodoh. Di sana sudah saya jelaskan panjang lebar agar para single sebaiknya tidak perlu menunggu. Sebab menunggu itu rasanya periiiih. Alih-alih menunggu si dia datang melamar, yang ada kita justru menunggu ketidakpastian. Putus asa? Sama sekali bukan. Kita hanya sedang berusaha untuk tidak menyimpan rasa lebih pada seseorang yang belum tentu menjadi jodoh kita. Sekali lagi, rasanya periiih. Karena saya pernah merasakan. Detik ini senang, bisa jadi esok sedih, disenggol dikit jadi marah bahkan kecewa. Apalagi jika si dia tak kunjung memperlihatkan tanda-tanda menyukai kita. Ah suka saja tidak, apalagi melamar. Sedih sudah sepanjang malam. Menunggu tapi pada kenyataannya tidak tahu apa yang ditunggu.
Jadi teman-temanku yang baik hatinya *pinjem quotenya ya Om Mario Teguh :)* percayalah perkara jodoh sama dengan rezeki dan usia, sudah diatur waktunya oleh Yang Maha. Dia lebih tahu kapan saat yang tepat untuk memberikannya padamu. Memang, jodoh juga perlu dijemput, tapi jika posisimu sebagai wanita dan tidak berani untuk meminang lebih dulu, alangkah baiknya simpan perasaan sucimu itu rapat-rapat. Daripada menyimpan satu nama, lebih baik serahkan kepada Allah. Karena apa yang menurut kita baik bisa jadi belum baik di mata-Nya.  Tapi jika kau memaksa tetap membiarkan perasaanmu tumbuh pada seseorang, maka sekali lagi kuingatkan, kau harus menyiapkan ruang yang suuuuuperrrr besar jika kenyataan berbeda nantinya *semoga kau paham ya.
Akan kuberi satu rahasia yang barangkali sudah umum (lah?) Apa yang membuat saya bisa melupakan rasa pada suami dulu? Saya menyibukkan diri. Sengaja membuat diri sesibuk-sibuknya. Fokus pada keluarga, kerja, kuliah, jika hari libur ikut kegiatan komunitas, seminar, kajian, atau sekadar kumpul bersama teman-teman. Maka itu sebabnya dulu ibu sering marah karena libur saya jarang di rumah -_- Hasilnya? Saya tidak ada waktu memikirkan suami. Perasaan berharap, menguap seiring banyaknya kesibukan saya. Saya jadi lupa pada harapan-harapan saya pada suami. Tapi ada kalanya juga waktu senggang. Terus, jadi ingat dia? Ya. Tapi itu wajar. Wajar karena pikiran kosong 😛 kalau senggang dipakai baca buku juga tidak hehe. Ya, kalau tiba-tiba kalian ingat itu wajar, tapi jika 24 jam hanya dipakai untuk mengingat dia rasanya akan sia-sia.
Seiring kesibukan itu pula, karena saya berkumpul dengan orang-orang yang positif (baca: orang-orang yang menjaga iffahnya) saya jadi tergerak untuk melakukan hal yang jauh lebih bermanfaat. Seperti seminar atau kajian itu tadi atau kadang juga melakukan kegiatan-kegiatan sosial. Jelas saja, karena orang-orang yang menjaga iffah ini membuat saya malu pada mereka. Mereka lebih fokus pada perbaikan diri lewat kegiatan positif, maka kenapa saya harus terkungkung pada perasaan yang bisa menghabiskan waktu saya dengan percuma? 
Barangkali itu juga yang bisa teman-teman lakukan 🙂 Kalau kalian punya cita-cita, kejar saja dulu. Punya minat terhadap sesuatu, fokuskan saja dulu. Apalagi masih punya orang tua dan keluarga, lebih baik habiskan waktu bersama mereka. Ingat saja, kalau Allah belum memberikan jodoh, barangkali kita memang diberi waktu untuk semua itu. Memperbaiki diri, membahagiakan orang tua, membantu lingkungan sekitar yang sekiranya masih membutuhkan uluran tangan kita. Atau bahkan barangkali Allah ingin agar kita meluruskan niat menikah (baca: Rumah Tangga Surga: Mendamba Bahagia Pernikahan).
Terakhir, saya punya rekomendasi video bagus dari Mas Agung Pribadi yang bisa teman-teman tonton 🙂

Jadi, lupakan saja soal perasaan pada dia ya. Tidak perlu terburu-buru. Pelan-pelan saja. Jalani sambil terus menyibukkan diri. Insya Allah, perlahan-lahan Allah beri petunjuk tentunya sembari tak lepas do’a 🙂 Percaya saja, Allah tak pernah meleset untuk menjawab do’a do’a hamba-Nya 🙂

23 thoughts on “Perkara Jodoh, Allah Tahu yang Terbaik”

  1. Makjleb ni mbak Del.. sedikit curhat, udah deket sama seseorang yg kebetulan dulu temen SMP-SMA (karena mondok di satu pesantren yg sama) udah mantap juga milih orang itu, karena pernah dihadapkan sama situasi dimana harus memilih. Eh, nggak taunya baru2 kemarin ini malah ada lagi temen yg tiba2 ngechat & ngajak ta'arufan.. Aku mesti gimana mbak Del? 😀

  2. yup bener banget perkara jodoh allah tahu yang terbaik ya mba, dulu kenal sama suami waktu jaman kuliah, dia senior di kampus malah satu pengajian dan kostnya juga deketan tapi selama kuliah 4 tahun gak pernah ngobrol atau kenal deket cuma sekedar tau aja, setelah lulus kami pulang ke kota masing2 dan gak pernah tau kabar masing2 karena emang gak terlalu kenal juga, tapi karena emang udah jodohnya kali ya, setelah aku lulus baru kerja setahun tiba-tiba dia ngontak dan 2 bulan kemudian dinikahin hihi

  3. Terkadang kita (read:saya) udah yakin banget sama orang yang sekarang deket, tapi wallahualam siapa jodohku kelak 😀

    Yang penting tetep yakim, orang baik insyaallah dapetnya jodoh yang baik juga 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *