Saya lagi suka banget bikin-bikin cemilan sekarang. Sampai suami pusing sendiri karena istrinya terus ngubek-ngubek dapur haha. Mending kalau masak berat, lah ini, cuma bikin cemilan doang 😆 Tapi yang mau saya omongin sekarang adalah tentang proses membuat cemilan itu yang berkaitan dengan kepasrahan.
Jadi setiap kali saya baca resep cemilan, saya selalu berekspektasi kalau hasilnya pasti bakal enak. Seenak di foto aslinya. Eh pas dicoba langsung, yang ada buyaaaarrr. Resep amburadul, hasilnya pun nggak seberapa enak. Walaupun masih bisa dimakan sih 😁 Tapi sebaliknya, ketika saya nggak berkekspektasi apa-apa atau malah mikir hasilnya-pasti-nggak-enak, eh jadinya malah enak lho 😍

via Pixabay

Itu namanya kepasrahan

Pas saya cerita ke suami tentang ini, beliau cuma jawab, “Itu namanya kepasrahan. Mungkin saat kita berekspektasi enak, jatuhnya kita sombong. Tapi saat kita pasrah, jadinya ya enak.” 
Iya juga ya. Saya langsung flashback ke masa-masa lalu saya. Waktu masih sangat mengharapkan suami dulu. Diharapin dari jauh-jauh hari, malah nggak datang-datang melamar. Eh giliran sama sekali saya udah nggak kepikiran, malah datang sendiri langsung ngajak nikah pula haha. Atau sesederhana ketika saya ikutan kuis atau giveaway di media sosial atau kompetisi di blog, ketika saya nggak berharap banyak buat menang, nyatanya malah menang. 
Terkesan ajaib ya. Padahal itulah yang mungkin dinamakan kepasrahan. Di saat kita tidak berkekspektasi, tidak ujub (bangga/sombong) dengan diri sendiri, kita malah mendapatkan apa yang tidak kita duga sebelumnya. Dan hal ini tentu saja lebih indah. Ini juga yang dinamakan bahwa rencana Allah jauh lebih indah.

Allah memberi sesuai yang kita butuhkan

Dan sekarang saya makin berkeyakinan bahwa Allah tuh tahu kok apa yang kita butuhkan. Kalau kita nggak dapat apa yang kita inginkan, ya artinya memang kita belum butuh itu. Tapi ketika kita pasrah, Allah malah memberi lebih, artinya memang kita sudah butuh itu. Yes, sesimpel itu ternyata.
Tapi faktanya, seringkali kita tidak bisa berpikir seperti ini. Apalagi kalau kita sangat berharap sesuatu yang sudah lama kita idam-idamkan. Berharap dapat, jatuhnya malah tidak dapat. Makanya, ya coba lagi periksa hati kita. Mungkin ada setitik kesombongan di hati. Sombong bahwa kita lebih tahu apa yang kita butuhkan. Sombong karena berpikir kita pasti dapat. Dan kesombongan inilah yang mungkin dinilai Allah hingga akhirnya Ia menahan apa yang kita dambakan.
Finally, mungkin qonaah atau merasa cukup sudah paling baik. Qonaah dalam artian kita bersyukur apapun yang kelak kita dapatkan. Hasil seperti apapun ya kita terima. Karena siapa tahu, dengan qonaah, kita sudah dihitung Allah menjadi pasrah. Dan ketika sudah pasrah, siapa tahu Allah justru memberi lebih dari yang kita inginkan 😊

11 thoughts on “Karena Membuat Cemilan, Jadi Belajar Tentang Kepasrahan”

  1. Iya yaa dlm hal lomba blog jg gt lho. Pas aku pede banget merasa tulisan bagus, ga menang, pas merasa ah biasa aja ga ngarep samsek, malah menang, ajaibbb.

  2. Aku setuju mbk. Aku juga ngerasain hal ini. Saat sering ikut lomba dan yakin bakal menang, eh malah gk menang. Gt jg sebaliknya. Kayanya memang kudu pasrah dlm ngelakuin sesuatu. Makasih sharingnya mbk. Salam, muthihauradotcom

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *