Judul: Menikah Untuk Bahagia
Penulis: Indra Noveldy & Nunik Noveldy
Tidak salah kalau banyak yang bilang buku ini seolah ‘menakutkan’, ‘bikin males bacanya’.
Tapi yang membuat saya bilang benar adalah buku ini memang benar-benar bikin
‘jleb’.
Yaph. Saat ini saya memang belum menikah, tapi saya seolah bisa
merasakan bagaimana rumitnya membangun sebuah pernikahan. Tepatnya pernikahan
yang ‘Bahagia’. Bagaimana sulitnya menyatukan dua manusia yang berlainan jenis
menjadi sebuah kesatuan keluarga. Bagaimana sulitnya membangun komunikasi yang
benar dan efektif. Serta bagaimana membangun keluarga yang sakinah mawaddah
warahmah
yang selalu jadi impian dan do’a tatkala sepasang dua insan menikah. 
Menurut saya buku ini menjelaskan secara garis besar, bahwa permasalahan yang sering
terjadi dalam pernikahan adalah karena KOMUNIKASI. Ternyata memang komunikasi
benar-benar membutuhkan knowledge dan
skill yang harus terus diasah. Tidak asal atau semaunya kita.
Sebab kita sedang berhadapan dengan manusia yang berbeda. Beda jenis, beda
karakter, beda pula isi pikiran. Kita tidak bisa bertindak atau memaksakan kehendak kita. Toh
pasangan kita juga manusia, ia sama dengan kita yang sejatinya ingin
dimengerti.
Saya
merasa beruntung bisa mendapatkan (baca: memiliki) buku ini sebelum saya menikah.
Saya bisa belajar banyak dari buku ini. Semenjak keinginan menikah itu muncul, saya merasa
Allah selalu menunjukkan berbagai macam peristiwa yang membuat saya akhirnya
banyak belajar. ‘Lho begitu ya setelah menikah’, ‘Lho kok jadi gitu sih’, ‘Kok
rumit banget kayaknya’, ‘Kenapa harus kayak gitu’.  Setelah bertemu dengan buku ini sebagian
pertanyaan saya akhirnya terjawab. Kenapa saya bilang ‘sebagian’? Ya karena
sebagian yang lainnya akan saya rasakan saat saya sudah menikah nanti. Dan saya
akan dengan nyata ‘tahu’, ‘ooh ternyata begini ya’. Ya begitulah. Setidaknya saya sudah punya pegangan bagaimana seharusnya saya bersikap nanti. Insya Allah.
Lucunya, buku ini tidak membuat saya malah takut menikah, justru rasa ingin menikah itu tetap ada. Saya seolah dituntun untuk mau: mempunyai tujuan, mengubah mindset, terus mengasah ilmu dan keterampilan saya. Sebab sejatinya hidup itu sebuah pembelajaran bukan? 

Pada
akhirnya saya punya sebuah kalimat ‘pernikahan bukan hanya sekedar tentang
cerita kasmaran, cerita tentang menyatukan dua perbedaan. Terlebih pernikahan
ialah sebuah wadah yang disediakan Allah untuk kita menjadi manusia seutuhnya.’ Maka dari itu mengapa Allah bilang bahwa menikah ialah penyempurnaan agama. Dengan adanya buku ini insya Allah saya optimis pada pandangan tentang harusnya “Menikah (memang) Untuk Bahagia.” Mudah-mudahan 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *