Sunday, 11 February 2018

Jangan, Jangan Jadi PHP

Demi apa coba saya nulis ini abis subuh yang mana masih ngantuk dan hari Minggu pula cuma buat curhat tentang saya abis diberi harapan palsu sama dua orang. Atau maaf maaf bisa disebut juga mereka PHP (Pemberi Harapan Palsu) yang ah entahlah 😞

Jadi ceritanya saya ikutan kuis/giveaway gitu dari dua orang tersebut. Hadiahnya berupa satu barang dari masing-masing pemberi giveaway. Ada deh nggak perlu saya sebutkan. Nominalnya juga nggak seberapa mungkin menurut teman-teman. Bahkan bukan barang baru juga kok. 
via Pixabay
Lah kok bekas aja pakai dicurhatin segala? Mana nilainya nggak seberapa lagi. Iya sih. Suami juga sudah ngingetin berkali-kali, "kayak gitu nggak usah ditanyainlah. Biarin aja. Toh dia aja nggak nanya. Ngapain dirimu yang repot." 

Ini tentang amanah

Oke oke, mungkin nilai barangnya nggak seberapa. Si pemberi giveaway pun santai aja tuh kalau hadiahnya nggak sampai-sampai ke saya. Cuma gimana ya, sebenarnya niat saya juga ingin mengingatkan mereka bahwa mereka masih punya amanah. Biar mereka nggak lupa dengan amanah itu. Biar mereka di akhirat nanti tenang karena tidak punya 'hutang' menunaikan sebuah amanah. Kan mereka sendiri juga yang memberi dirinya sendiri amanah. Apa salah, kalau saya ngingetin dengan bertanya bagaimana kelanjutan amanah itu? Kecuali ya kalau mereka memang dengan sengaja mengabaikannya begitu saja. Heu. 

Ini juga tentang rasa percaya

Dan ini bukan perkara soal nominal barang. Tapi juga rasa TRUST (rasa percaya) yang dibangun. Kalau dengan hal yang terkesan sepele begini saja mereka meremehkannya, boleh dong kalau kita, eh atau saya aja ding, untuk tidak memercayai mereka lagi ke depannya? Yap. Karena menurut saya, seseorang itu juga dilihat kepercayaannya dari hal kecil dulu. Kalau hal kecil aja nggak bisa dipercaya, gimana orang mau percaya dengan hal yang lebih besar? See? 


Kita butuh rasa percaya

Sorry kalau tulisan ini terkesan emosional. Mungkin ini bisa jadi pelajaran buat kita juga. Sekecil apapun hutang kita. Sekecil apapun amanah yang diberikan pada kita. Cobalah untuk menanamkan rasa percaya pada orang lain. Bukankah rasa percaya itu yang kita butuhkan di dunia ini? 

Kalau memang sekiranya tidak sanggup untuk membayar hutang, menunaikan amanah, jujurlah pada yang bersangkutan. Lagi-lagi ini untuk menghindari prasangka buruk. Jangan membuat orang berdosa karena sudah berprasangka buruk. Jangan terlalu lama menggantungkan harapan. Sebab itu sakit. Supaya yang bersangkutan tidak terlalu lama menunggu dan kecewa. 

So, mari kita tidur lagi. Eh maksudnya, mari kita bayar hutang kita. Mari kita tunaikan amanah-amanah kita. Dan mari kita membangun rasa kepercayaan orang lain pada kita. Karena dengan begitulah hidup kita bisa lebih damai. 

Cheers 😉

Kalau saya ada hutang dan amanah yang belum dibayar, tolong ingatkan ya. Dengan senang hati saya terima. 

12 comments:

  1. Poinnya di amanah ya mbak. Saya juga takut sendiri jangan-jangan saya mem-PHP orang lain.tfs mbak.

    ReplyDelete
  2. Intinya memang amanah itu harus dijalankan dengan baik. Mau kecil atau besar, amanah tetap amanah.

    Saya setuju sekali dengan pernyataan "kalau hal kecil saja tidak bisa dipercayai, bagaimana dengan hal besar lainnya?" :)

    ReplyDelete
  3. Kadang harga itu nggak penting, yg utama kepercayaan. Semoga yg bersangkutan baca ini..

    ReplyDelete
  4. Aku slalu takut kalo telanjur menjanjikan sesuatu dan ternyata ga bisa menepati. Takut banget. Takut di akhirat nanti pertanggungjawabannya gede :( . Makanya kalo aku ga yakin bisa menepati ato memberikan apa yg dijanjikan, lbh bgs diam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mbak. Kalo sekiranya nggak sanggup, ya mending ga usah sekalian.

      Delete
  5. Duh nggak enak banget rasanya, i feel you mbak. been there.. akhirnya sih cukup tau aja dan nggak percaya lagi sama orang kayak gitu. memilih untuk seperlunya aja, kalo memang pas ketemu ya sapa atau ngobrol seperlunya, tapi kalau lebih dari itu. hmm, BIG NO! hehe.

    salam kenal yaaa mbak :)

    dini//sejenakberceloteh.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak :( Kecewa hiks.

      Salam kenal juga ya Mbak :)

      Delete
  6. Isss.... Ini judul yg udah lama pengen aku bahas but blom jadi2 ditulis... Kalau mbak ke bagian produk... Saya lebih ke bagian kebiasaan temen2... Yg sering nge PHP in... N saya sbagai salah satu langganan korbannya...

    Makasih mbak telah mengingatkan... Semoga kita selalu sadar utk menghindari PHP ini ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Jangan sampai kota yg jadi 'tersangka' PHP ya Mbak :(

      Delete

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.