gelas kosong

Pengulangan dalam Belajar Itulah yang Membuat Kita Naik Kelas

Waktu saya ikut workshop healing tahun lalu, rasanya masih ada ganjalan dalam diri saya. Kok sepertinya saya kurang puas dengan hasilnya. Begitu cerita ke suami, beliau cuma bilang kalau saya mungkin lupa mengosongkan gelas. Saya ke sana bukan semata untuk belajar, tapi mencari pembenaran. Saya mau meyakinkan diri bahwa semua pikiran yang ada selama ini, itu benar.

Dan saya mengakui itu. Sepertinya niat belajar itu kurang. Tapi untunglah saat itu saya punya catatan-catatan selama workshop. Saya baca-baca ulang, saya renungkan, dan materi-materi yang diberikan mulai masuk ke dalam diri saya.

Menjadi gelas kosong itu penting

Belajar menjadi gelas kosong itu memang penting sekali. Itu membuat kita bisa lebih berkembang. Tapi jika kita merasa sudah tahu segalanya, tidak mau belajar lagi, tidak mau mengisi dengan ‘air yang baru’, maka hidup kita pun bisa jadi tidak akan kemana-mana.

Saya merasakan sendiri, hidup ini terus berproses. Dari masa ke masa banyak hal yang sudah berubah. Banyak hal yang kita kira benar, nyatanya justru keliru. Merasa diri sudah pintar, nyatanya kita belum tahu banyak hal. Selalu ingat bahwa di atas langit, masih ada langit. Selalu ingat bahwa zaman terus berkembang.

Pernah juga saya belajar di sebuah grup WhatsApp. Yang ternyata teori itu sudah saya baca berulang-ulang. Saya mengabaikan grup tersebut. Padahal mungkin saja saat itu sebenarnya saya sudah mengabaikan hal penting. Ada pelajaran yang mungkin saya lewatkan.

Begitulah, ketika kita merasa sudah tahu, kita justru menjadi abai dan sombong. Padahal bisa jadi kesombongan itulah yang membuat ilmu itu pergi dari kita. Dan akhirnya ada sesuatu yang kita lewatkan. Kalau terus-terusan merasa sombong seperti ini, maka wajar jika hidup kita di situ-situ saja. Saking terlalu banyak hal yang tidak kita ketahui.

Belajar itu pengulangan untuk naik kelas

Saya jadi paham kenapa ada yang namanya Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas. Belajar itu memang harus dari dasar. Lalu di sekolah menengah pertama, kita akan mengulang sebentar pelajaran-pelajaran dasar sebelumnya. Kemudian naik tingkat lagi sesuai pelajaran SMP. Setelah lulus, kita mengulang lagi yang ada di SMP bahkan mungkin pelajaran SD. Barulah kita bisa masuk pelajaran SMA.

Jadi lulus sekolah itu sebetulnya adalah pengulangan-pengulangan apa yang sudah kita pelajari dari dasar. Bahkan hingga kita lulus universitas pun, pelajaran dasar pasti akan selalu dibahas. Karena belajar itu memang selalu terkait.

Kalau saja waktu SMP kita merasa sombong tidak mau mengulang pelajaran dasar, kita mungkin tidak akan naik kelas. Karena ada pelajaran-pelajaran yang kita abaikan.

Pengulangan saat belajar itulah yang menajamkan pikiran kita

Demikian pula ketika kita sudah dewasa. Semua pelajaran mungkin hanya pengulangan-pengulangan, tapi justru pengulangan itulah yang membuat ingatan kita bisa terus terasah. Bahwa 1+1 = 2 lho. Bahwa kebebasan itu harus disertai tanggung jawab lho. Bahwa kejujuran itu penting lho dalam hidup ini. Bahwa aktivitas itu pakai V lho bukan pakai F. Dan seterusnya.

Jadi jika kita selalu mengosongkan gelas saat belajar apapun, niscaya akan semakin bertambah pengetahuan kita. Sekilas itu mungkin pengulangan, tapi justru itulah yang bisa meningkatkan kapasitas pengetahuan dan pemikiran kita menjadi lebih tajam lagi. Sebab semakin banyak yang diulang, semakin banyak yang dipelajari, membuat pikiran dan wawasan kita menjadi lebih luas lagi. Dan wawasan yang luas itulah yang membuat kita menjadi orang yang lebih peka di kehidupan dan mudah menerima masukkan dari mana saja.

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, Bookish,

Leave a Reply

Your email address will not be published.