Merdeka dengan Cerdas dan Positif dalam Berinternet dan Media Sosial

Kemerdekaan diartikan dengan banyak hal. Tapi sudahkah kita mengisinya dengan berinternet positif dan  memperhatikan konten-konten dalam media sosial kita lebih baik lagi? Maka hari Jum’at kemarin saya ikut Zoom Class bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Temanya bagus sekali. Yakni Mengisi Kemerdekaan dengan Postingan Positif.  Bersama tiga narasumber, tema ini dibahas tuntas. Walau terbilang singkat, tapi materi cukup padat dan sangat bisa dimengerti.

Acara ini sangat perhatian pada literasi media digital. Di mana sebaiknya kita memperhatikan apa yang harus kita bagikan di media sosial kita. Dan berpikir sebelum posting. Serta saring sebelum sharing. Harapannya, masyarakat menjadi lebih cerdas lagi dalam bermedia sosial. Sebab pemanfaatan internet terbilang tinggi di Indonesia. Apalagi di masa pandemi Covid seperti sekarang.

Bikin konten keren, gimana tuh caranya?

Menurut Mbak Amy Kamila sebagai pengisi acara pertama, konten keren adalah konten yang bermakna dan menginspirasi perilaku positif. Maka viral saja tidak cukup jika kontennya tidak bermanfaat. Dan viral, sifatnya hanya sementara. Padahal konten yang baik walau hanya ditonton 1 orang, bisa bermanfaat untuk ratusan bahkan jutaan orang.

Kenapa kita harus membuat konten? Sebab dengan konten, manusia akan terhubung dengan karya. Manusia dan karya akan mampu melampaui garis waktu dan sejarah. Dan konten yang baik, adalah konten yang menginspirasi pembaca atau penontonnya.

Lantas bagaimana kita membuat konten?

Yang pertama kali adalah tentukan alasan kita membuat konten. Sama halnya dengan membuat tujuan. Kalau bisa bukan sekadar ingin viral dan mendapatkan materi saja. Tapi mulailah dengan kebermaknaan. Satu orang yang terinspirasi lebih berguna untuk ratusan bahkan jutaan orang. Sebab yang bermakna akan lebih banyak dibagikan oleh orang-orang.

Selanjutnya tuangkan ide kita. Teori psikologi, manusia ingin terus berevaluasi, maka dalam hidup pasti selalu ada revisi. Maka tuangkan saja dari hal yang paling sederhana. Dari apa yang ada di sekitar kita. Berdasarkan permasalahan dan realita yang ada. Dan mulai dari sekarang.

Jika ide sudah didapat, maka kembangkan ide tersebut. Bebaskan ide yang ada di kepala kita. Letakkan rasa di dalam karya kita. Lalu cek ide kita dengan kesesuaian pada norma agama, konten perlindungan anak, dan norma bangsa. Dan terakhir, perhatikan apa dampak positif dan negatif di dalam karya kita.

Medianya bisa bermacam-macam. Bisa dalam bentuk tulisan, gambar, video. Beda penyampaian, tentu saja beda kemasan. Dan tentukan siapa target pasar kita. Apakah di televisi, Youtube, atau media sosial.

Hal yang terpenting disampaikan Mbak Amy adalah “Ide tanpa dimulai akan tetap menjadi ide bukan karya.” 

Kita bukan lagi perang dengan senjata, tapi kita harus berjuang di era social media

Pengisi acara ke dua tak kalah seru dari Mbak Ani Berta. Saya setuju banget nih bahwa kemerdekaan seharusnya membuat kita ikut berjuang di era media sosial. Kita bukan lagi berperang melawan penjajah dengan senjata. Tapi kita berperang di media sosial.

Saya merasakan sekali terutama di grup WhatsApp bahwa pergerakan berita begitu masif dibagikan di WhatsApp Group. Padahal berita yang dibagikan seringkali belum bisa dipastikan keabsahannya. Tapi kita tidak bisa mengendalikan orang lain. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengendalikan diri sendiri. Sebaiknya, kita selalu memverifikasi berita yang kita baca sebelum dibagikan ke grup lain atau media sosial kita yang lainnya.

Kawan juga dengan informasi. Selalu bandingkan dan kroscek dengan link-link berita yang sudah memiliki kredibilitas seperti Detik.com, Kompas.com. Jika berita tersebut baik dan valid, boleh saja kita bagikan.

Yang ketiga, amunisi edukasi. Edukasi teman-teman kita di media sosial secara karakter. Bagaimana caranya?

  • Menguatkan konten personal. Selalu posting hal yang positif. Walaupun curhat, tetap kita usahakan bernada positif. Seperti menyemangati, memotivasi. Dan saat berkomentar di ‘lapak’ media sosial orang lain, selalu hindari perdebatan.
  • Menjadi corong informasi bagi pemerintah. Turut membantu menjadi corong informasi bagi pemerintah. Misalnya berbagi informasi terkait regulasi, program, dan pengumuman penting lainnya. 
  • Menjadi corong informasi bagi warga. Bisa dengan cara memanfaatkan kekuatan viral untuk mengangkat informasi penting yang terjadi di lingkungan masyarakat, agar menjadi jembatan bagi pihak yang berkepentingan. 
  • Yang terakhir menjadi corong informasi bagi aspirasi diri. Dengan cara menyumbang saran dan berkontribusi untuk kepentingan umum.

Kang Maman, “Kita darurat literasi”

Kang Maman, begitu panggilannya ‘hanya’ memberi kesimpulan dari kedua pengisi acara sebelumnya. Tapi menurut saya, kesimpulannya sungguh benar-benar kesimpulan yang menancap. Kalau bahasa anak mudanya, mak jleb! Ini benar-benar jadi masukan yang sangat bagus khususnya untuk kita para orang tua dan anak-anak muda.

Literasi negara Indonesia, paling rendah dibanding negara lain. Finlandia, Norwegia, Denmark warganya mampu membaca buku 40-50 buku per orang dalam waktu satu tahun. Sedangkan negara kita, hanya 3 buku yang dibaca per orang setiap tahunnya.

Kita darurat literasi. Terlebih di era media sosial. Seringkali banyak oknum yang membela karena dibayar. Bukan karena yang benar. Inilah yang membuat kita seharusnya lebih perhatian untuk menyaring informasi sebelum sharing.

Dewasa secara literasi

Kita perlu dewasa secara literasi. Salah satunya dengan tidak menyebarkan ujaran kebencian di tengah banjirnya informasi. Jika hendak posting, selalu perhatikan 5W 1H. Apa peristiwanya? Siapa yang berbicara? Mengapa hal/peristiwa itu bisa terjadi? Kapan peristiwa itu terjadi? Di mana peristiwa itu terjadi? Dan bagaimana caranya?

Lalu pikirkan, untuk apa kita posting hal tersebut? Selalu pastikan atau verifikasi berita yang sudah kita dapat. Apakah itu memenuhi 3 B, yaitu benar, baik, dan bermanfaat?

Kang Maman meringkasnya dalam 5R. Yakni

  1. Iq(R)a. Dalam Al-Qur’an hal ini sudah diulang 13x. Tatafakkarun, Tadabbarun. Maka penulis yang baik selalu membaca ulang sebelum posting.
  2. (R)esearch. Selalu riset menggunakan DATA. Datanya bukan katanya. Perhatikan apa yang dibicarakan. Apakah itu kenyataan atau sekadar pernyataan.
  3. (R)eliable. Tingkat kesalahan 0. Yang artinya, kita harus melihat secara keseluruhan.
  4. (R)eflecting. Lihat dari segala sudut. Perkaya sudut pandang kita. Semua agama pasti mengajarkan keberagaman.
  5. W(R)ite: Tulislah. Itu perlu. Untuk menjadi penerang. Manusia diciptakan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Cahaya bagi umat manusia yang lainnya.

Kita hanya perlu cerdas dalam literasi baca tulis, numerik, financial, budaya, keluarga, dan digital. Penting cerdas dalam literasi digital sebab kita memang hidup di era digital.

Dan selalu terapkan 4K. Yakni komunikasi, kolaborasi, kreativitas, kritical thinking (dari kata critical thinking = berpikir kritis).

Kecanduan gadget dan kesalahan pola pendidikan kita

Setelah ketiga narasumber membagikan materinya, peserta webinar diberi kesempatan untuk bertanya. Di sini saya sampaikan saja ya kesimpulan dari jawaban pertanyaan-pertanyaannya:

Agar anak tidak kecanduan gadget

Tentang orang tua yang bercerita bahwa anaknya kecanduan gadget. Di sini Mbak Amy Kamila memberikan tip-tip sebagai berikut:

  • Beri kesepakatan pada anak dan orang tua.  Kapan bisa memakai gadget. Kapan harus lepas dari gadget. Di sini anak akan belajar batas-batas.
  • Berikan tantangan pada anak.
  • Menumpuk gadget saat berkumpul. Misalnya saat makan tidak boleh ada yang pegang handphone.
  • Biasakan aksesnya ada di luar kamar. Usahakan jangan ada akses di dalam kamar, agar orang tua bisa selalu mengawasi anak.
  • Tanya langsung ke anak. Tanya gadgetnya untuk apa. Apa saja yang dilakukan anak.

Membenahi pola pendidikan kita

Anak itu harus merdeka belajar. Seyogyanya, anak bebas memilih apa yang diminatinya. Perpustakaan sekolah seharusnya dihidupkan lagi. Ketika anak-anak beristirahat sekolah, perpustakaan sebaiknya dibuka. Dan bisa dengan cara menjemput bola, yakni taruh buku di kelas-kelas. Dengan begitu, anak akan tumbuh minat bacanya.

Yang salah dari pendidikan kita adalah kita menitikberatkan pengajaran hanya pada guru. Padahal dalam Islam sudah ada “Al Ummu Madrasatul Ula”. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak. Tapi meski begitu, dalam Qur’an Surat Luqman juga dijelaskan peran wajib ayah dalam mendidik dan mengajarkan anak.

dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Surat Luqman : Ayat 13

Maka kita bisa berterima kasih, karena pandemi orang tua bisa mengakrabkan lagi hubungannya dengan anak. Dan memaksimalkan perannya dalam mendidik anak.

Menumbuhkan minat baca pada anak

Sudahkah kita sebagai orang tua juga menumbuhkan minat baca pada anak? Sudah story tellingkah, mendongeng, dan membaca keras di depan anak. Bermain bersama anak. Bercerita pada anak. Dan memberikan hadiah terbaik untuk anak, yaitu buku. Sungguh ini juga menjadi renungan yang dalam bagi saya sebagai orang tua.

Tahapan usia anak

Kang Maman juga memberikan pencerahan. Ini juga sudah dijelaskan dalam Islam. Untuk menghadapi anak, kita melewati 3 tahap:

  1. Usia 0-7 tahap bermain. Anak tidak perlu belajar, tidak perlu PR. Cukupkan kebutuhannya hanya dengan bermain.
  2. Usia 7-4 disiplin. Mengajarkan anak untuk bertanggung jawab. Seperti mengembalikan benda ke tempatnya. Membersihkan tempat tidurnya sendiri. Dan lain-lain.
  3. Usia 14-21 pemantapan. Anak-anak mulai diajarkan dialog. Anak diajak untuk mencari jawabannya sendiri.

Lagi-lagi selalu ada hikmah dibalik musibah. Pandemi ini membuat pendidikan di rumah kita harus lebih diperhatikan lagi.

Sebenarnya terakhir ada penutup kesimpulan. Sayangnya saat itu saya harus membersihkan anak yang buang air besar dan memandikannya :’D Maka tulisan ini saya cukupkan sampai di sini.

Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari hasil yang saya dapatkan dari Webinar Zoom dengan tema Mengisi Kemerdekaan dengan Postingan Positif ini 🙂

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, Bookish,

2 comments to “Merdeka dengan Cerdas dan Positif dalam Berinternet dan Media Sosial”

You can leave a reply or Trackback this post.
  1. Ani Berta - Agustus 25, 2020 Balas

    Edukasi semacam ini harus selalu ada dan sering dilaksanakan

    • Ade Delina Putri - Agustus 25, 2020 Balas

      Betul Teh, bagus sekali. Memberikan solusi di tengah banjirnya informasi

Leave a Reply

Your email address will not be published.