isb course

Mematahkan Persepsi Belajar Daring dengan ‘Nekat’ Ikut ISB Course

Dari zaman kuliah, saya tuh nggak suka pembelajaran online. Pertama kali tahu kalau ternyata belajar daring itu hanya berdasarkan modul, saya langsung bosan. Alih-alih membaca modul untuk paham, saya malah malas dan berujung langsung mengerjakan tugas latihannya saja. Jadi sambil ngerjain, saya langsung nyari jawaban di modul berdasarkan kata kunci hehe.

Eh, ternyata sekarang pandemi. Saya yang tadinya bisa ikut seminar atau workshop karena anak-anak sudah bisa ditinggal, jadi balik lagi harus full di rumah. Otomatis semua jadi harus serba daring hiks.

Jujur aja, saya lebih suka belajar dengan tatap muka langsung dibanding belajar daring. Saya lebih bisa memahami materi ketika belajar secara offline. But, semua itu terpatahkan ketika saya tergiur dengan Indonesian Social Blogpreneur (ISB) Course.

‘Nekat’ ikut ISB Course

Saya kan lagi blank banget mau nulis. Makanya sekarang saya ikut One Day One Post dari komunitas ISB. Program ODOP ini dulunya memang setiap hari. Satu hari satu tulisan. Tapi karena kesibukan banyak anggotanya, ODOP kini diubah jadi tiga hari sekali namun dengan nama program yang sama.

Oke, back to ISB Course. Jadi ISB mengadakan workshop khusus blogger. Yang mana workshop ini GRATIS dan dilaksanakan selama 1 bulan penuh dengan jadwal 2 kali dalam satu minggu yang akan dipandu oleh Teh Ani Berta. Karena saya ingin belajar lagi, jadi saya memutuskan untuk ikut. Walau awalnya ragu karena saya kan nggak suka belajar online haha.

Ternyata, ISB Course ini dilaksanakan via Google Meet. Oke, better nih kata saya. Dengan berhadapan dengan mentor langsung, saya rasa belajar daring lebih mudah diikuti.

Saya pun suka sekali karena ISB Course ini menekankan sekali untuk blogger kembali pada ‘fitrahnya’, yaitu menulis secara personal. Jadi tidak hanya berisi ‘tulisan pesanan’ saja di blognya, tapi juga memperbanyak tulisan personal. Sesuai dengan motto ODOP ISB juga.

Sama sekali tidak menyesal ikut ISB Course

Alhamdulillah, bulan Agustus kemarin, kursus dengan ISB benar-benar sudah berlangsung. Dan saya hanya absen satu kali karena keperluan lain. Saya benar-benar tidak menyesal sudah ikut ISB Course ini.

Materi awal masih pengenalan tentang blog. Semakin ke sini materi semakin ‘daging’. Kami tuh benar-benar diajarkan mulai dari awal banget, sampai akhirnya masuk materi bagaimana blogger bisa membuat ulasan yang lebih halus dan berhubungan baik dengan klien.

Outline itu penting agar fokus

Materi paling mengena di saya adalah materi tentang outline. Dulu sih saya sudah sering membuat outline sebelum menulis. Jadi saya memang sudah terbiasa untuk menulis poin-poin apa saja yang akan saya tulis dalam satu postingan.

Tapi di kursus, Teh Ani mengajarkan lebih detail lagi. Mulai dari memasukkan judul, tema, latar belakang, tujuan, manfaat, siapa narasumbernya, dan apa saja konten pendukung untuk postingan kita tersebut.

outline blogIni pertama kalinya saya bikin sampai sedetil itu. Dan hasilnya, saya bisa membuat tulisan berdasarkan outline untuk acara KPPPA bulan Agustus lalu. Tulisannya bisa dibaca Merdeka dengan Cerdas dan Positif dalam Berinternet dan Media Sosial ya.

Outline ini memang bikin tulisan kita lebih terarah dan fokus. Karena kita sudah punya gambaran akan menulis apa. Jadi sudah dipersiapkan sejak awal sampai sumber-sumber dari mana saja untuk bahan tulisan kita.

Story telling dan soft selling

Yang ke dua adalah materi tentang story telling dan soft selling. Jujur saya masih belajar dengan dua materi ini. Kalau nulis rasanya saya lebih to the point. Ya saya pikir, story telling itu membosankan dan akan membuat pembaca lebih bosan.

Ternyata, kalau kita mengemasnya lebih menarik, justru story telling akan menjadi daya tarik sendiri bagi pembaca. Contohnya bisa dibaca di bawah ini.

story telling

Nah kan, rasanya beda ya antara kalimat atas dengan bawah. Jadi story telling itu kita seperti mengeskpresikan dengan detail suatu kalimat. Misalnya saya punya kalimat:

“Rumahku berantakan.” Maka story tellingnya menjadi “Rumahku penuh dengan mainan-mainan anak dan makanan yang berserakan di mana-mana.”

Jadi memang harus dirasakan dulu supaya dapat feelnya 😀

Yang kedua soal soft selling. Saya merasa selama ini sudah bisa mengulas produk secara halus. Tapi saya belum puas. Karena yang benar-benar ‘terpengaruh’ atas tulisan saya masih sedikit. Jadi materi soft selling dari Teh Ani juga membantu saya supaya bisa mengulas produk lebih baik lagi.

soft selling

Hasilnya, kemarin saya kan ikut kelas Canva berbayar. Saya unggah fotonya di Instagram. Dengan caption seperti ini:

belajar canva ilustrasi

Tanpa diduga, banyak teman saya yang bertanya saya ikut kelas di mana. Sampai mereka pun akhirnya tertarik untuk ikutan. Wah, dengan kata lain berhasil dong memengaruhi hihi. Tinggal mengasah lagi aja nanti hehe.

Dapat bonus belajar SEO dan Canva!

Sebetulnya masih banyak materi lainnya dari Teh Ani. Tak hanya itu, bonusnya kami juga diberi kursus gratis soal SEO oleh Mas Ardan dan Canva oleh Mbak Dzulkhulaifah yang juga merupakan admin ISB yang memang menguasai bidang SEO dan Canva! Wow, Alhamdulilillah…

Nambah lagilah pengetahuan saya tentang Search Engine Optimization (SEO) dan Canva. Yang dua-duanya Alhamdulillah sudah mulai saya praktikkan.

Investasi berharga selama pandemi

Saya beneran bersyukur banget bisa masuk komunitas ISB. Awalnya saya hanya bersyukur karena ISB paling sering mengadakan ODOP. Saya jadi termotivasi terus untuk menulis. Tapi ternyata, kami bisa mendapat bonus untuk belajar gratis. FYI aja, walaupun kelasnya gratis, kami benar-benar digembleng dengan materi yang daging dan tugas yang tidak remeh.

Jadi selesai materi, kami langsung disuruh mempraktikkan. Nah praktik inilah yang bisa menilai apakah kita sudah paham atau belum. Makanya, yang daftar pun harus punya komitmen tinggi.

Alhamdulillah, ini benar-benar jadi investasi pertama saya yang berharga di masa pandemi. Walau di rumah saja, ternyata saya masih bisa belajar secara daring. Dan ketidak-sukaan saya, bisa terpatahkan dengan serunya belajar lewat Google Meet dengan ISB.

Yah, memang kita harus menjalani dulu baru bisa berbicara. Seperti saya, yang akhirnya bisa menikmati belajar secara daring jarak jauh walau tidak bisa bertatap langsung. Jadi terpatahkan deh bahwa belajar daring itu membosankan 🙂

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, Bookish,

2 comments to “Mematahkan Persepsi Belajar Daring dengan ‘Nekat’ Ikut ISB Course”

You can leave a reply or Trackback this post.
  1. Ghina - Oktober 6, 2020 Balas

    Alhamdulillah ya Mbak. Beruntung sekali kita bisa jadi bagian dari isb course. Banyak dapat ilmu baru yg di dapat dgn expertny lgsg pula.

    • Ade Delina Putri - Oktober 6, 2020 Balas

      Iya Alhamdulillah banget Mbak. Semua ilmunya daging 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.