Sebuah
buku berwarna biru yang manis mampu membuat saya semakin memantapkan prinsip
untuk menjaga diri alias menjadi single sebelum menikah. Ya, Ketika Dhira JatuhCinta. Bedanya, Dhira menyibukkan diri dengan kegiatan travelling yang bikin saya mupeng banget, saya justru menyibukkan diri dengan berbagai
kegiatan. Kerja dan kuliah rasanya kurang. Maka itu saya mencoba bergabung
dengan beberapa komunitas. Dengan adanya komunitas, pasti akan muncul banyak
kegiatan dalam komunitas tersebut. Sukseslah saya menjadi orang sok
sibuk.
Berulang
kali saya selalu bilang, beruntunglah mereka yang belum pernah merasakan
berpacaran. Lebih beruntung pula jika ia memang memegang prinsip seperti Dhira.
Jangan salah jika jomblo tak ada godaan. Justru menjadi jomblo terlebih
memutuskan untuk jomblo sebelum menikah, godaannya lebih berat. Pacaran, kalau
suka tinggal bilang. Kalau kangen, tinggal SMS/telepon atau samperin aja ke
rumahnya *ups* Jomblo? Si dia tahu perasaan kita saja tidak. Mau apa-apa jadi
serba salah. Apalagi kalau paham Allah Maha Mengawasi. Membayangkan si dia
dalam angan-angan saja sudah termasuk dalam zina pikiran.
Astagfirullahaladzim.
Trus
bisa nggak kalo nggak ngebayangin? Susah! Iya apalagi kalau sudah benar-benar
suka dengan orangnya. Haduh ya Allah, mesti banyak-banyak istighfar hiks. Nah
balik lagi, kalau saya atau kita jadi orang sibuk kan, kita jadi nggak
kepikiran tuh buat mikirin si doi lagi dimana, sama siapa semalam berbuat apa
*eh*
Dari
2012 memutuskan untuk nggak pacaran lagi butuh perjuangan banget. Selain godaan
sana-sini, kadang rasa kesepian juga muncul. Sampai kadang saya heran sendiri.
Padahal saya masih punya keluarga lengkap dan tinggal serumah pula, lalu apa
yang bikin saya sepi? Mungkin, ini hanya karena rasa rindu pada seorang sosok
pria. Memang sejatinya, pria dan wanita diciptakan berpasangan. Apalagi
umur saya juga sudah 20 lebih. Mungkin wajar kalau sudah ada rasa-rasa ingin
bertemu sosok pangeran. Nah di sini perjuangannya. Banyak-banyak istighfar lagi.
Meski
kadang saya juga mikir, kok kayaknya saya semacam mencari pelampiasan. Saya
sampai kadang jadi lelah sendiri. Ini kelewat sibuk atau gimana? Di sini saya
jauh-jauh dari handphone. Meluangkan waktu buat sendiri. Mikir ulang apa yang
salah, apa yang patut dikurangi dan nggak mesti berlebihan. Hhuah berat deh
pokoknya perjuangannya. Tapi saya yakin, perjuangan ini akan manis pada
akhirnya. Setidaknya saya sudah gigit kuat-kuat prinsip untuk nggak pacaran
sebelum nikah. In sya Allah, calon pangeranpun akan melakukan hal yang sama.
Sembari sibuk, juga nggak lupa terus memperbaiki kualitas diri. Aamiin 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *