Saya tidak menyangka bahwa dalam dunia blogger pun ada berbagai drama. Mungkin lebih tepatnya bukan drama juga kali ya, hanya saja pendapat setiap orang beda-beda. Yang beberapa waktu lalu sempat santer adalah tentang “Kok blogger mau dibayar murah?”
Sayangnya, kalimat yang menurut saya negatif ini, semakin dibuat negatif pula dengan kalimat, “gue sih ga mau. Gue nulis pake mikir ya. Enak aja dibayar murah.” Kemudian ditambah nyinyiran-nyinyiran di belakang yang diam-diam menjelekkan sebuah brand yang membayar murah tadi.
https://pixabay.com/id/penny-koin-uang-tunai-uang-bank-1442437/
Sebelumnya begini. Saya setuju dengan salah satu komentar yang pernah saya baca dimana entah lupa. Yang jelas bunyinya begini, “di media sosial, kita nggak bisa menggeneralisir semuanya.” Yap, di media sosial semua orang punya pendapat. Tentu saja pendapat itu dihasilkan dari pemikiran yang berbeda. Maka sama saja dalam urusan “Kok mau blogger dibayar murah?” Setiap orang pasti memiliki persepsinya masing-masing. Sepemahaman dan sepengalaman saya, di sini ada tiga poin yang tidak bisa digeneralisir.
Beberapa waktu lalu, saya sempat menulis ini di Facebook. Cuma saya kepingin menjabarkan lagi di sini. Semoga bisa lebih dipahami ya 🙂

Blogger tahu spesifikasi diri dan blognya

Pertama, seorang blogger mau dibayar murah, bisa jadi karena dia tahu spesifikasi dirinya. Katakanlah saya contohnya *iya saya mengaku uhuk*. Dengan statistik Alexa yang besar, Domain Authority/Page Authority blog saya yang masih kecil, apakah saya bisa menuntut besar? Dengan kualitas tulisan yang masih segini, tidak pakai teknik SEO, apakah saya pantas mendapat yang besar? 
Bukan. Saya bukan tidak percaya diri pada tulisan saya. Bukan juga karena saya menulis tidak pakai mikir. Pasti mikir, tidak mungkin copy paste –“. Hanya saja kadangkala saya malu pada blogger yang lebih expert. Di saat mereka bisa memberi keuntungan yang lebih besar pada brand yang sama dengan statistik yang lebih baik. Kemudian brand tersebut datang pada saya, maka saya harus ‘ngaca’, kelebihan apa yang bisa saya berikan? Karena saya paham, bahwa statistik blog yang diperhitungkan memang bisa membuktikan bahwa blog tersebut cukup ‘laris’ dan mungkin lebih banyak dilirik. Tentu saja brand suka dengan yang seperti itu.
Lalu dengan begini apa saya tidak pernah menawar? Oh tidak. Saya selalu menawar. Tapi kembali lagi pada statistik blog. Apakah harga yang saya tawarkan ‘kelewatan’ atau tidak? Apakah dengan harga yang saya tawarkan, saya bisa melebihi blogger expert tadi? Atau setidaknya sebanding dengan dia? 
Begitu. Intinya saya harus paham kualifikasi diri saya seperti apa. Saya juga yakin pasti ada pertimbangan sebuah brand untuk memberi harga. Jika nanti statistik blog saya meningkat, barulah saya bisa menuntut lebih.


Urusan ‘dapur’ setiap orang berbeda

Kedua, yang mungkin lebih penting. Kita tidak tahu urusan ‘dapur’ orang. Mungkin buat kita harganya murah, tapi bisa jadi harga segitu berguna bagi orang lain. Mungkin dia baru belajar dan pertama kalinya dapat job, mungkin sedang butuh, mungkin sedang kepepet. Atau bagi dia harga job segitu berharga dan bisa dijadikan portofolionya. Dan lain-lainnya yang kita tidak tahu.
Saya bahkan sempat melihat di salah satu grup yang suka memberikan job. Saat ada ketentuan menulis 300 kata dan dibayar 50 ribu, dia mau. Padahal dia mengaku DA nya 90. Ada lagi yang sampai memohon-mohon agar diberikan job dan mau dibayar seikhlasnya. Tidak terbayang rasanya sampai segitunya ~_~
Maka kembali lagi apa yang menurut kita murah, belum tentu bagi orang lain. Yang mungkin bagi kita harga segitu ‘cuma cukup buat beli kuota’, bagi orang lain bisa jadi berharga. 

Martabat itu urusan masing-masing

Pada intinya, dalam dunia media sosial, bahkan dunia nyata sekalipun kita tidak berhak untuk menghakimi siapapun. Termasuk blogger ‘yang masih mau dibayar murah’. Kita tidak bisa menghakimi bahwa dengan adanya orang-orang yang mau dibayar murah itu berarti menjatuhkan martabat blogger. Tidak. Martabat itu urusan masing-masing. Urusan yang mau dibayar murah adalah memang urusan dia sendiri. 
Kalau memang kita sendiri tidak mau dibayar murah, cukup saja kita yang tahu. Kita tidak perlu menghasut orang lain hingga orang itu berpikiran buruk. Kecuali jika orangnya memang bertanya, “berapa harga yang harusnya saya tawarkan?” 
So, semoga setelah ini tidak ada drama dan nyinyir-nyinyir lagi ya. Daripada nyinyir bukankah lebih baik berbagi tipsnya, bagaimana supaya “semua blogger bisa dibayar mahal?” 🙂

80 thoughts on “Kok, Blogger Mau Dibayar Murah?”

  1. Wah, Mba Ade setuju bgt. Kalo masalah fee itu urusan masing2. Kalo pun dia mau dibayar murah mungkin karena memang butuh dan buat portofolio. Sebaiknya gak nge-judge juga, ya. Pinginnya dunia per-blog-an adem ayem aja gak ada drama2.. hehe.. 😀

  2. Setuju sama urusan dapur beda-beda. Misal nih, bisa saja harga sebuah mobil bagiku itu sudah sangat mahal, ada juga yang bekerja hanya dalam 3 bulan sudah cukup untuk membeli mobil. Mulai curhat lagi. hahaha

  3. Aku juga belum PD kalo ngasih harga mahal, ngeblog masih baru dan masih jarang update, jadi kalau memang cuma dikasih segitu ya aku maklum aja, kalau nanti sudah jadi blogger terkenal misalnya, ya bolehlah harganya dinaikin tapi bayarannya besar pasti usaha membuat postingan yg lebih bagus juga harus besar kan

  4. Dulu sempat heran sama teman-teman yang mau-maunya dibayar segitu. Tapi belakangan mikir, ya gak papa..itu kan urusan masing-masing 🙂 Blog, blog mereka juga kok ^_^

    Toh mungkin job-job berharga tinggi itu selalu berawal dari yg murah-murah #eaa

  5. Saya begitu sebulan pasang dot com trus PA DA udah nongol yg bukan angka 1, lalu ada agency email tanpa saya daftar ini itu. Harga yg ditawarkan ya enough lah untuk kekuatan blog saya di pertengahan September bukan lalu. Mungkin buat blogger lain, haha segitu diambil? Review pula??? Tapi tawaran2 dari agency yg satu ini yg jadi modal portfolio saya untuk ngedapetin fee yg lebih. Lagian buat saya fee besar itu nomer 3. Nomer 1 syarat ga ribet, yg ke 2 bayaran bener. 😀

  6. Setuju mbak, hanya kita yg tahu urusan dapur kita,dan harus ngaca sih apa iya pengunjung blog cuma 200 orang tapi minta fee jutaan. Malah diketawaain brand. Saya mah udah bersyukur dapet job cepekan tapi sbulan dapet 30 yaaa lumayan

  7. sering dicurhatin gini dari teman2 yang kena nyinyiran. aku juga nggak habis pikir kenapa dunia blogger yang sekarang jadi kayak begini.
    teman2 bloggerku yang lama2 yang pendapatannya per blog sudah sampek ratusan dollar aja nggak pernah nyakitin hati orang dengan nyinyirin blogger lain.
    justru mereka suka bantu2 teman lain untuk berkembang seperti mereka juga.
    kalau aku pribadi sih santai aja. karena rejeki itu datangnya darimana aja. selama ikhlas ngerjain dan topiknya sesuai ya gapapa. toh halal 🙂
    content writing pun juga sering aku terima kalau lagi lowong, nyari sibuknya daripada mikir hal2 negatif mending punya kesibukan positif 😉

    nice thought del

    1. Ada yang kita nyari sendiri Mbak. Misalnya daftar lewat email atau ikut grup-grup atau website pemberi job blogger gitu. Ada juga yang menghubungi kita secara langsung lewat email dengan kata lain dapat penawaran 🙂

  8. setuju banget sama statement yang ini mba "Kalau memang kita sendiri tidak mau dibayar murah, cukup saja kita yang tahu. Kita tidak perlu menghasut orang lain hingga orang itu berpikiran buruk" hehe dari pada nyinyir-nyinyir sama hal negatif mending tingkatin lagi aja kualitas blog kita rezeki dibayar mahal nanti pasti akan mengikuti ya mba 🙂

  9. Gak dunia maya gak dunia nyata sama aja, selalu ada yang nyinyir urusan dapur orang
    Dia lupa setiap orang menulis kisahnya sendiri

    Timbang nyinyir, mending semangat belajar bagusin dapur sendiri biar timbal baliknya juga meningkat

  10. Bloggef dibayar mahal biasanya include dengan share di socmed mb. Jadi ada effort besar untuk mempengaruhi orang membeli produk tertentu. Tapi yg dibayar murah biasanya beda di tujuan brand tersebut mgkn hanya ngejar backlink aja.

  11. iya sih…. kebanyakan nyinyir tapi mereka gak mau buka2an tentang ratenya.., soal uang emang senditif sih… bagi sebagian kecil orang mungkin rate 50 rb kecil… tapi bisa buat beli beras*ngedrama* 😀

  12. pengalamanku…memang mulai yg kecil dulu sih mba..klo lama2 makin bagus performance blog kita ga ada salahnya juga ikutan naik hehehe.
    tp sepakat tiap blogger beda2 kondisinya.
    dan di atas semua itu rezeki org beda2 semua punya jalan sendiri kan yaa

  13. Gara-gara pernah baca isu Blogger dibayar murah, jadi bingung waktu ada tawaran. Terlalu murah atau terlalu mahal. Tapi, akhirnya diambil, setidaknya bisa untuk portofolio 🙂

  14. saya termasuk "blogger murah" ini mbak. awal-awal baper juga, tapi saya sadar diri DA dan PA saya masih rendah dan alexa saya masih gemuk, tapi yasudahlah, usaha tidak akan mengkhianati hasilnya kok. lagipula menulis itu terapeutik buat saya hihihi

  15. Selain 'dapur' kita sebagai blogger memang berbeda-beda, murah sih menurut saya juga relatif. Artikel ini memberi semangat buat saya, yang baru-baru ini sering dapat pekerjaan dari blog untuk membuat dapur ngebul. Hihi

    Terimakasih, Mbak dan salam hangat dari Bondowoso..

  16. setuju mbak
    aku dari awal juga terima harga yang murah
    apalagi lagi butuh buat ngepulin dapur
    makanya sempat sedih sih waktu ada nyinyiran kayak begitu
    sekarang dibwa cuek 😀
    dari yang kecil lama kelamaan ada yg nawar gede insyaAllah

  17. Prinsip orang kan beda2 yaa mba, yg nyinyir entah gimana pemikirannya 🙂 murah atau mahal kan tergantung, lagian ngga minta makan juga dati yg nyinyirs hihiii
    Aku dari kmaren2 mau komen, kelewat mluluu, bocil2 drmh :))

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *