Saya pernah mengalami hal yang nggak enak sampai bikin saya sedih. Tapi terus siangnya saya malah dapat kabar yang membahagiakan. Kadang bisa juga di lain waktu saya bahagia di siang hari. Malamnya saya nangis karena sedih. Hal itu nggak sekali dua kali terjadi dalam hidup saya. Sampai kemudian saya punya kesimpulan bahwa kebahagiaan dan kesedihan sebetulnya berjalan seimbang.
via Pixabay
Toh memang seperti itu kan. Bahagia dan sedih karena memang sudah jalan hidup manusia. Sudah kodratnya kita pernah ada di fase duka dan bahagia. Ada senang dan sedih. Jadi ya tidak ada kehidupan yang sempurna. Sempurna bahagianya. Atau sempurna sedihnya. Intinya adalah kita jangan berlebihan dalam kesedihan atau kebahagiaan.

Kebahagiaan dan kesedihan bukan untuk menyombongkan diri

Hari ini kita bisa bahagia. Mendapatkan handphone baru Lenovo a6000 misalnya. Tapi bukan berarti lantas kita bisa membanggakan diri, menyombongkan diri. Apalagi meremehkan orang lain. Kita bahagia karena memang Tuhan sedang memberi kita kebahagiaan. Itu saja. Yang perlu kita lakukan hanyalah bersyukur pada Tuhan.

Begitu pula untuk rasa sedih. Kita mungkin sudah dikecewakan oleh orang terdekat kita. Kita mungkin sudah dikhianati orang yang paling kita sayang. Tapi bukan berarti kita bisa sombong dengan berkata bahwa kitalah orang yang paling sedih di dunia ini. Kesedihan orang lain tidak ada apa-apanya. Hm naudzubillah ya.

Baca: Tentang Diri Sendiri

Ternyata baik kebahagiaan maupun kesedihan memang bisa membuat kita sombong. Hanya saja gaya sombongnya berbeda. Yap, merasa kita paling sedih itu juga sudah jatuh menjadi sombong lho. Karena ya masing-masing manusia punya ujian hidupnya masing-masing. Kita mungkin nggak tahu seberapa berat ujian mereka. Tapi mungkin kalau kita tahu kita bisa langsung merasa kesedihan kita itu hanya remahan kerupuk mie dipinggir pecel. 
Apalagi tentang kebahagiaan. Merasa bahwa kebahagiaan itu MURNI usaha kita tanpa melibatkan campur tangan Tuhan. Naudzubillah. Tentu saja segala nikmat yang kita punya datangNya dari izin Dia. Kalau Dia tidak mengizinkan, kita bisa apa 😰

Kebahagiaan dan kesedihan pasti berjalan seimbang

So, kita memang nggak perlu berlebihan dalam segala sesuatunya. Karena yang berlebihan memang selalu tak baik bukan. Seperti Allah pernah berfirman:
Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-‘An`am [6] : 141)
Manusia tidak pernah tahu apa yang terjadi di masa depannya. Saat ini kita bahagia, sejam kemudian kita bisa dirundung sedih. Saat ini kita sedih, siapa tahu lima menit lagi kabar bahagia datang. Pada akhirnya tidak ada yang patut kita sombongkan. Kita tidak perlu berlebihan menyikapi segala sesuatunya. Karena yakini saja, bahwa kebahagiaan dan kesedihan pasti berjalan seimbang. Tidak tahu kapan waktunya, yang bisa kita lakukan hanya terus berusaha dan berdoa 😊

15 thoughts on “Kebahagiaan dan Kesedihan Berjalan Seimbang”

  1. Sebagai manusia biasa kita terkadang memang suka terbawa suasan dan merasa menjadi orang yang paling sedih di dunia, padahal banyak saudara kita yang lebih merasakan kesedihan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *