Kau tahu rasanya dilarang membeli buku lagi? Buatku rasanya amat sesak! Baru kali ini aku dilarang ibu membeli buku. Dalam hari-hari terakhir kemarin memang sudah tak terhitung berapa kali aku membeli buku dalam sebulan. Kadang bisa dua sampai tiga buku. Iya hanya segitu. Tidak banyak kan! Memang aku hampir selalu membelinya secara online. Dan aku selalu memakai alamat rumah. Otomatis ketika aku sedang bekerja, pasti ibu yang menerima. Karena ya hanya ibu yang ada di rumah. 
Maklum, semenjak aku bekerja sambil kuliah, aku jadi jarang punya waktu untuk jalan-jalan. Termasuk ke toko buku. Melihat buku-buku itupun dari internet. Alhasil kalau harus menunggu aku punya waktu untuk jalan ke toko buku, sedangkan rasa menggebu-gebu ingin segera memiliki dan membaca buku yang aku inginkan, rasanya tidak sabaran. Lagi pula selain aku merasa butuh buku itu, aku juga menganggap buku-buku itu sebagai ‘camilanku’ di waktu luang. 
Lantas apa yang membuatku dilarang? Mungkin lebih tepatnya bukan dilarang dalam artian benar-benar ‘dilarang’, melainkan ibu hanya kasihan melihat badanku yang semakin ‘habis’ dan ibu amat memahami bahwa gaji dari pekerjaanku saat ini tidak begitu banyak, belum lagi aku harus membiayai kuliahku sendiri, jadi ibu pikir, sayang kalau hanya dihabiskan untuk membeli buku, sampai aku lupa membeli susu dan kebutuhan jasmaniku. Hehe abis asyik sih Bu kalau baca buku 😀
Sudah sejak kecil sebenarnya aku ‘gila’ pada buku. Bahkan melihat buku tergeletak saja, aku tidak bisa. Pernah suatu ketika, kakakku meletakkan buku yang habis dibaca begitu saja, kemudian aku ambil buku itu, ku baca, kemudian aku benahi dalam lemariku. Hehe iseng ya. Tapi memang lebih baik begitu kan daripada tergeletak yang mungkin saja bisa hilang. 
Dan kegilaan ini semakin menjadi ketika aku sudah mempunyai penghasilan sendiri. Merasa ‘sudah punya’ itulah yang membuatku berpikir ‘aku bisa membeli buku sendiri sekarang’. Alhasil semakin menumpuklah buku-buku di rumah. Jadi kalau ada kiriman buku datang, orang rumah sudah tidak heran, pasti langsung bertanya, “Buku apalagi?” dan celetuk adikku, “Ya ampun itu lemari sampe penuh, beli lemari lagi dong.” Hihihi 😀
Semenjak ‘pelarangan’ itu, sampai saat ini aku menahan diri untuk tak membeli buku dulu. Tapi bukan berarti aku berhenti dari ‘kegilaan pada buku’, aku hanya memberi jeda agar ibu kembali mengizinkan aku untuk membeli buku lagi. Hehehe ^_^

Tulisan ini disertakan dalam Book Giveaway-nya Nee

4 thoughts on “‘Kegilaanku’ Membuat Aku Dilarang”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *