Menuntut Kesempurnaan? Impossible!

Sekarang, ramai orang ingin membentuk personal branding. Waktu saya nanya ke suami, alih-alih dia jawab ingin membentuk juga, justru dia jawab, “nggak deh. Personal branding itu berat.”
Lho, berat kenapa? Pikir saya.
Sampai akhirnya saya ngeh maksud kata-kata “berat” dari suami. Apa yang berat? Amanah dan ujian dari personal branding itu sendiri. Simpelnya, seseorang itu harus (atau malah diharuskan?) SESUAI dengan branding yang dia bentuk. Dengan kata lain, disadari atau tidak, ada penuntutan KESEMPURNAAN di sini. Padahal mana ada manusia sempurna?
via Pixabay
Misal saja seorang motivator terkenal yang beberapa waktu lalu sempat terkena kasus yang menghebohkan publik. Jelas bahwa branding beliau adalah motivator. Tapi ketika dia terkena masalah, orang-orang mana mau tahu bahwa dia juga manusia biasa?
Yang ada di anggapan orang-orang adalah beliau ini seorang motivator. Maka tindak tanduknya (harusnya) sesuai yang ia motivasikan pada orang lain. Padahal sang motivator ini juga manusia biasa kan? Meskipun dia memotivasi jutaan orang, bukan berarti dia lepas dari kodratnya sebagai manusia. TIDAK ADA manusia yang sempurna hidupnya, yang tidak pernah salah dan tersandung masalah *itu mah malaikat kali eh.
Sampai sini saya jadi mikir *anaknya pemikir 😂. Sebenernya tanpa membentuk personal branding pun, kadang kita suka dituntut sempurna sesuai label yang tersemat di diri kita.

Lho kok? Emang orang dinilai dari penampilannya? Dari brandingnya? 

Iya! (Walaupun harusnya tidak). 
Kenapa? Karena wajar jika yang pertama kali dilihat mata kita, pastilah fisik orang dulu. Penampilan luar dulu. Label luarnya dulu (apalagi kalau orang itu memang sengaja membentuk personal branding). Manalah kita tahu kalau dia ternyata tidak sempurna. Ternyata hatinya baik. Ternyata orangnya menyenangkan. Ternyata pengkhianat yang bagus luarnya aja. Kecuali kalau kita memang sudah sering bersama orang itu. Atau minimal kita bisa dengan handal membaca orang dari gerak-geriknya. 
Jadi kalau misal ada orang yang dengan mudahnya bilang, “ih jilbabnya panjang, tapi kok sukanya marah-marah? Ih tampilannya kayak ustadz, tapi kok kelakuannya kasar?” Atau ketika ada orang yang tiba-tiba komentar, “oh kamu lulusan universitas A, tapi kok foto-fotomu begitu sih? Oh kamu dari komunitas B, tapi kok nggak sesuai dengan nama komunitasnya? Oh kamu si penulis buku motivasi itu, tapi kamu kok sedih mulu sih?”
Sebenarnya kita nggak perlu marah. Justru yang pertama kali harus dikoreksi adalah diri sendiri. Bener nggak sih gue begitu? Oh iya ya, ternyata gue suka marah-marah. Ternyata gue kasar. Ternyata foto gue nggak pantes. Ternyata kelakuan gue nggak sesuai dengan nama komunitas gue. Ternyata gue udah nulis motivasi, harusnya gue lebih semangat.
Dengan kata lain, koreksian orang-orang itu bikin kita bisa LEBIH mawas diri. Lebih hati-hati dengan perilaku kita. Sekali lagi, karena wajar kalau yang pertama kali dilihat orang adalah luarnya dulu. Atau kita  sendiri deh, yang kita lihat dari orang lain pasti luarnya dulu kan?
Akan jadi beda kalau misalnya kita sudah seatap dengan orang itu. Sudah menghabiskan waktu yang tidak sebentar dengan orang itu. Maka kita akan punya pandangan yang lain. Seperti kata Tere Liye, kita nggak bisa kenal orang (dengan baik) hanya sehari aja. Mungkin ini maksudnya.

Bersikap saling

Berat ya ternyata untuk tampil baik? Untuk punya branding baik? Sebenarnya nggak juga. Justru tampilan dan label luar kitalah yang bisa jadi rem kita. Rem perilaku kita. Dengan adanya itu semua, kita akan lebih mikir panjang apa yang harus kita perbuat. Mana yang pantas, mana yang tidak, dan apa yang sebaiknya tidak kita lakukan.
Nah mungkin di sinilah kita juga belajar untuk tidak mudah menghakimi orang lain. Karena ternyata nggak enak ya dihakimi tanpa dikenal lebih dalam atau dicari tahu lebih dulu. Sebab, bisa saja apa yang terlihat di mata kita, belum tentu itu yang sebenarnya.
Well, ya barangkali kita harus bersikap saling aja 😊 Ketika kita merasa tidak sempurna, maka begitu jualah harusnya pandangan kita ke orang lain 😊 Ya kasarannya kalau nggak mau dicubit, ya jangan nyubit *eh.

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, Bookish,

9 comments to “Menuntut Kesempurnaan? Impossible!”

You can leave a reply or Trackback this post.
  1. Nanik - November 10, 2017 Balas

    Iya personal branding itu udah lama membentuknya, berat pula konsekuensinya

  2. adedelina - November 10, 2017 Balas

    Kalo aku nggak mau sengaja membentuk sih ya, biar aja terbentuk sendiri hihi 😀

  3. Nurfaisyah - November 10, 2017 Balas

    Dari dulu suka lihat orang yang karismatik, jadi kalau ada yang brandingnya karismatik, pasti saya suka.

    • adedelina - November 10, 2017 Balas

      Wah karismatik seperti apa tuh? 😀

  4. Ayahblogger - November 11, 2017 Balas

    Menjaga beranding itu lebih berat kayaknya setelah dibangun dengan susah payah ya. Membuat branding sebaik mungkin mungkin cara ampuh, kalo nilai buruk juga. Paling enggak berusaha berbuat terbaik

    • adedelina - November 12, 2017 Balas

      Yap, berusaha untuk baik ya 🙂

  5. Farid Nugroho - November 11, 2017 Balas

    Bagi saya, membentuk personal branding berarti menghakimi diri sendiri dulu sebelum/selama membentuk itu. Dengan demikian, kita tidak mudah menghakimi orang lain. Dan ketika kita dilihat oleh orang lain sebagai orang yang begini-begitu, kita harusnya sudah siap. Jadi menurut saya ya memang berat, hehe.

    • adedelina - November 12, 2017 Balas

      Betul. Menghakimi diri sendiri dulu ya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.