Taare Zameen Par, Setiap Anak Unik dan Berbeda

Setelah 3 Idiots, menurut saya ini film India yang cukup bagus. Meski sebenar dan aslinya saya kurang suka film-film India, hehe. Tapi kali ini atas rekomendasi teman, memang filmnya inspiratif sekali, dan bagus ditonton terutama untuk para orang tua bahkan guru. Yap, film ini masih nyambung-nyambung dengan dunia pendidikan.

Taare Zameen Par. Bercerita tentang seorang anak kelas 3 bernama Ishaan yang sulit sekali menerima pelajaran. Ia kesulitan dalam membaca dan menulis. Ia juga sulit menerima perintah dari gurunya. Akibatnya, Ishaan selalu mendapatkan nilai buruk dalam pelajaran dan menjadi bahan bully-an teman-temannya. Hal ini membuat Ishaan akhirnya menjadi anak yang pemberontak dan penakut. Karena para guru di sekolah sudah tidak sanggup mengajarinya, ia pun diminta untuk pindah sekolah.
Ayahnya yang seorang eksekutif muda, akhirnya memindahkan Ishaan ke sekolah berasrama. Tentu saja harapannya agar Ishaan bisa lebih baik. Apalagi selama ini ibunya di rumah juga sudah berusaha mengajari Ishaan. Tapi pada nyatanya, para guru di sekolah asrama pun banyak yang mengeluhkan kesulitan dalam mengajari Ishaan. Sampai datang guru seni baru bernama Nikumbh, di sinilah Ishaan perlahan berubah.

Nikumbh melihat pasti ada sebab mengapa Ishaan kesulitan dalam belajar. Ia menemukan pola kesalahan yang sama dalam setiap pembelajaran Ishaan. Dengan memberi pengertian, orang tua Ishaan baru tahu bahwa kesulitan anaknya dalam belajar ialah karena Ishaan mengalami disleksia.

Disleksia (bahasa Inggris: dyslexia) adalah sebuah gangguan dalam perkembangan baca-tulis yang umumnya terjadi pada anak menginjak usia 7 hingga 8 tahun.[1] Ditandai dengan kesulitan belajar membaca dengan lancar dan kesulitan dalam memahami meskipun normal atau diatas rata-rata. Ini termasuk kesulitan dalam penerapan disiplin Ilmu Fonologi, kemampuan bahasa/pemahaman verbal. Diseleksia adalah kesulitan belajar yang paling umum dan gangguan membaca yang paling dikenal. Ada kesulitan-kesulitan lain dalam membaca namun tidak berhubungan dengan disleksia. – Wikipedia

Tapi di samping disleksia, sebenarnya Ishaan punya bakat lain yakni dalam hal seni melukis yang lagi-lagi tidak disadari oleh orang tuanya. Selama ini mereka hanya fokus ingin agar Ishaan bisa berprestasi seperti kakaknya Yoohan.

Awalnya, asrama hendak menyerah, tapi tekad Nikumbh, sang guru baru yang sangat memahami kesulitan Ishaan membuat asrama masih mau menerimanya sebagai siswa. Dengan gaya berbeda guru pada umumnya, Nikumbh dengan sabar mengajari Ishaan membaca dan menulis. Ishaan pun mulai berani menunjukkan dirinya dan tidak lagi menjadi seorang yang pemberontak dan penakut.
Ya, itulah sinopsis singkat Taare Zameen Par. Film ini cukup menyentuh, namun juga ada beberapa bagian yang mengundang gelak tawa. Juga memberi gambaran bahwa ternyata masih banyak orang tua yang seringkali memaksakan kehendaknya pada anak. Masih banyak orang tua yang melihat prestasi hanya bisa ditunjukkan dalam pelajaran di sekolah. Padahal setiap anak memiliki bakat dan keunikannya masing-masing.
Sama seperti orang tua, guru pun seringkali tidak menyadari bahwa setiap siswa di sekolah tidaklah sama. Lagi-lagi karena setiap anak memang dianugerahkan dengan keunikan yang berbeda. Guru masih melihat bahwa siswa harus pintar dalam semua pelajaran. 
Ishaan, menunjukkan pada kita, bahwa pintar, prestasi tak melulu tentang pelajaran di sekolah. Melainkan masih banyak bidang lain yang sebenarnya bisa jadi itu sebuah prestasi besar. Contohnya, mungkin kita sering melihat di TV anak-anak yang dalam menyanyi, menari, melukis atau bahkan olahraga mampu berprestasi hingga mendunia. 
Tapi zaman ini saya bersyukur, semakin banyak bertebaran ilmu-ilmu tentang parenting. Tentang bagaimana memandang keunikan anak, mendidik anak sesuai dengan bakatnya, dan mengarahkan anak agar bisa berprestasi sesuai bakatnya. Ya, semoga saja kita semua bisa menjadi orang tua yang bijak. Yang tak lagi memaksakan kehendak, namun mensyukuri kehadiran anak dengan setiap keunikan dan bakatnya masing-masing 🙂
Terakhir, ada kutipan yang saya suka dari film ini: 

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, Bookish,

26 comments to “Taare Zameen Par, Setiap Anak Unik dan Berbeda”

You can leave a reply or Trackback this post.
  1. Ummi Nadliroh - Februari 3, 2016 Balas

    Jadi pengen nonton, sepertinya filmnya menarik. 🙂

  2. momtraveler - Februari 3, 2016 Balas

    Wah pengen nonton ahh

  3. secondthingforcharity - Februari 3, 2016 Balas

    Mba sy cari2 film ini dah lama kalo boleh infonya beli dimana dvdnya makasih lili

    • adedelina - Februari 3, 2016 Balas

      Kalo DVD saya jg krg tau apa masih ada atau tidak. Tapi di youtube ada mas hehe

  4. Ade anita - Februari 3, 2016 Balas

    Aku disklesia mak waktu kecil. Dan guruku pernah nyerah dan ngasi saran ke ibuku agar memindahkan aku ke SLB waktu kelas 2 dulu krn semua nilai merah kecuali pelajaran olahraga dan menggambar. Tapi setelah melewati masa2 sulit mulai kelas 4 aku juara terus krn ternyata IQ ku 131.

    • adedelina - Februari 3, 2016 Balas

      Wah keren. Emang ya setiap anak pada dasarnya cerdas 🙂

  5. ira guslina - Februari 3, 2016 Balas

    duh .. pernah nonton film ini dan memang inspiring banget ya mba. setuju setiap anak berbeda..
    makasih mba sudah diingatkan lagi soal ini…

  6. ira guslina - Februari 3, 2016 Balas

    bener mba. pernah nonton film ini dan memang inspiring banget.. setiap anak memang berbeda..

  7. uni dzalika - Februari 3, 2016 Balas

    Aku udah nonton ini dari lama, pertama karena yang main aktris kesukaan, kedua karena unik alur dan plot yang diangkat sutradara yang ngegarap film ini emg keren doi

    • adedelina - Februari 3, 2016 Balas

      Amir Khan ya mbak 😀
      Iya bahkan yg 3 Idiots pun, masih doi ya yang main 😀

  8. dessy natalia - Februari 3, 2016 Balas

    waaah cari ah filmnya..
    makasih mbaa sharenya 🙂

  9. Tira Soekardi - Februari 3, 2016 Balas

    yup jadi ortu dan pendidik harus tahu ya kalau setip anak punya atlentanya sendiri. Tp pendidikan di sekolah kadang guru tak pernah tahu bakat anak

    • adedelina - Februari 3, 2016 Balas

      Iya, mudah-mudahan ke depannya semua guru semakin baik ya 🙂

  10. Asep Haryono - Februari 4, 2016 Balas

    Ganteng ya kayak saya

    *gubraaaaaaaaakk

  11. Anisa AE - Februari 4, 2016 Balas

    Film ini sukses bikin saya mewek. 😀 Kena banget deh ide cerita dan pesan yang disampaikan

  12. Mariana - Februari 5, 2016 Balas

    aku udah nonton ini .. nangis coba 🙁

    • adedelina - Februari 5, 2016 Balas

      Iya mbak, mmg banyak adegan yg menyentuh ya 🙂

  13. Bang Doel - Februari 7, 2016 Balas

    inspiratif!

Leave a Reply

Your email address will not be published.