Saya bukan tergolong anak yang pintar saat zaman sekolah. Yah bisa dibilang biasa-biasa sajalah :)) Tapi dulu saya memang tipe yang paling tidak mau dapat nilai buruk di sekolah. Kenapa? Bukan karena saya ingin dianggap pintar, pun bukan karena ingin dipuji teman-teman atau guru. Tapi karena saya tidak mau her atau remedial atau mengulang mata pelajaran. Yes, this point. Saya tidak mau mengulang hehe. Apalagi kalau ujian, kalau nilai kurang biasanya ada remedial. Dan itu malas sekali rasanya buat saya 😏
via https://pixabay.com/id/wanita-mahasiswa-perguruan-tinggi-213723/
Meskipun ada beberapa pelajaran atau tidak setiap kali ujian harus diulang, saya tetap tidak mau dapat nilai buruk. Buat saya, nilai bagus itu membanggakan. Dan saya tidak mau menyusahkan orang tua karena nilai-nilai saya buruk. Saat itu saya sudah bisa berpikir, orang tua sudah susah-susah menyekolahkan saya, masa harus dibuat susah lagi karena nilai-nilai saya? Makanya, bisa dibilang dulu saya cukup rajin mengerjakan tugas sebelum waktunya mengumpulkan. Atau belajar keras setiap kali mau ujian. Demi apa, one again, nilai! 😁

Semua demi nilai!

So, apa karena saya sekolah demi nilai? Mungkin. Bisa jadi. Ya, ya, ya, sedikit lagi *apasih 😑*. Dulu, nilai memang jadi patokan untuk banyak hal. Ya lulus ujian, naik kelas, sampai kelulusan tamat sekolah. Kalau nilai kurang? Bersiap-siaplah mengulang lagi atau kita bisa dianggap ‘kurang pintar’. Sedih ya? Iya kalau dipikir sekarang. Tapi yang terjadi memang itu pada kenyataannya. Nilai masih jadi patokan untuk kelulusan dan membedakan mana murid yang pintar dan kurang. 
Dulu, pemahaman bahwa anak-anak yang mendapat nilai bagus adalah anak yang pintar dan membanggakan. Bahkan beberapa bisa jadi murid kesayangan guru. Sayangnya, lagi-lagi kalau dipikir sekarang, apakah dengan nilai bagus berarti sudah sebanding dengan kepintaran atau kecerdasan kita sesungguhnya? Sayangnya belum tentu. 
Yang lebih parah, dulu masih diberlakukan pengelompokkan kelas. Siapa yang dapat nilai bagus misalnya masuk kelas A, selanjutnya B, dan seterusnya sesuai tingkat nilainya. Semakin rendah, maka semakin terbelakang pula kelasnya. Kalau sudah begini, bagaimana caranya yang pintar bisa mengajarkan yang kurang, kalau yang kurang justru ditempatkan bersama yang kurang. Dan yang pintar bersama yang pintar. Lah yang pintar makin pintar, yang kurang makin kurang dong. Yeah, tapi begitulah kenyataannya, setidaknya pada zaman saya hal ini masih diterapkan 😟
Makanya, wajar kalau dulu banyak murid yang belajar hanya demi nilai. Atau bahkan tidak belajar tapi bisa menyontek demi mengejar nilai yang bagus. Karena sungguh, nilai buruk itu memang benar-benar menyusahkan. Banyak yang harus diurus kalau nilai kita kurang. Dan momok paling menakutkan adalah tidak lulus sekolah pada puncaknya 😫 Sedih sedih sedih.

Sebab bukan nilai yang utama

Saya tidak tahu apakah di zaman sekarang sekolah-sekolah masih menerapkan nilai ini atau tidak. Harapan saya sih tidak. Dan sepertinya saya juga melihat sekolah-sekolah sekarang sudah banyak kemajuan. Yakni tidak mementingkan nilai dan lebih mengutamakan minat bakat anak. Yes, seharusnya anak dididik memang sesuai minat bakatnya. Anak yang buruk di bidang matematika, bisa jadi lebih bagus di bidang bahasa. Anak yang buruk di bidang IPA, belum tentu buruk pula di bidang olahraga. Kesukaan dan minat setiap anak memang berbeda.
Well, semoga saja pendidikan di negeri kita ini, semakin maju dan semakin baik ke depannya. Karena sebenarnya ada yang lebih utama daripada nilai, yakni pemahaman dalam pembelajaran itu sendiri. Serta akhlak atau adab dalam bergaul. Ya, inilah yang harus diperhatikan. Jangan sampai nilai bagus tapi pemahaman dalam pembelajarannya masih kurang dan tidak sebanding dengan kebaikan akhlak. Naudzubillah 😞 Karena nilai hanyalah angka. Dan angka bisa dimanipulasi dengan banyak hal. Tapi jika akhlak baik yang sudah menjadi karakter, maka kehidupan dalam lingkungan pun akan terselamatkan.
Bagi para orang tua, ini ada tips Agar Anak Semangat Menyambut UAS dari Mak Rizki Damayanti Muhajar. Sebab penting juga supaya orang tua bisa mendampingi anak-anaknya untuk menyambut UAS agar mereka lebih semangat.
Eh tapi sekarang udah liburan ya, nggak apa-apalah buat UAS selanjutnya aja 😁

15 thoughts on “Sebab Bukan Nilai yang Utama”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *