Monday, 31 August 2015

Untukmu yang Masih Berharap Hadirnya Jodoh

Memang benar apa yang dikatakan sebagian besar penulis. Mereka senang menulis bukan semata karena materi, tapi lebih kepada pengaruh dari apa yang mereka tulis. Entah itu bisa menghibur pembacanya, mempengaruhi pembaca sampai bisa membawa perubahan yang positif bagi si pembaca. Sekarang saya pun merasakannya. Setelah postingan soal Jodoh yang Tak Terduga 1 dan 2, mendadak lumayan banyak yang tiba-tiba menghubungi saya secara pribadi. Bukan kata salut mereka yang saya syukuri. Tapi lebih dari itu, mereka bilang tergugah untuk mengikuti jejak saya untuk menyimpan cinta sebelum waktunya (baca: menikah). Masya Allah :')

credit: www.dakwatuna.com
Seperti biasa, niat saya menulis sesungguhnya hanyalah memang untuk menulis dan berbagi. Alih-alih malah sebenarnya tulisan itu saya tujukan untuk teman-teman dekat yang banyak sekali bertanya bagaimana bisa saya 'tahu-tahu' menikah. Ya daripada saya capek jawab satu-satu pertanyaan dan berbagai kehebohan, jadi lebih baik langsung saja saya ceritakan di blog 'kronologi' dari awal sampai akhirnya hehe :)) Makanya tulisan itu berani saya posting di timeline facebook. Dan rupanya, bukan teman dekat saja yang baca, tapi beberapa teman facebook yang belum pernah saya temui pun juga membacanya. 

Yang membuat saya terharu adalah ketika mereka justru mengucapkan terima kasih dan berkata akan berhijrah untuk berhenti pacaran atau tidak akan berpacaran lagi. Bahkan beberapa berani mencurahkan seluruh perasaannya pada saya sampai ada yang berkata memiliki cerita nyaris serupa dengan postingan tersebut. Entahlah, perasaan saya benar-benar tak tergambarkan. Haru yang dalam menyusup di dada saya. Ya Allah, padahal aku tak berharap sejauh ini :') Sekali lagi untuk siapapun yang sudah membaca tulisan itu, saya ucapkan terima kasih banyak :) 

Semua curhatan sudah saya jawab. Sebagian besar mereka berkata ingin mengikuti jejak saya sebelumnya, memantaskan diri sambil tetap berharap dan berdo'a agar 'si dia' menjadi sang jodoh yang lama ditunggu. Saya katakan, tak ada yang salah dengan cara ini. Hanya saja jika memakai cara tersebut, maka kita harus menyiapkan ruang yang SUPER besar jika kenyataan berbeda nantinya. Ya meskipun tak dipungkiri jika sudah terlalu jatuh cinta biasanya agak susah melupakan. Lantas apa yang membuat, toh saya sendiri akhirnya bisa 'mendapatkan' suami? Jika jeli, ada bagian dalam postingan Jodoh Tak Terduga tersebut yang saya tulis, 
Lama kelamaan saya berpikir mau sampai kapan saya berharap seperti itu. Belum lagi jika apa yang saya harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Bagaimana jika suami bukan jodoh saya? Bagaimana jika Allah justru memberi jodoh yang lain untuk suami saya? Dalam kegamangan itu, akhirnya saya putuskan. Oke. Saya akan berhenti untuk berharap. Saya tidak mau kelak saya sakit hati terlalu dalam. Pelan-pelan saya mencoba mengikhlaskan dan melepaskan rasa itu.
See? Mudah? Tentu saja tidak. Sejak cerita bermula tahun 2012 hingga awal 2015 diam-diam saya masih menyimpan rasa itu. Bahkan terkadang saya masih berdo'a dan memohon agar Allah menjodohkan saya dengan dia. Sampai akhirnya, Allah seperti menyentuh hati saya. Dan saya mulai berpikir seperti kutipan di atas. Tenang saja, itu semua berproses kok. Kalau sedang kepikiran, buru-buru dialihkan ke yang lain. Atau menambah kesibukan agar lupa. 

Sejak saat itu pula saya tidak lagi 'ngoyo' untuk cepat menikah. Pokoknya pure saya pasrah total setotal-totalnya sama Allah. Sebab apa? Sebab saya tahu masih banyak kekurangan, yang membuat saya merasa sepertinya belum pantas. Alhasil saya biarkan mengalir saja apa adanya. Padahal saya sempat menulis target di buku harian saya besar-besar,
Ya Allah, izinkan hamba menikah pada tanggal 25 Oktober 2015 dengan Jodoh Dunia Akhirat hamba. Aamiin..
Sudah jelas saat memasuki awal 2015 saya mulai ketar-ketir. Bagaimana jika target saya tidak tercapai? Akan sangat malu pastinya saya dengan diri sendiri. Berapa kali mencoba ta'aruf dengan pria lain namun selalu tidak jadi karena berbagai alasan. Belum lagi bayang-bayang kakak saya belum menikah terus menghantui. Ya sudah pikir saya, pasrahkan saja pada Allah. Lagi pula, saya tidak mau melangkahi kakak saya. Akhirnya do'a pun jadi berubah, 
Ya Allah, aku pasrahkan jodohku pada-Mu. Siapapun kelak, hamba hanya berharap agar dia adalah orang yang mencintai-Mu, rasul-Mu juga orang tuanya (lalu saya menyebutkan beberapa kriteria saya yang lain). Dan berikanlah jodoh yang sholehah lagi baik pada kakak hamba. Aamiin.
Ya sudah secara pelan-pelan rasa mengharap suami adalah jodoh saya memudar. Saya pun tidak galau lagi soal jodoh. Justru saya lebih menikmati hidup, karir dan kuliah. Sembari terus memperbaiki diri bukan hanya karena perkara jodoh, tapi karena saya memang ingin diri menjadi lebih baik. Dan rasanya juga seperti tak ada beban lagi. Ah, Allah memang Maha Baik.

Nah, saya berharap teman-teman semua juga seperti itu. Tidak perlu mengikuti jejak saya dengan terlalu berharap pada seseorang jika memang dirasa dia belum tentu jodoh kita. Cerita saya mungkin hanya akan jadi kemungkinan terkecil untuk terjadi pada yang lainnya juga. Seperti yang saya katakan di postingan sebelumnya, jika kita pasrah total pada Allah, memperbaiki diri murni karena Allah, tanpa berharap lebih, siapa tahu disitulah Allah memainkan peran-Nya. Dan siapa tahu karena Allah melihat kamu tulus dalam memperbaiki diri hanya karena-Nya, justru Allah 'menghadiahkan' dia untukmu :)

Soal ingin cepat menikah, saya pahamlah gimana rasanya hehe. Sebelumnya saya juga kan jomblo yang galau akut. Sudah kepingin punya pasangan halal, pasangan yang bisa jadi imam, teman curhat dan lain-lain (terbukti dari beberapa postingan di blog ini :))) Kalau sudah muncul rasa ini, ya balik lagi ke yang tadi. Dan itu pula yang saya lakukan. PURE pasrah total sama Allah. Semua terserah Allah deh pokoknya. Oh iya, sebenarnya kamu juga masih bisa bikin target (bisa contoh target saya di atas tuh hehe), tapi target itu harus benar diseriusi. Jangan kayak saya sebelumnya, tidak ada rasa-rasa 'the power of kepepet'nya hehe. Alhasil santai saja dan benar-benar menyerahkan hasilnya pada Allah. Mungkin beda kalau serius dan pakai teori the power of kepepet, bisa jadi Allah lebih melihat usaha dan do'amu yang 'maksa' hehe.Target sendiri sebenarnya secara tidak langsung sudah termasuk usaha dan do'a awal.
credit: www.dakwatuna.com
So, pada akhirnya Allah yang memang Maha Tahu kemampuan kita, kepantasan kita. Percaya saja secara total pada Allah, bahwa Allah lebih tahu segala yang terbaik untuk kita. Soal jodoh dan menikah juga kan bukan ajang balapan. Semua akan diberi Allah pada waktu yang memang tepat dan pantas. Insya Allah :)

14 comments:

  1. Waah masyaa Allah....
    Saya sepakat dgn statment inj bhwa menikah itu bukan ajang balapan....
    Sejatinya menikah itu semata2 pure hnya krn the only one, krn Allah...

    Makasiiih ataaas pencerahannya mbaaak.
    Salam kenal dr Muty'.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, sama-sama :)
      Salam kenal juga dari Ade ^_^

      Delete
  2. oohh, menyentuh sekali. cerita ini hampir sama seperti cerita seorang teman. sampai akhirnya ia menemukan jodohnya yang tidak terduga juga. wah, kelak diceritakan kepada anak-anak akan seru kali ya? hehehe...

    ReplyDelete
  3. Mba Ade.. salam kenal yah.. sy Monika... sekarang sy sedang ngrasain 'menunggu jodoh'... dan baca postingan mbak ini adem banget :)

    postingannya menginspirasi bgt mbak... thanks for sharing :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, sama-sama Mbak :) Salam kenal :)

      Delete
  4. postingan ini nyess banget. menjaga perasaan itu sampai ada yang meminang dibutuhkan kesabaran yang luar biasa

    ReplyDelete
  5. Saya termasuk yg terinspirasi sekali dg tulisan mbak ade lho, meski tidak menghubungi secara pribadi :)

    ReplyDelete
  6. Menginspirasi banget..terutama pas kalimat "siapa tahu karena Allah melihat kamu tulus dalam memperbaiki diri hanya karena-Nya, justru Allah 'menghadiahkan' dia untukmu"...
    Thanks mbak :D

    ReplyDelete

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...