Skip to content

Sohibunnisa

Personal & Lifestyle Blog

  • Home
  • About
  • Disclosure
  • Portfolio
  • My Other Blog
  • Toggle search form

Membenci Memberatkan Hidupmu

Posted on Februari 18, 2016Juli 12, 2018 By Ade Delina Putri 15 Komentar pada Membenci Memberatkan Hidupmu
Teman-teman masih ingat kan dengan postingan Delapan Blog yang Pasti Saya Baca? Tidak tahu kenapa postingan ini bisa jadi salah satu diantara 10 postingan paling populer di blog Sohibunnisa. Apa karena banyak yang mencari blog yang direkomendasi, atau karena judul menarik, atau karena yang lain? Entahlah. Hehe tapi sebenarnya saat ini saya tidak ingin bicara tentang itu. Dari 8 daftar blog, pagi ini saya mampir di salah satunya. Halo Terong! Yap, setiap Kamis, biasanya Halo Terong bersama blog Annisast berbicara tentang #SassyThursday. Dan tema #SassyThursday kali ini ialah Haters! Alias pembenci.
Membenci Memberatkan Hidupmu
Saat membaca tema tersebut yang pertama terbayang dalam benak saya bukanlah apa saya pernah menjadi seorang haters, atau tentang beragam haters artis atau orang-orang terkenal. Kalau mereka punya haters sih menurut saya wajar. Ketenaran mereka, segala apa yang mereka lakukan, apa yang mereka kira baik, nyatanya tidak semua dipandang baik oleh orang-orang. Dengan kata lain, ada saja celahnya di mata orang. Tapi saya menyadari, mungkin bukan hanya orang-orang terkenal tersebut yang mempunyai barisan pembenci. Bahkan orang biasa pun pasti punya. Pasti ada. Hanya saja tidak terkekspose atau bahkan jarang diketahui. Dan saya merupakan salah satunya!
Sama sekali tidak pernah terbayang saya akan punya haters. Mengingat dari dulu saya tidak punya musuh apalagi saya memang tipe orang yang paling malas untuk berdebat atau cari musuh. Tapi saat sekolah menengah atas, mungkin saya disuruh belajar. Belajar apa rasanya dibenci. Belajar bagaimana rasanya benar-benar dimusuhi. Ya, meski sampai saat ini saya tidak pernah paham alasan dari kebencian orang tersebut pada saya.
Awalnya saya misuh-misuh. Gerundungan (baca: ngedumel; kesel) sendiri. Apa sih yang membuat kamu membenci saya? Kenapa kamu bisa benci sama saya? Kayaknya saya nggak pernah cari masalah, bahkan menyentuh hidupmu pun tidak. Apalagi mengganggu. Tapi kenapa justru datang-datang kamu yang mengganggu hidup saya lalu kamu bilang kamu yang benci sama saya. Lah??? Saat itu saya kalut sekali. Sebab saya memang tidak pernah tahu mengapa saya bisa dibenci. Apalagi kebenciannya tidak hanya berpengaruh pada saya. Tapi pada hubungan saya dengan salah satu sahabat yang akhirnya menjauh hingga saat ini. 
Ingin rasanya berontak pada dia. Tapi karena saya malas ribut, saya coba tenang. Saya coba mengikuti nasihat orang bijak. Jika kau dibenci, maka balaslah dengan kebaikan. Kemudian saya jadi teringat cerita seorang nenek tua Yahudi yang buta yang benci pada Rasulullah Muhammad SAW. Setiap hari sang nabi menyuapi nenek tua itu, tanpa sang nenek tahu bahwa yang menyuapinya adalah orang yang ia benci. Singkat cerita hingga akhir hayat sang nabi, barulah nenek Yahudi itu tahu bahwa yang menyuapinya selama ini adalah Nabi Muhammad SAW. Masya Allah. Maka belajar dari ini saya coba tetap ramah pada dia. Tanpa mengungkit kebenciannya pada saya. Saya mencoba bersikap biasa saja layaknya saya tidak pernah tahu bahwa saya dibenci. Ah ya, awalnya saya tidak tahu bahwa saya dibenci, tapi sikap dia dan cerita-cerita sahabat saya yang menunjukkan itu. Kenyataannya? Sepertinya sulit mendapat tempat di hati dia. Entahlah. Benar-benar sampai saat ini saya sama sekali tidak paham alasannya. Bahkan sudah berkali-kali saya minta maaf jika saya ada salah pada dia yang tidak disadari 
Berkat bantuan beberapa teman, akhirnya saya sadar. Lebih baik saya menjalani hidup seperti biasanya daripada hanya mengurus satu orang yang membenci dan tidak memberikan manfaat bagi hidup saya. Mungkin saat itu saya hanya shock mengetahui bahwa saya ternyata punya seorang haters. Saya risih sekali saat itu. Meski kalau dipikir-pikir sekarang, justru dialah yang sepertinya paling perhatian pada saya sampai hal-hal terkecil yang ada pada saya. Lucu juga memang.
http://www.buzzquotes.com/haters-quotes-for-facebook-status
Jadi memang benar, sama sekali tidak ada gunanya meladeni (baca: mempedulikan) haters. Toh mungkin mereka hanya iri pada apa yang tidak mereka punya dari kita. Hanya saja mereka sulit atau malu mengungkapkannya. Terlebih gengsi ingin belajar pada kita.
Sebaliknya, menjadi haters? Duh jangan sampai. Karena itu sama sekali akan memberatkan hidupmu. Percaya saja, menjadi seorang haters, pembenci, justru membuatmu menjadi orang yang paling peduli pada kehidupan orang-orang yang kamu benci. Dan itu akan terlihat sangat menyebalkan bagi dirimu sendiri. Apa yang mereka lakukan kau perhatikan. Sedetail mungkin. Hingga kau menemukan setitik kesalahan yang bisa kau gunakan untuk ‘menyerangnya’. Yang kemudian bukan simpati dari orang-orang yang didapatkan, melainkan senyuman orang-orang yang justru kasihan pada dirimu. Hmm. 
Baca: Seharusnya – Sewajarnya
Akhir kata, terima kasih untuk #SassyThursday yang memberi inspirasi saya pagi ini :)) Dan untuk kau yang di sana yang saya tidak tahu apakah saat ini saya masih dibenci, eh diperhatikan hehe atau tidak. Saya ingin minta maaf jika saya memang banyak salah padamu. Perlu kamu tahu, awalnya saya juga membencimu, tapi sejak kemarin-marin hingga saat ini sudah tidak. Tidak sama sekali. Tidak sama sekali ada sedikitpun benci padamu. Mari sekarang kita jalani hidup seperti biasanya. Melegakan hati tanpa menyimpan kebencian pada siapapun. Karena membenci, hanya memberatkan hidupmu. 🙂
Uncategorized Tags:Kontemplasi

Navigasi pos

Previous Post: Sulamit Cosmetics: Kosmetik Aman dan Murah
Next Post: Cara Mudah Mencari Trend Hijab Terbaru Melalui Internet

Related Posts

#BeraksiBersama, Sebuah Pembelajaran dari Gunungan Sampah Uncategorized
Waroeng Mee, Semacam Tempat Nongkrongnya Anak Muda Uncategorized
Mau Ngeblog? Gampang Kok! Ini 9 Langkahnya! Uncategorized
Sesungguhnya Dibalik Nama Ada Do’a Uncategorized
Islam, Cintaku dari Pemahamanku Uncategorized
Aku Ingin Menikah Uncategorized

Comments (15) on “Membenci Memberatkan Hidupmu”

  1. fanny fristhika nila berkata:
    Februari 18, 2016 pukul 4:49 am

    aku ga bisa bilang kalo aku ga punya haters.. pasti ada, dan mungkin kebanyakan dr kalangan kantor.. Apalagi aku biasanya keras kalo udh menyangkut kerjaan… tapi selama ini coba ga peduli ya mba… aku anggab aja, kalo staffnya ga bisa dikasih tau, ya sudah pilihannya kerjain, ato cari aja kerjaan baru..

    nah kalo dr temen sendiri yg kmudian jd hater aku, itu yg rada berat sbnrnya.. baru2 ini aku ngeblock 1 sahabat yg sbnrnya kita udh kenal dr smp.. tp nth kenapa kemarin dia sengaja nyari ribut yg bikin aku jd emosi juga sih.. ntahlah, aku malah jd ngeblock dia, dan ampe skr kita blm komunikasi.. aku sih maafin apa yg dia ucapin, tp jd males utk bisa deket lagi seperti dulu -__- ..

    Balas
    1. adedelina berkata:
      Februari 18, 2016 pukul 5:05 am

      Iya mbak, belajar untuk ga peduli hehe. Wah sampai diblokir ya, kenapa tidak dikomunikasikan saja dulu mbak? 🙂 Apalagi sudah kenal dari SMP, kayaknya sayang banget gitu 🙂

      Balas
  2. nova violita berkata:
    Februari 18, 2016 pukul 5:15 am

    dengan tak mengumbar benci pada orang lain..
    semoga gak ada..yang diam2 membenci saya..he2 , walau pun itu tdk mungkin…karena ga semua orang yang suka sama kita..

    Balas
    1. adedelina berkata:
      Februari 18, 2016 pukul 8:57 am

      Aamiin. Smoga tidak ada yang membenci ya mbak 🙂

      Balas
  3. Kanianingsih berkata:
    Februari 18, 2016 pukul 5:19 am

    makasih mba, judulnya jleb banget. saya sering kena penyakit hati ini dan ga nyaman banget

    Balas
    1. adedelina berkata:
      Februari 18, 2016 pukul 8:58 am

      Sama-sama Mbak 🙂 Hehe iya pasti ga nyaman ya mbak 🙂

      Balas
  4. Kang Zeer El-Watsiy berkata:
    Februari 18, 2016 pukul 5:23 am

    hidup penuh kebencian tidak akan ada ketentraman sama sekali… 😀

    Balas
    1. adedelina berkata:
      Februari 18, 2016 pukul 8:58 am

      Setujuuuu 🙂

      Balas
  5. Besty Utie berkata:
    Februari 18, 2016 pukul 7:33 am

    Wah, iya ya Mbak. Orang biasa pun bisa aja punya haters yah? Saya malah baru ngalamin, meski ngga berani saya sebut mereka haters sih. Cuma emang orang2nya suka nyinyirin aja :)) Kayanya apa yg kita lakuin salah mulu dimata mereka. Yah, haters emang perlu orang buat mereka benci Mbak. Biar hidupnya ada kerjaan aja :)))

    Balas
    1. adedelina berkata:
      Februari 18, 2016 pukul 7:40 am

      Iya, rasanya semua orang punya haters 😀 Hehe "biar ada kerjaan" ya mbak :))

      Balas
  6. Rosalina Susanti berkata:
    Februari 19, 2016 pukul 5:20 am

    setuju mbak, membenci tuh blas ga ada untungnya…

    Balas
    1. adedelina berkata:
      Februari 19, 2016 pukul 9:08 am

      Betul 🙂

      Balas
  7. Nur Susianti berkata:
    Februari 18, 2016 pukul 10:44 pm

    Kadang suka ga habis pikir kalau baca koment2 para haters di IG artis, sebegitukah kebencian mereka? setuju mba, membenci orang itu bikin berat hidup ya 🙂

    Balas
    1. adedelina berkata:
      Februari 19, 2016 pukul 12:07 am

      Hihi gatau deh 😀 iya bikin hidup tambah ruwet 😀

      Balas
  8. Ping-balik: Memilih Menjadi Orang yang Biasa-biasa Saja | Sohibunnisa

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter

Archive

Popular Posts

  • 5 Hal yang Tidak Akan Saya Lakukan di Dunia Ini (Versi Ade)
  • Tentang Film Joker dan Tahu Kapasitas Diri Sendiri
  • Buatku Menulis itu….
  • Karena Berbisnis/Berwirausaha Kita Belajar Kehidupan
  • Karena Saya Suka

Category

  • #BPN30DayChallenge2018
  • #GakPaham
  • #LoQLC
  • #ODOPISB
  • Beauty
  • Blog
  • Event
  • Film
  • Food
  • Kontemplasi
  • Kontes
  • Media Sosial
  • Menulis
  • My Story
  • ODOP
  • Review
  • Tekno
  • Tips
  • Traveling
  • Uncategorized

Search

Copyright © 2026 Sohibunnisa.

Powered by PressBook Masonry Blogs