Tak Kesampaian Waktu Kecil, Tapi Ternyata Rencana Allah Lebih Indah

Pernah ada pertanyaan, “Kalau seandainya kamu kembali lagi ke masa lalu, kamu mau nggak?”

Dulu-dulu mungkin akan saya jawab, “Mau.” Ya namanya manusia, walau kodratnya pernah berbuat kesalahan, tapi pasti ada rasa-rasa ingin memperbaiki semuanya. Kayak seakan kalau kita kembali ke masa lalu kita bisa membuat semuanya menjadi lebih baik.

Kehidupan sekaranglah yang terbaik untuk kita

Tapi setelah dewasa sekarang, saya justru mikir, bahwa kehidupan sekaranglah yang sudah paling baik. Apa-apa yang kita alami saat ini mungkin hal yang kita tuai dari apa yang kita tanam di masa lalu. Tapi ternyata itulah yang terbaik. Tentu saja terbaik versi-Nya. Sebab manusia memang serba terbatas pandangannya. Jadi jika pun masa-masa saat ini menurut kita belum baik, tapi bisa jadi itu hanya persepsi kita sebagai manusia. Bukan menurut Allah SWT.

Jadi sama yang pernah saya tulis di postingan Ya, Udah, Udah Begini Jalannya.

Kita nggak bisa membalikkan waktu. Kita nggak bisa mempermainkan keadaan yang di luar kuasa kita. Yang bisa kita lakukan cuma saat ini. Berubah menjadi lebih baik untuk masa ke depannya.

Yes, yang kita punya ya sebetulnya CUMA SAAT INI. Masa-masa kemarin sudah lewat. Apa lagi masa-masa yang sudah lama. Jelas sudah tidak bisa dikembalikan lagi. Makanya benarlah kalau ada kalimat, “Waktu itu sungguh berharga.” Karena pada kenyataannya kita memang tidak bisa bermain-main dengan waktu. Sebab waktu melesat begitu cepat di luar kendali kita.

Kalau lagi merenung, sebetulnya saya sendiri bersyukur dengan kehidupan yang saya miliki sekarang. Mungkin saya sedih karena jauh dari orang tua. Tapi saya punya suami dan anak-anak, juga keluarga baru saya a.k.a keluarga suami yang sayang dan peduli pada saya. Belum lagi bisa tinggal di kota yang baru buat saya. Bisa tinggal di rumah yang nyaman.

Banyak keinginan waktu kecil yang belum kesampaian

Saya ingat sekali, dulu waktu kecil banyak keinginan yang belum bisa kesampaian. Saya ingin makan di restoran. Saya ingin naik pesawat. Saya ingin ikut kegiatan-kegiatan yang saya inginkan. Saya ingin pergi ke tempat-tempat yang saya dambakan.

Tapi waktu itu saya sadar, bahwa orang tua saya bukan orang tua yang kaya raya. Hidup kami kala itu masih serba terbatas. Bahkan waktu SD saja saya pernah tidak ikut tur karena orang tua sedang tidak ada uang. Betapa sedihnya saat keesokannya teman-teman saling bercerita tentang kejadian saat mereka pergi tur.

Saya juga menerima kalau kala itu saya memang tidak bisa ikut kegiatan yang saya inginkan. Misalnya saja les melukis waktu TK. Lagi-lagi karena orang tua tidak ada uang. Tidak bisa ikut bimbel di tempat yang keren seperti teman-teman saya. Pernah waktu SD saya dapat les gratis di suatu tempat kursus bahasa Inggris. Tapi hari selanjutnya saya tidak mau datang lagi karena malu dengan penampilan saya yang biasa-biasa saja. Sementara teman-teman di sana penampilannya bagus-bagus dan terlihat seperti orang kaya.

Saya juga pernah kecewa saat study tour SMP ke museum transportasi dan ada pesawat. Saya kira ketika kami disuruh naik, kami akan jalan. Betapa senangnya saya kalau saat itu pesawat benar-benar jalan. Tapi ternyata kami hanya mencoba naik saja. Sebab pesawatnya memang hanya untuk dipamerkan.

Beberapa kali masuk mall juga, saya dan keluarga tidak makan di dalam mall. Melainkan ke luar mall dan makan di warung-warung pinggiran.

Masya Allah kalau diingat betapa manis sekali. Walau dulu begitu, tapi Alhamdulillah saya tidak tumbuh menjadi anak yang ambekkan. Saya menerima bahwa memang saat itu orang tua saya belum mampu.

Rencana-Nya seringkali lebih indah

Dan benar saja, balasannya justru saat saya sudah dewasa. Saya bisa makan di dalam mall. Saya bisa pergi ke tempat yang saya inginkan karena sudah punya uang. Saya bisa ikut kegiatan yang saya mau karena disupport suami. Saya bahkan sudah bolak-balik naik pesawat dari Surabaya ke Jakarta kalau mau pulang ke Bekasi.

Memang benar, bahwa sebetulnya semua ada waktunya. Kuncinya hanya Sabar, Everything Has A Clock! Kalau tidak sekarang, mungkin nanti. Mungkin bukan sekarang waktu terbaiknya, tapi nanti.

Dan saya belajar sekali bahwa sepertinya jika sesuatu makin dikejar, dia akan semakin jauh. Tapi ketika kita sudah pasrah dan bertawakkal, sesuatu itu justru akan mendekat. Entah bagaimana mekanismenya, hanya Allah yang Maha Tahu.

Saya pun semakin yakin sekarang, bahwa sebenarnya hidup kita sudah diatur dengan sebaik-baiknya. Maka tak perlu juga kita ragu. Sebab selama keyakinan kita pada Allah SWT masih baik, insya Allah hidup kita pun akan diatur dengan baik. Dan seringkali malah lebih indah dari keinginan dan rencana kita sebelumnya 🙂

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, Bookish,

Leave a Reply

Your email address will not be published.