Kemarin-marin saya nonton drama Korea Full House. Entah udah berapa ribu kali saya nonton drama ini. Satu-satunya drama Korea yang nggak ngeboseninlah buat saya 😂 Bukan drama yang fokus cerita tentang keluarga sih, tapi kayaknya lebih masuk ke genre komedi-romantis yang ringan. Iya saya lagi males nonton yang berat-berat. Pengen nonton yang lain, kok nggak ada yang sreg gitu di hati 🙈
Ini mau ngomongin apaan sih sebenernya? 😂

Tertekan >> depresi

Jadi gini lho, kemarin itu saya kepikiran dari salah satu scene. Ceritanya si tokoh utama pria, yang berprofesi sebagai artis, sangat tertekan karena skandal-skandal hubungan percintaannya yang dibuat media massa. Dia sendiri sebenernya sudah tertekan, tapi managernya semakin menekannya dengan mempertanyakan skandal-skandal itu. Hal itulah yang membuat sang artis pria ini terlihat semakin stress. Akhirnya dia memutuskan menikah dengan tokoh utama wanita secara kontrak untuk ‘membungkam’ media. 
via Pixabay
Itu memang cuma fiksi sih. Tapi dari situ saya jadi mikir, apa ternyata kehidupan artis begitu ya? *anaknya pemikir* Seenggaknya saya jadi ngerti, kenapa banyak artis yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Bisa saja hidup mereka sendiri sudah tertekan dengan skandal dari media. Tapi ditambah tekanan-tekanan dari orang-orang terdekat mereka, maka semakin membuat mereka stress, dan akhirnya mereka merasa tidak punya jalan lain selain ya… bunuh diri hiks. 
Saya jadi ingat tulisan saya di Celoteh Bunda yang judulnya Saat Kita Tidak Mengerti Apa-apa. Meskipun bukan tentang artis, tapi kejadiannya kurang lebih sama. Mungkin kita juga pernah mengalami. Saat kita terlihat salah, atau sudah merasa diri salah, tapi orang-orang  sekitar malah menekan kita dengan semakin menegaskan kesalahan-kesalahan kita.

Yang sebenarnya itu nggak perlu terjadi. Karena tanpa disalahkan pun, perasaan bersalah itu PASTI akan dengan sendirinya muncul di dalam diri kita. Ditambah kalau penghakiman-penghakiman itu datang dari orang yang istilahnya nggak tahu apa-apa, duh makin jadi deh betapa jengkelnya kita. Pada puncaknya, bisa saja karena penghakiman atau tekanan yang datang terus menerus itu membuat kita jadi depresi. Naudzubillah. 

Kelihatannya serem ya. Tapi itulah faktanya. Saat manusia sudah tidak kuat lagi menahan tekanan, bahkan merasa tidak ada lagi yang bisa menjadi sandaran, mereka akan jadi putus asa. Istilah kasarnya, “buat apalagi gue hidup? Toh orang nggak ada yang peduli sama gue.”
Subhanallah. Benar-benar bisa menyakitkan separah itu ya. 
Saya nggak tahu apakah dari ilmu psikologi benar seperti itu atau tidak. Tapi setidaknya kita bisa mengambil sedikit hikmah dari kejadian-kejadian seperti itu. 

Bahagia dari hati dan pikiran

Dan terakhir, memang benar bahwa apapun jabatannya, berapa banyak pun hartanya, tidak ada yang menjamin kebahagiaan. Semuanya tidak seindah yang kita lihat. Yah, karena kebahagiaan datangnya dari hati dan pikiran. Yang itu artinya, hanya diri kita sendiri yang tahu, apakah kita bahagia atau tidak 😊

5 thoughts on “Tekanan dan Depresi”

  1. Ujung-ujungnya semua berasal dari hati dan pikiran kita ya mbak mau menyikapinya seperti apa. Kadang suka miris liat berita remaja yang semakin kesini mudah putus asa karena depresi dan memilih jalan pintas seperti bunuh diri.

  2. Saya juga pernah merasa tertekan. Mengarah ke depresi, mungkin. Biasanya saya nangis *tanpa guling-guling. Trus ngopi, trus merenung. Nggak butu waktu lama, biasanya balik lagi je alamnya *ehh.

    Intinya sih kembali ke diri sendiri. Mau terus tenggelam dalam duka, atau segera bangkit dan memperbaiki diri 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *