Wednesday, 8 November 2017

Saring Sebelum Sharing

Zaman now teknologi udah canggih bangetlah ya. Bikin arus informasi mudah banget untuk masuk. Dan akhirnya bikin kita jadi kayak kebanjiran informasi. Saking banjirnya, kadang jadi nggak kesaring lagi mana yang hoax, mana yang benar *eh. Mana yang penting, mana yang tidak. Mana yang sebenarnya layak dikomen dan dishare, mana yang tidak. Ya semacam itulah.

Kalau kata suami, "too much information, will kill you!"
via Pixabay
Eh bener nggak sih?

Kalau saya meyakini kayaknya ada benarnya juga. Buktinya, gara-gara banyaknya informasi yang saya terima, nggak jarang bikin saya jadi riweuh sendiri. Malah sekali dua kali jadi debat sama suami karena maunya suami, saya bisa menyaring informasi. Mana yang layak diterapkan, dan mana yang tidak. *Eh kok ini jadi curhat?

Samarnya informasi kini.

Sebenarnya ini semacam kontemplasi saya aja sih *halah. Makin kesini kok kayaknya informasi itu semakin abu-abu ya. Seperti yang di awal saya tadi bilang, mungkin kita ini udah kebanjiran informasi. 

Sering saya menemukan sharingan di media sosial terutama, hal-hal yang kayak nggak guna buat dishare. Maksudnya bukan postingan personal ya, kalau itu sih terserah deh. Tapi ini semacam berita-berita yang sebenarnya nggak enak dilihat, nggak pantas dilihat, dan nggak perlu dilihat/dibaca, tapi dishare! 

Katanya biar orang tahu, tapi buat apa? Mencerahkan? Saya rasa nggak juga. 

Gini deh, misal ada kecelakaan, lalu ada orang yang boro-boro nolongin malah foto korbannya yang keadaannya sangat mengenaskan. Lalu dishare tanpa diblur! Duh, apa gunanya sih ya? 
Kalau memang dia mau memberi informasi pada orang bukankah cukup dengan memberikan info kecelakaan dimana, jam berapa, siapa nama korbannya (tanpa memajang foto lho ya)? 
Nggak perlu kan ya sebenarnya foto itu? KECUALI, jika ada yang minta. Itu pun lebih etiknya lewat jaringan pribadi aja. Nggak perlu dipublish secara nasional bahkan internasional.

Atau lagi, hal-hal yang sebenarnya terlarang, tapi dishare. Niatnya sih mencerahkan, tapi karena dikasih tahu langkah-langkahnya, orang yang tadinya sebenarnya nggak tahu, jadi tahu. Dan yang lebih parah - bukan nggak mungkin ada orang yang nggak bertanggung jawab justru memanfaatkannya sebagai tindak kejahatan. 
Mikirnya kejauhan? Bisa jadi. Tapi semua serba mungkin kan di zaman now.

Mau bilang nggak sengaja begitu. Kayaknya nggak bisa juga ya. Nggak mungkin lah ada setan yang tiba-tiba pake gadget kita buat ngeshare postingan orang lain hehe. Mungkin maksudnya bukan nggak sengaja kali ya, tapi lebih ke "nggak maksud" buruk. Nah, maka di sinilah pentingnya kita untuk berpikir panjang sebelum berbagi sesuatu 🙈

Saring, saring, saring sebelum sharing.

Well, ya akhirnya memang kembali lagi ke diri kita sendiri. Kita tidak bisa mengatur orang lain. Jadi kitalah yang harus bisa menyaring segala sesuatunya sendiri. Kitalah yang bisa memilah mana yang penting, mana yang tidak. Toh kita udah sama-sama dewasa kan.

Cuma satu aja dari saya pribadi dan sebagai pengingat diri. Apapun yang hendak dishare, baiknya kita pikirkan dulu apa faedahnya. Penting atau tidak. Pantas atau tidak. Dan layak dilihat/dibaca atau tidak 😎

Oke, salam damai dari penggiat dan pemerhati media sosial 🙈

16 comments:

  1. Sip. Setuju deh. Sebaiknya berita (terutama yg buruk) tidak langsung disebar begitu saja. Konsul dulu ke yg lbh berwenang atau ahli utk memutuskan atauvmalah bisa kasi solusi yg lbh baik jd kalaupun dianggap perlu uyk disebarkan ya berikut solusinya

    ReplyDelete
  2. sepakat dengan judunya mak, jadi lebih mawas diri juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mak zaman sekarang ngeri kalo nggak hati-hati :(

      Delete
  3. "Apapun yang hendak dishare, baiknya kita pikirkan dulu apa faedahnya. Penting atau tidak. Pantas atau tidak. Dan layak dilihat/dibaca atau tidak" setuju banget nih mbak, ya emang di zaman now ini kita sering kebanjiran informasi sampai tak tanggung2 info2 yang gaje dan gak penting juga ikut dishare tanpa disaring dan dipilah pilih lebih dulu, mana yang baik dan mana yang tidak untuk dishare.

    Btw saya juga paling nggak suka liat orang yg share foto korban kecelakaan, yang berdarah2 dsj, langsung saya sembunyikan dari kronologi, hehe emang saya suka ngeri dan bergidik lihat foto yang begituan yg menurut saya sama dengan mbak, nggak layak untuk disebarin.

    ReplyDelete
  4. Dan saya suka heran kalau ada yang "nerusin" boradcast di group WA tanpa membaca dulu pesannya

    ReplyDelete
  5. Bener banget mbak. Sebagai orang yang melek literasi, harusnya kita bisa lebih menyaring informasi yang diterima, dan memfilter ulang informasi yang disebarkan harus dipikirin juga siapa yang akan menerima informasi yang kita shared di media sosial. Karena ada anak, remaja yang menjadi teman kita di media sosial. Itu menjadi pertimbangan yang utama. Bukannya kita memberi informasi yang benar, malah mengajari mereka sesuatu yang salah. Bijak bijak dalam menerima dan menyebar informasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu, apalagi kalau kita juga berteman dengan remaja dan anak-anak duh harus disaring banget deh :(

      Delete
  6. Benar mbak sekarang sering memusingkan membedakan berita yag fakta, hanya opini atau hanya hoax, Harus pandai menganalisis informasi memang, saring sebelum sharing

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas. Harusnya kalau nggak tahu fakta atau bukan, jangan dishare dulu ya :)

      Delete
  7. yang paling sering orang cuman baca judul lalu klik share, dan biasanya ini sampe viral... duh, scroll timeline langsung hide aja hehe

    ReplyDelete
  8. Saring, ya wajib banget ya buat blogger. Ga asal asalan berbagi informasi gitu. paling males emang kalo ada yang bagi postingan tapi soal kecelakaan gitu. Apa ndak kasihan sama korbannya.

    ReplyDelete

Komentar yang hanya berbunyi "artikelnya bagus", "artikelnya keren", dan sejenisnya, akan saya anggap spam. Dan mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Setiap spam akan dihapus.
So, Thank you for not comment out of topic.