Ngomongin Grup WhatsApp, Yuk!

Saya pernah jadi orang yang misuh-misuh karena ada orang yang gabung dalam grup WhatsApp, tapi cuma silent reader aja. Alias nggak pernah nongol sama sekali. Padahal udah baca chat. Pikir saya, ngapain juga sih ni orang gabung di grup. Tapi kok nggak pernah ikutan nimbrung sama sekali?

Ndilalah, setelah kian hari semakin menyibukkan diri, akhirnya saya tahu kenapa ada orang yang tidak pernah muncul di chat. Jawabannya ya karena setiap orang punya kesibukan yang berbeda. Dia mungkin gabung dalam grup hanya untuk mengambil ilmunya saja. Tapi perkara dia tidak aktif ikut ngobrol atau haha hihi, bisa jadi karena dia memang punya kesibukan yang lain yang bahkan tidak bisa ditinggalkan. Urusan kantor, rumah dan anak misalnya(?)

Jadi sekarang, saya udah maklum kalau memang ada orang yang tidak bisa aktif di chat. Saya pribadi pun begitu. Nggak bisa setiap saat mantengin grup. Baca chat yang ratusan. Apalagi grup WhatsApp saya banyak 🙈 Ada grup yang memang tidak terlalu butuh tanggapan saya. Ada yang memang saya merasa belum butuh. Atau karena ya emang nggak pengen ikut ngobrol aja karena merasa tidak terlalu penting.

Aturan gabung di grup WhatsApp versi Ade

Meski begitu, saya selalu berusaha untuk:

Ikut nimbrung sesekali sebagai tanda keanggotaan

Kalau saya sudah memutuskan untuk ikut masuk dalam grup, itu artinya karena saya memang kepingin bergabung. Jadi sesekali saya pasti berusaha untuk memunculkan diri. Kalau lagi senggang, saya bisa ikut ngobrol sama mereka. Meskipun hanya haha hihi ngalor ngidul aja. Biar kesannya ya nggak kaku-kaku banget. Muncul hanya ketika ada butuh atau ada job aja misalnya. Kesannya kayak muncul kalau lagi ada maunya doang. Dan saya nggak mau seperti itu.

Saya juga berusaha untuk muncul kalau misal ada yang nanya dan saya tahu jawabannya. Ini berguna agar anggota grup yang lain juga tahu keberadaan saya dalam grup WhatsApp tersebut. Saya aja merasa horor kalau ada orang yang tidak pernah muncul, tapi sekalinya ada tawaran yang menggiurkan langsung mengerubung 🙈

Tidak terlalu aktif tidak apa-apa

Saya nggak maksain harus menjadi orang paling aktif di semua grup. Karena ada beberapa yang memang saya ngerasa nggak butuh untuk aktif banget di sana. Ya itu tadi, saya hanya berusaha untuk sesekali ikutan nimbrung supaya tanda keanggotaan saya masih terasa. Tidak dianggap makhluk gaib gitu hehe.

Tidak sebar hoax

Saya berusaha banget untuk nggak gampang membagikan berita di grup. Kecuali grup itu memang orang-orang terdekat saya (ini pun dipilih banget yang kayak gimana beritanya). Tapi kalau grup yang saya tidak aktif, saya lebih milih main aman. Karena saya nggak mau dituduh tukang menyebarkan berita apalagi belum bisa dipastikan kebenarannya. Apalagi kalau saya jarang muncul. Sekalinya muncul lalu sebar hoax, itu kan nggak lucu.

via Pixabay

Tidak berdebat

Saya paling tidak suka berdebat. Di dalam grup atau media sosial pun saya tidak suka berdebat. Jadi seringkali saya menghindari sesuatu yang sekiranya akan jadi perdebatan. Kadang, bukan saya merasa salah. Bukan juga tidak ingin meluruskan yang salah. Tapi buat saya mempertahankan pendapat pada orang yang keukeuh tidak mau mendengarkan pendapat saya dan hanya mempertahankan pendapatnya sendiri, ya buat apa juga. Rasanya buang-buang waktu aja sih. So, mending go away ajalah 😁

Baca: I’m Plegmatis?

Minta maaf kalau harus Out of Topic

Kadang kesal sih kalau lagi pada ngobrol, trus tiba-tiba ada yang muncul dengan keluar dari topik utama. Makanya, kalau saya lagi kepepet, dan mau tanya dalam grup, saya harus minta maaf banget kalau mau OOT. Dan berusaha untuk membuka dengan “Boleh nanya nggak?” Kalau dipersilakan, baru saya lanjut. Kalau nggak ada yang menanggapi, ya sudah artinya memang teman-teman yang lain sedang asyik berbincang yang lain.

Kalau mau left bilang

Sekiranya saya merasa tidak butuh atau tidak cocok dengan grup itu lagi, saya lebih memilih untuk keluar aja. Daripada saya nggak pernah nimbrung sama sekali, atau tidak suka, itu malu-maluin buat diri saya sendiri kalau maksa bertahan. Jadi saya pasti akan bilang, kalau saya mau keluar dengan mengucapkan terima kasih.

Lumrah kalau grup WhatsApp tidak seperti yang kita inginkan

Yaks, kira-kira begitu. Intinya adalah bahwa dalam grup WhatsApp atau grup apapunlah pasti akan ada orang-orang yang tidak bisa selalu aktif. Silent reader atau tidak pernah muncul. Tiba-tiba keluar dari topik. Ada yang sebar hoax. Keukeuh mempertahankan pendapatnya sendiri. Ada juga yang main keluar tanpa bilang apa-apa. Its oke, nggak apa-apa. Itu udah LUMRAH BANGET.

Jadi nggak perlu juga kita misuh-misuh. Marah-marah karena ada orang-orang seperti di atas. Karena biar bagaimana pun, kita nggak bisa maksa. Mau segigih apapun kita berusaha, akan selalu ada orang yang tidak sepemikiran dengan kita 😊 Barangkali ada yang sibuk, kepepet, atau mungkin hp nya rusak. Dan alasan-alasan lain yang bisa jadi tidak kita ketahui.

So, life must go on. Yang penting kita mengatur diri sendiri aja untuk berperilaku sebagaimana kita ingin diperlakukan 😊

Nah, kalau teman-teman punya peraturan gabung di grup WhatsApp ala kamu sendiri nggak? Atau mau sharing yang lain tentang grup WhatsApp? Boleh banget 😊

Ade Delina Putri

Blogger, Stay at Home Mom, Bookish,

18 comments to “Ngomongin Grup WhatsApp, Yuk!”

You can leave a reply or Trackback this post.
  1. Tetty Hermawati - Agustus 8, 2018 Balas

    Aku kadang tergantung grupnya, kalau emang obrolannya menarik suka nimbrung, kalau cuma haha hihi aja kadang baca aja atau skip

    • Ade Delina Putri - Agustus 8, 2018 Balas

      Iya Mbak. Aku juga tergantung grupnya kadang

  2. Rohyati Sofjan - Agustus 8, 2018 Balas

    Saya cuma ikut 2 group alumni sekolah dan sejarah lokal. Lebih personal. Cuma saya tak selalu ikut nimbrung, sesekali jika sempat karena lebih sibuk pegang komputer daripada ponsel. Ponsel juga cuma jadi hotspot portabel.
    Group alumni lebih ringan karena sekadar kabar dan ha ha-hi hi. Group sejarah lokal tempat saya lebih berat karena bahas mengenai sejarah dan budaya, serta terkadang bahas politik yang masih berkaitan dengan sejarah. Yang bicara kebanyakan ahlinya jadi saya cuma baca dan simak saja. Dulu komen sekarang malah belum tahu harus komen apa, he he.
    Saya malas ikut banyak group, ilmu lebih banyak didapat di FB, blog, dan situs lain. Masalahnya saya repot jika harus simak chat dan hapus hal tak perlu secara rutin.
    Dengan teman sendiri saja jarang ngobrol di WA, itu kalau senggang dan ada perlu benar. Jadi, saya ini bukan orang yang suka iseng-isengan karena tak punya banyak waktu. Ada banyak buku yang harus dibaca daripada obrolan di WAG.

    • Ade Delina Putri - Agustus 8, 2018 Balas

      Salut untuk bisa seperti itu hehe. Aku sendiri masih merasa butuh gabung di grup. Karena ya ibaratnya WhatsApp itu ajang buat cari temen. Secara sekarang kebanyakan di rumah haha

  3. Reyne Raea - Agustus 8, 2018 Balas

    Kayaknya cuman saya ya yang cuman punya beberapa grup chat di WA hehehe.

    Mungkin karena teman saya dikit kali ya, tapi emang bener sih, saya juga kadang jarang ikutan ngobrol di grup.

    Alasan utama, rempong ama anak.
    Yang kedua, lebih suka mantengin blog ketimbang ngobrol gaje.
    Makanya, grup2 gaje saya mute semua.
    Seadanya waktu saja saya buka hahaha

    • Ade Delina Putri - Agustus 8, 2018 Balas

      Nah kan apalagi udah jadi ibu ya. Lebih banyak kesibukan lain lagi 🙂

  4. Fanny F Nila - Agustus 8, 2018 Balas

    Jujurnya aku ga begitu suka gabung di suatu grub WA, apalagi kalo kenyataannya aku kdg ikut hanya karena ga enak ama yg ngajak. Tp selama iai grubnya bgus, aku msh bertahan dan seringnya jd silent reader. Tapiiiii kalo suatu grub itu mulai ga kondusif, suka nyebar hoax dan link fitnah, aku lbh milih kluar sih mba. Takut ketularan jadi julid :p. So far, grub di mana aku aktif hanya grub kantor. Krn memang membahas masalah kantor 🙂 .

    • Ade Delina Putri - Agustus 8, 2018 Balas

      Iya kalo grup udah bikin kita nggak nyaman, better ya keluar aja 🙂

  5. Sumayyah Tsabitah - Agustus 8, 2018 Balas

    Mbak, aku sering jadi silent reader, nimbrung sekali2 aja… Sebenernya bahkan belum tentu ku baca, jadi cuma dibuka buat ngilangin notifnya aja walau sudah di mute, ngeselin yakkk, ampunnnn heheheh… Makanya jadi keliatannya ngebaca, padahal ngga discroll dan dibacain satu2…

    Trus kenapa ga keluar? Karena itu grup keluarga besar mertuaa

    • Ade Delina Putri - Agustus 9, 2018 Balas

      Dilema ya kalo grup keluarga. Mau bertahan ga enak, mau keluar pun sungkan hehe. I feel you deh 😀

  6. Lusi - Agustus 9, 2018 Balas

    Hihiihi baru aja mau ngomel di medsos tapi nggak jadi, ntar ada yg tersinggung. Masalahnya adalah aku ditarik ke WAG alumni. Aku pikir it’s oke buat silaturahmi. Aku sendiri termasuk jarang ngobrol meski masih muncul. Prinsipku, selama bukan aku yg apply utk masuk group tsb, aku berhak nggak ngapa2in, termasuk berhak keluar kapan aja. Lalu tiba2 diputuskan ada arisan & iuran. Nggak banyak sih, tapi aku nggak suka ada kewajiban yg berhubungan dg duit karena pada akhirnya urusan group akan berkisar pada tagih menagih. Sebalnya lagi, yg belum bayar iuran ditagih japri. Yg tadinya mau silaturahmi kok jadinya malah punya hutang? Wkwkwkkw. Kayaknya aku mau keluar aja. Sorry jadi numpang curhat, mumpung pas urusan WAG.

    • Ade Delina Putri - Agustus 9, 2018 Balas

      Hihi gapapa Mak 😀 Tumpahkan aja :))
      Kalo terpaksa dan ga enak ya emang better keluar aja. Daripada gondok sendiri 😀

  7. untari - Agustus 9, 2018 Balas

    grup paling gaje kadang malah grup sekolah anak. ga ngerti kok masih hobi nyebarin hoax loh ya. heran eke deh

    • Ade Delina Putri - Agustus 9, 2018 Balas

      Kalo ibu-ibu malah udah nggak asing Mbak. Entahlah yang kebanyakan termakan hoax kok kaum hawa 🙁

  8. Rania Fardyani - Agustus 11, 2018 Balas

    Saya termasuk yang jadi silent reader di mostly WAG
    Pernah notif sampe 1000an chat saya biarin karena grup panitia acara saat itu lagi debat panas tapi ga ada hubungannya sama bagian saya *jangan ditiru*

    Tapi klo ada yang nanya di grup dan saya tau jawabannya bakalan saya jawab ko

    • Ade Delina Putri - Agustus 11, 2018 Balas

      Mending gitu ya. Kalo emang lagi dibutuhin aja. Kadang males juga kl terlalu banyak perbincangan hihi

  9. Heni Puspita - Agustus 14, 2018 Balas

    Memang ada si 1-2 orang yang hobi debat di WAG. Suka lempar topik yang memicu debat misalnya ttg vaksinasi. Kdg ada teman nanggapi krn niatnya supaya yg lain ga salah paham, kebulan yg menanggapi itu dokter n apoteker. Cm yah keliatannya termasuk dari topik yg sudah2, macam cm mau debat n menjelek2an prog pemerintah aja, jd ya cuekin aja hehe.

    • Ade Delina Putri - Agustus 14, 2018 Balas

      Iya kalo ada yang debat mah ga usah ikut-ikutan ya. Bikin tambah panas diri aja nanti haha

Leave a Reply

Your email address will not be published.